Skip to content

ga yakin bumi, adro yakin utang, indika fifty:fifty … : 061009

Oktober 6, 2009

Selasa, 06/10/2009 08:23 WIB

Cermati BUMI, INDY, TLKM, ADRO, BLTA, BTPN, BBNI

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Harga saham sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini setidaknya akan terpengaruh kondisi keuangan, aksi korporasi maupun berita-berita seputar perusahaan seperti BUMI, INDY, TLKM, ADRO, ADHI, BLTA, OKAS, BTPN, dan BBNI.

Harian Bisnis Indonesia pada edisi hari ini, Selasa, 6 Oktober 2009 memberitakan kesembilan emiten yakni:

Percepatan pembayaran akuisisi tiga perusahaan yang bergerak di sektor batu bara senilai US$500 juta atau setara dengan Rp5 triliun oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada bulan ini bisa memicu polemik.

Dalam laporan Macquarie Research Equities yang dirilis 30 September, analis Adam Worthington dan Albert Saputro mengungkapkan tiga perusahaan itu, PT Darma Henwa Tbk (Dewa), PT Fajar Bumi Sakti (FBS), dan PT Pendopo Energi Batubara, harus memenuhi beberapa syarat sebelum Bumi melunasi pembayaran akuisisi.

“Kami mengerti bahwa Bumi [di bawah perjanjian dengan CIC] akan melunasi akuisisi lebih cepat. Namun, kami tidak percaya ketiga perusahaan itu bisa memenuhi syarat sebelum dilunasi. Pasar akan melihat hal itu sebagai kejadian kontroversial jika harga akuisisi tidak dinegosiasikan untuk dipangkas,” tutur mereka dalam laporan riset itu.

Saat membeli saham Dewa, FBS, dan Pendopo, Bumi melalui anak usahanya PT Bumi Resources Investment, menetapkan beberapa syarat sebelum dilunasi.

Direktur Utama Bumi Ari Saptari Hudaya mengatakan syarat tersebut tetap ada. “Produksi itu harus terjaga dari segala segi. Pembayaran dipercepat atau tidak, tidak ada hubungannya dengan produksi. Kalau mereka [manajemen tiga perusahaan itu] tidak mencapai, tinggal diganti,” ujarnya belum lama ini.

Menurut dia, Bumi akan melunasi total biaya akuisisi US$500 juta pada bulan ini setelah mengantongi dana pinjaman US$1,9 miliar atau setara dengan Rp19 triliun dari China Investment Corporation (CIC). “Dana dari CIC ditarik pekan ini [pekan lalu] hingga pekan depan [pekan ini].”

Hingga akhir Juni tahun ini, Bumi Investment telah membayar senilai total Rp1 triliun atas akuisisi Dewa, FBS, dan Pendopo. Selain mempercepat pelunasan akuisisi, Bumi juga berencana melunasi seluruh utangnya senilai US$1,12 miliar.

Pemilik PT Berau Coal Rizal Risjad sedang bernegosiasi akhir mengenai harga penawaran dengan PT Indika Energy Tbk (INDY) sebagai kelanjutan dari proses sebelumnya.

Manajemen PT Quattro Inti Investama, perusahaan yang digunakan oleh pengusaha asal Surabaya Kentjana Widjaja untuk membeli 90% saham Berau, malah mengaku belum menerima pemberitahuan lanjutan dari Berau.

Senasib dengan Quattro, PT Indo Tambangraya Megah Tbk dan PT Recapital Advisors juga masih menunggu hasil dari penyampaian harga penawaran beberapa waktu lalu.

Eksekutif yang mengetahui informasi itu mengatakan dari empat calon pembeli Berau yang menyampaikan harga penawaran yang mengikat, sejauh ini pemilik Berau Rizal masih intensif bernegosiasi dengan manajamen Indika. “Itu bisa berubah. Semua bergantung pada keinginan Rizal Risjad. Jika negosiasi lanjutan dengan Indika dan calon pembeli lain gagal mencapai titik temu, mungkin Berau di-IPO [penawaran umum perdana],” ujarnya.

Empat calon pembeli Berau yang menyampaikan harga penawaran adalah Indika, Quattro Investama, Indo Tambang, unit perusahaan batu bara Thailand, Banpu Plc, dan Recapital Advisors.

Indika membentuk konsorsium dengan Korea Electric Power Corporation (Kepco) dan Capital Goup Companies, sedangkan Quattro dengan perusahaan Daesang, perusahaan Korsel. Recapital dikabarkan didukung oleh Bumi Resources dan Indo Tambang ditopang oleh Banpu.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom/TLKM) berencana menyusun belanja modal perseroan (capital expenditure/capex) untuk 2010 pada akhir bulan ini.

Menurut Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah, saat ini perseroan belum bisa memas-tikan jumlah capex pada tahun depan. “Kami perkirakan pada akhir bulan ini capex baru kami susun,” katanya, akhir pekan lalu.

PT Adaro Indonesia akan menggelar lawatan ke empat negara pada pekan ini untuk memasarkan surat utang senior berjaminan dengan jangka waktu 10 tahun senilai US$500 juta.

Adaro Indonesia, perusahaan pertambangan batu bara yang dikuasai dan dikendalikan penuh oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO), menyatakan perseroan akan menerbitkan surat utang senior berjaminan bertenor 10 tahun tanpa opsi beli kembali selama 5 tahun pertama.

Surat utang bertingkat bunga tetap ini akan diterbitkan dalam denominasi dolar AS, dengan nilai satuan sebesar US$100.000. Obligasi tersebut dijamin oleh induknya yakni Adaro Energy, perusahaan pertambangan batu bara terbesar kedua nasional setelah PT Bumi Resources Tbk.

Dalam siaran persnya kemarin, manajemen Adaro menyatakan obligasi itu diterbitkan guna memenuhi kebutuhan belanja modal dan tujuan perusahaan lainnya.

Deputy Corporate Secretary Adaro Devindra Ratzarwin menolak menjelaskan detail rencana penerbitan obligasi itu termasuk nilai dana yang ingin diraup. “Informasi yang dapat kami sampaikan saat ini hanya sesuai dengan apa yang tercantum dalam siaran pers, mengingat saat ini kami telah memasuki periode blackout,” tulisnya dalam surat elektroniknya kepada Bisnis.

Manajemen Adaro menyebutkan penerbitan surat utang Adaro Indonesia ini menggunakan landasan hukum New York, meskipun akan dicatatkan di Singapore Exchange Trading Limited. Adaro telah menunjuk Credit Suisse sebagai koordinator penjualan global.

Adapun joint book-runner terdiri dari Credit Suisse, DBS Bank Ltd, dan UBS AG, yang juga bertindak selaku joint lead manager ditambah Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd.

Pemerintah akan membantu mediasi untuk menyelesaikan sengketa pembayaran proyek antara PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan kontraktor asal Timur Tengah, Al Habtoor Engineering.

Meneg BUMN Sofyan Abdul Djalil menuturkan pihaknya akan meminta bantuan instansi terkait untuk menyelesaikan masalah yang menimpa Adhi Karya. “Ada beberapa instansi yang ingin kami minta untuk membantu me-diasi tersebut. Masalah antara Adhi Karya dengan Alhabtoor merupakan masalah korporasi biasa. Namun kami tetap meminta agar ada mediasi untuk menyelesaikan masalah tersebut,” ujarnya kemarin.

Sofyan menuturkan bahwa Adhi Karya harus berhati-hati supaya ma-salah tidak adanya pembayaran bisa dihindari. Sofyan menyatakan hal tersebut menyikapi pengumuman PT Pemeringkat Efek Indonesia yang menetapkan status creditwatch dengan implikasi negatif terkait potensi kerugian yang menimpa Adhi Karya akibat ada masalah legal untuk proyek di Qatar.

PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) berencana menerbitkan obligasi tukar terkait dengan akuisisi perusahaan pelayaran Norwegia, yaitu Camillo Eitzen & Co ASA (CECO) senilai US$173 juta.

Total pendapatan dari penggabungan kedua perusahaan itu pada 12 bulan terakhir mencapai US$2,30 miliar dengan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) senilai US$499 juta.

Direktur Keuangan Berlian Laju Tanker Kevin Wong mengatakan perseroan berencana untuk melakukan voluntary exchange offer terhadap seluruh saham yang sudah diterbitkan dari Camillo Eitzen yang tercatat di Bursa Efek Oslo pada 2004. “Para pemegang saham Berlian Tanker dan Camillo Eitzen berkomitmen untuk mendukung transaksi tersebut dan berniat untuk menjamin emisi sampai dengan 50% dari total private placement di Berlian Tanker yang mencapai US$200 juta,” katanya, kemarin.

Adapun, seperti dikutip Bloomberg dari keterbukaan informasi Bursa Efek Singapura, nilai akuisisi itu mencapai NOK 1 miliar atau setara dengan US$173 juta.

Selanjutnya, penawaran obligasi tukar atau mandatory exchangeable bond yang diajukan adalah sebesar NOK (Norwegian Krone) 25 atau setara dengan US$4,34 untuk setiap saham CECO. Penawaran itu dibayarkan dalam bentuk saham Berlian Tanker yang merepresentasikan premium sebesar 270% dari harga saham Camillo Eitzen pada penutupan pasar 2 Oktober 2009.

PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) membuka opsi untuk menambah hingga lima kapal senilai maksimal Rp125 miliar untuk operasional anak usaha perseroan, PT Ancora Shipping.

Kapal itu rencananya dibeli untuk memenuhi permintaan dari kontrak pengangkutan batu bara pada tahun depan. Harga pasar satu kapal pengangkut batu bara bekas bernilai sekitar Rp20 miliar – Rp25 miliar sehingga kalau membeli lima kapal nilai totalnya Rp125 miliar. Satu unit kapal pengangkut terdiri dari sebuah tongkang dan barge.

Pemilik PT Ancora Resources Gita Wirjawan mengatakan perseroan masih berniat membeli kapal bekas pakai yang berkapasitas 4.000 ton-8.000 ton karena dinilai lebih menguntungkan dibandingkan dengan kapal baru. Ancora Resources merupakan induk usaha Ancora Indonesia Resources.

“Kami harapkan sebanyak-banyaknya [penambahan kapal tahun depan], tetapi yang masuk akal di kisaran satu kapal hingga lima kapal,” ujar Gita kepada pers kemarin.

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) meraih pinjaman senilai US$70 juta dari International Finance Corporation (IFC), anak perusahaan Bank Dunia.

Sumber Bisnis pada pekan lalu mengungkapkan dana pinjaman tersebut akan dialokasikan untuk mendukung ekspansi pembiayaan ke sektor mikro.

Direktur BTPN Anika Faisal ketika dikonfirmasi membenarkan perseroan sedang menjajaki pinjaman dari IFC. “Kami masih menunggu persetujuan dari Bank Indonesia,” ujarnya pekan lalu. Namun, dia menolak memberikan penjelasan detail mengenai kredit yang sedang dijajaki perseroan dari IFC. Berdasarkan penelusuran Bisnis melalui situs IFC, pinjaman tersebut telah ditandatangani pada 25 September.

Secara terpisah, lembaga pemeringkat Fitch Ratings menetapkan peringkat A+ terhadap obligasi BTPN. Prospek dari pemeringkatan ini adalah positif.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyiapkan rencana penerbitan obligasi subordinasi (subdebt) senilai US$200 juta-US$300 juta yang ditargetkan pada awal tahun depan untuk memperkuat rasio kecukupan modal minimalnya sehingga dapat dipertahankan 14%.

Dirut BNI Gatot M. Suwondo menjelaskan saat ini perseroan tidak memiliki pinjaman dalam bentuk subdebt sehingga peluang untuk menerbitkan instrumen itu cukup besar terutama melihat minat investor di pasar.

“Sedikitnya ada tiga investor dari sejumlah negara di Asia yang menjajaki untuk pembelian obligasi itu, diharapkan pada Januari tahun depan bisa dilaksanakan,” ujarnya seusai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), kemarin.

Gatot mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah subdebt itu akan mengambil denominasi rupiah atau valas. Namun, katanya, melihat masih tingginya bunga SUN akan menjadi pertimbangan tersendiri. “Selain itu, untuk suku bunga juga belum dapat disampaikan, itu akan dihitung sesuai perkembangan pasar nanti.”

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: