Skip to content

besar kurang dihargai, tambang batu item : 171009

Oktober 17, 2009

APBI Desak Batubara Diurus Direktorat Khusus
14 Oktober 2009 | 22:53 WIB

Aktivitas pertambangan batubara
di Kalimantan.
Abraham Lagaligo
abraham@majalahtambang.com

Jakarta – TAMBANG. Meski menjadi pengekspor batubara terbesar kedua di dunia, namun pengelolaan sumber energi itu dinilai masih amburadul. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mendesak agar pemerintah membentuk Direktorat khusus, untuk pengolaan batubara.

“Jika tidak, maka dilema pemanfaatan batubara untuk kepentingan nasional tidak akan pernah bisa diselesaikan,” ujar Ketua Bidang Hubungan Pemerintahan APBI, Herman Kasih.

Menurut Herman, harus segera dilakukan perubahan perlakuan terhadap batubara. Pengaturan batubara tidak boleh dicampuradukkan dengan mineral, karena batubara merupakan komoditas energi yang strategis.

Maka dari itu, APBI mendesak adanya Direktorat baru di Departemen ESDM yang khusus mengurus batubara. ”Meski sama-sama produk pertambangan, namun mineral dan batubara ending pemakaiannya berbeda,” jelasnya kepada Majalah TAMBANG di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2009.

Pemanfaatan thermal coal yang merupakan produk terbesar batubara Indonesia adalah untuk dibakar, guna menghasilkan listrik. Baik itu di pembangkit listrik (PLTU), maupun di pabrik semen, pabrik tekstil, maupun di kalangan rumahtangga dalam bentuk briket batubara.

Maka dari itu, lanjut Herman, tidak seharusnya jual beli batubara diatur oleh Departemen Perdagangan (Depdag), karena pada dasarnya batubara bukan barang dagangan semata.

”Saya sudah pernah bicarakan ini dengan semua pejabat ESDM. Tapi memang perubahan birokrasinya tidak gampang,” terangnya.

Maka dari itu, agar pengelolaan batubara berada pada track yang benar, Menteri ESDM harus memperjuangkan adanya Direktorat tersendiri untuk batubara. Pengaturan batubara harus disamakan dengan migas saat ini.

Jika itu tidak dilakukan, kata Herman Kasih, maka dilema pemanfaatan batubara untuk kepentingan nasional tak akan pernah selesai. Kalau harga batubara di pasar dunia meroket, PLN akan ngos-ngosan tidak kebagian. Sebaliknya, saat harga batubara di pasar dunia rendah, PLN sampai menolak-nolak suplai batubara.

(Selengkapnya di Majalah TAMBANG Edisi Cetak, Oktober 2009)

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: