Skip to content

indy AMAT DIPERCAYA, credible … 301009

Oktober 30, 2009

Jumat, 30/10/2009 08:54 WIB

Cermati ELSA, PTBA, SMCB, TINS, CTRS, INDY, BMRI, BNGA

oleh : Berliana Elisabeth S.

JAKARTA (Bisnis.com): Harga saham sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini setidaknya akan terpengaruh aksi korporasi, kondisi keuangan maupun berita-berita seputar perusahaan seperti ELSA, PTBA, SMCB, TINS, TRIO, CTRS, ADHI, INDY, BMRI dan BNGA.

Harian Bisnis Indonesia edisi Jumat,30 Oktober 2009, memberitakan ke-10 emiten yakni:

Sebanyak 10 emiten unggulan yang telah melaporkan kinerja keuangan per September 2009 pekan ini membukukan laba bersih di tengah krisis finansial, dengan rata-rata pertumbuhan 38,37%. Data yang dihimpun Bisnis menyebutkan saham 10 emiten tersebut di pasar menyumbang 15,76% terhadap kapitalisasi bursa nasional, atau senilai Rp273 triliun.

PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan pertumbuhan laba bersih tertinggi sebesar 383%. Sektor migas sepanjang tahun ini masih positif, terlihat dari kenaikan harga energi minyak mentah dunia menguat hampir 100% ke level US$79 per barel.

Laba bersih Elnusa per triwulan III/2009 mencapai Rp493 miliar, naik 383% dibandingkan dengan periode yang sama 2008 sebesar Rp102 miliar. Capaian itu disumbang kinerja operasional yang kuat, di samping divestasi anak usahanya yakni PT Infomedia Nusantara.

“Jika laba atas penjualan Infomedia Nusantara tidak diperhitungkan, Elnusa tetap mencatatkan pertumbuhan laba signifikan. Ini terlihat dari kenaikan laba operasi sebesar 159% dibandingkan dengan periode sebelumnya,” tutur Direktur Utama PT Elnusa Tbk Eteng A Salam kepada pers, kemarin.

PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan pertumbuhan laba bersih tertinggi kedua sebesar 66,67% dari Rp1,32 triliun menjadi Rp2,2 triliun. Penjualan tercatat Rp6,6 triliun, naik 32,8% dari periode yang sama tahun lalu Rp4,97 triliun.

Dirut Bukit Asam Sukrisno mengatakan laporan keuangan perseroan akan dipublikasikan segera pekan ini. Namun, dia mengindikasikan laba bersih melampaui Rp2 triliun. “Laba bersih berkisar Rp2,2 triliun dengan penjualan mencapai Rp6,6 triliun,” ujarnya, kemarin.

Konsensus analis yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan BUMN pertambangan ini dapat membukukan penjualan sebesar Rp9,69 triliun dengan laba bersih Rp2,98 triliun pada akhir 2009.

Kinerja positif juga dibukukan emiten sektor semen, yakni PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) yang membukukan kenaikan laba bersih 4,04% menjadi Rp566 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Triwulan ketiga tahun ini memperlihatkan peningkatan volume penjualan dibandingkan dengan tahun lalu, meski pada awal 2009 terjadi perlambatan industri konstruksi akibat kontraksi konsumsi semen sebesar 7%,” tutur Presiden Direktur Holcim Indonesia Eamon Ginley. Pendapatan Holcim pada triwulan III/2009 meningkat sebesar 8,3% hingga mencapai Rp4,1 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp3,8 triliun.

Namun, tiga di antara emiten tersebut membukukan penurunan laba bersih meski tidak sampai berujung pada kerugian. Ketiga emiten itu adalah PT Timah Tbk (TINS) (-88,53%), PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) (-70,07%), dan PT Indosat Tbk (ISAT) (-1,36%).

Laba Timah hingga triwulan III/2009 tergerus 88,53% menjadi Rp170,95 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp1,49 triliun, menyusul penurunan permintaan dan harga timah dunia.

Dirut Timah Wachid Usman mengatakan pendapatan bersih turun terutama karena merosotnya harga jual timah. Harga jual logam itu berkisar US$13.000 per ton, dibandingkan dengan harga jual rata-rata tahun lalu US$18.000 per ton, sedangkan volume penjualan tidak berbeda jauh.

Laba bersih PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) pada kuartal III/2009 naik 2,47% menjadi Rp90,81 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp88,62 miliar.

Menurut Presiden Direktur Sugiono Wiyono Sugialam, kenaikan laba bersih tersebut terkait dengan kenaikan laba operasional sebesar 28,45% dari Rp154,51 miliar pada triwulan III/ 2008 menjadi Rp198,47 miliar pada triwulan II/2009. Kenaikan laba operasional itu disebabkan oleh meningkatnya margin laba kotor menjadi 10,19% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 7,79%.

Peningkatan penjualan pada telepon seluler memberikan margin terbesar dari penjualan produk lainnya atas kenaikan margin laba kotor ini. “Pendapatan bersih perseroan hingga triwulan III/2009 tercatat senilai Rp4,09 triliun dengan laba kotor senilai Rp416,61 miliar,” ujar Sugiono, kemarin. Kontribusi terbesar dari pendapatan bersih tersebut masing-masing adalah penjualan telepon seluler 73,51%, penjualan produk operator 25% dan mobile content 1,49%.

Perseroan menjual mobile content dari pihak ketiga yang meliputi nada dering, game, wallpaper dan aplikasi lainnya sejak 2007.”Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pendapatan bersih perseroan mengalami sedikit penurunan sebesar 1,39%, tetapi perbandingan laba kotor mengalami kenaikan sebesar 29,03%,” ujarnya.

PT Ciputra Surya Tbk (CTRS) hingga September 2009 berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp220,02 miliar turun 19,43% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu Rp273,08 miliar. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia kemarin disebutkan penurunan pendapatan berdampak langsung terhadap perolehan laba bersih perseroan.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) membidik sejumlah proyek pemerintah dan swasta sekitar Rp4 triliun pada kuartal IV/2009 untuk mencapai target perolehan proyek baru yang dipatok Rp8,85 triliun selama tahun ini.

Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Kurnadi Gularso menuturkan total perolehan proyek baru hingga akhir September lalu sebesar Rp4,47 triliun dan carry over proyek tahun sebelumnya Rp9,1 triliun. “Kami optimistis bisa membidik berbagai proyek, terutama gedung-gedung pemerintah, sehingga kami bisa mencapai target perolehan proyek baru senilai Rp8,85 triliun pada akhir tahun ini.Total perolehan kontrak baru dan carry over hingga September lalu sebesar Rp13,6 triliun,” ujarnya kemarin.

Sementara itu, dari sisi kinerja, BUMN karya ini hingga akhir September mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 23% dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp64 miliar dari Rp52 miliar.

Untuk pendapatan, perseroan juga mencatat kenaikan menjadi Rp4,86 triliun dari Rp3,66 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Beberapa proyek sudah berjalan, yaitu pembangunan proyek jalan tol Kanci-Pejagan, serta jalan tol Bogor Ring Road. Kami juga mengerjakan PLTU Lampung yang berkapasitas 2X100 mega watt (MW) milik PLN,” tuturnya.

Saat ini Adhi Karya melangsungkan pembicaraan dengan kontraktor Qatar, Al Habtoor untuk menyelesaikan pembayaran proyek yang sampai saat ini belum diperoleh BUMN konstruksi itu. Adhi Karya mengajukan klaim kepada perusahaan asal Al Habtoor Engineering senilai US$98 juta atau sekitar Rp980 miliar terkait dengan belum dibayarnya proyek yang telah dikerjakan oleh BUMN karya ini.

Permintaan surat utang berdenominasi dolar AS PT Indika Energy Tbk (INDY) membeludak hingga tiga-empat kali lipat, sedangkan obligasi PT Bukit Makmur Mandiri Utama (Buma) kelebihan permintaan tiga kali.

Beberapa eksekutif yang mengetahui soal transaksi ini mengatakan dari hasil book building obligasi Indika, total permintaannya mencapai US$690 juta-US$930 juta. “Yield obligasi Indika ditetapkan 9,75%,” ujarnya kepada Bisnis kemarin. Dia menambahkan Indika mengakhiri lawatan penawaran obligasinya di AS kemarin setelah sebelumnya bertemu dengan para pemodal di Singapura, Hong Kong, dan London pada pekan lalu.

Indika melalui anak usahanya Indo Integrated Energy II BV menetapkan imbal hasil obligasi senilai US$230 juta yang diterbitkannya sebesar 9,75%. Surat utang itu berjangka 7 tahun dan bisa dibeli kembali mulai 2013 atau setelah 4 tahun.

Vice President Investor Relations Indika Retina Rosabai tidak dapat dihubungi untuk dimintai konfirmasi kemarin. Perseroan akan menggunakan dana hasil emisi untuk membantu ekspansi termasuk untuk pengembangan anak usaha yang baru diakuisisinya PT Petrosea Tbk.

Obligasi ini merupakan yang kedua diterbitkan oleh Indo Integrated setelah sebelumnya unit usaha Indika itu mengeluarkan obligasi senilai US$250 juta dengan bunga 8,5% per tahun pada April 2007. Kala itu, emisi surat utang berjangka waktu 5 tahun tersebut dibantu oleh ING dan JP Morgan Securities

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba per September 2009 sebesar Rp4,62 triliun atau naik 16,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp3,95 triliun menyusul ekspansi kredit yang mendongkrak pendapatan bunga.

Kontribusi laba terbesar masih disumbang dari pendapatan bunga bersih yang tumbuh 24,8% menjadi Rp12,75 triliun, ditambah dengan fee based income yang juga naik 8% menjadi Rp3,99 triliun. Adapun margin bunga bersih turun tipis dari 5,46% menjadi 5,21%. Pendapatan bunga yang cukup tinggi, tidak lepas dari ekspansi kredit perseroan yang berjalan sesuai target dengan pertumbuhan 15,7% menjadi Rp188,3 triliun, meskipun tren industri masih rendah.

Peningkatan fee based income itu dikontribusikan dari pedapatan provisi dan transaksi valas Rp3,45 triliun dan sisanya dari keuntungan peningkatan nilai dan penjualan surat berharga Rp360 miliar. Hal itu, membuat jumlah pendapatan operasional meningkat signifikan menjadi Rp16,75 triliun atau naik 18,5% menjadi dari setahun sebelumnya Rp14,13 triliun.

Di sisi lain, beban biaya operasional meningkat cukup tipis hanya 6,9% menjadi 6,46%. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional juga turun dari 42,8% menjadi 39%. Namun, untuk beban bunga memang melonjak 45% menjadi Rp11,6 triliun.

Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo menjelaskan pertumbuhan kredit hampir merata di setiap segmen bisnis mulai dari pasar UMKM yang tumbuh 18,6% menjadi Rp25,51 triliun. Selain itu, katanya, segmen korporasi dan konsumer juga terus tumbuh baik untuk pembiayaan infrastruktur sampai kredit pemilikan rumah dan kendaraan yang semuanya berkontribusi cukup besar terhadap pendapatan dan peningkatan laba. “Hampir semua sektor tumbuh, kecuali untuk modal kerja terkait ekspor impor masih belum normal. Tapi untuk investasi dan konsumsi cukup membantu pertumbuhan kredit dan tingkat serapan seperti di infrastruktur sudah berjalan. Diharapkan akhir tahun bisa tumbuh 16% dan pada 2010 kita bisa 20%,” katanya, kemarin.

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) berencana meningkatkan modal pada tahun depan dari suntikan induk usaha Rp1 triliun dan penerbitan obligasi Rp2 triliun-Rp3 triliun yang akan dilaksanakan pada semester pertama 2010 untuk mendukung ekspansi bisnis.

Chief Financial Officer CIMB Niaga Wan Razly Abdullah mengatakan pihaknya tengah menyiapkan penerbitan surat utang yang diperkirakan prosesnya akan berlangsung selama semester pertama tahun depan. “Tujuannya untuk mempertahankan rasio kecukupan modal kita minimal dapat dipertahankan di level 14% dari sekarang sekitar 15%. Namun itu pasti akan tergerus seiring dengan ekspansi kredit,” ujarnya, kemarin.

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: