Skip to content

ga ada halangan indo memble, lah … 191109

November 19, 2009

Tantangan Hadang Perekonomian di 2010
Kamis, 19 November 2009 – 07:04 wib

JAKARTA – Beragam tantangan diyakini masih akan menghadang momentum perbaikan perekonomian tahun depan, meski secara makro kondisinya diperkirakan lebih baik bila dibandingkan tahun ini.

“Kondisi perekonomian domestik bakal jauh lebih baik dibanding tahun ini. Tapi, ada beragam tantangan yang harus jadi catatan penting bagi pemerintah,sehingga itu tidak menjadi ganjalan bagi pemulihan,” ujar Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa di Jakarta kemarin. Menurut Erwin, beberapa ganjalan itu antara lain adalah masih tingginya tingkat pengangguran yang belum bisa diserap, rendahnya ketersediaan infrastruktur, masih mahalnya biaya produksi, dan adanya hiruk-pikuk problem hukum dalam negeri.

“Kami meminta penegakan hukum seperti korupsi harus jadi perhatian utama sebab itu akan memengaruhi persepsi kalangan investor,” tuturnya. Erwin mengatakan, persoalan fasilitas dukungan infrastruktur adalah merupakan problem utama yang masih dihadapi Indonesia dalam mendorong pemulihan ekonominya. Selain sarana pengangkutan yang mahal, dukungan energi seperti pasokan listrik juga masih merupakan problem sangat serius. Kondisi demikian berkorelasi dengan mahalnya biaya produksi yang harus dikeluarkan para pelaku ekonomi domestik.

Kendati begitu, sambungnya, perekonomian tahun depan memiliki momentum perbaikan yang lebih optimistis dengan mulai berlangsungnya pemulihan kondisi perekonomian global. Kondisi ini diharapkan bisa memacu peningkatan konsumsi global, termasuk di dalamnya meningkatkan permintaan pasar ekspor global. “Stabilitas politik domestik, kebijakan pemerintah yang lebih berkomitmen mendorong peningkatan daya saing sektor riil, kontinuitas pemerintah yang menjamin keberlangsungan kebijakan ekonomi menjadi faktor lain di balik harapan perbaikan ekonomi kita,” paparnya.

Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menambahkan, kebijakan ekonomi pemerintah ke depan harus menyasar penguatan kualitas faktor pasar domestik. “Sebab, meski ada pertumbuhan 4,3 persen triwulan III-2009 misalnya, pertumbuhan ekonomi hanya bisa dinikmati 1/3 penduduk yang bergerak di sektor jasa modern, 2/3 penduduk lainnya masih belum menikmati kue pertumbuhan,” paparnya. Penguatan faktor domestik, jelas dia,salah satu opsinya adalah dengan memperkuat basis permodalan masyarakat dengan mendorong peningkatan angka kredit perbankan.

Dibanding negara-negara tetangga, jelasnya, rasio kredit permodalan usaha domestik baru sekitar 30 persen PDB (produk domestik bruto), jauh lebih kecil dibanding rasio kredit negaranegara lain yang bisa mencapai 100-140 persen PDB. Rendahnya penyaluran kredit, ungkap Faisal, berbeda dengan masih banyaknya modal pembiayaan yang belum termanfaatkan dan malah disimpan di Bank Indonesia (BI). Hingga akhir semester I-2009, jumlah dana perbankan yang tersimpan berupa Sertifikat Bank Indonesia tersebut tak kurang dari Rp120 triliun.

Selain itu, jelasnya, pembangunan infrastruktur harus betul-betul difokuskan pemerintah seperti pemenuhan pasokan listrik. Menurut dia, ini merupakan salah satu kunci peningkatan daya saing ekonomi domestik, termasuk perbaikan biaya logistik yang masih mahal seperti infrastruktur pelabuhan.

Survei eBar

Sementara itu, PricewaterhouseCoopers Indonesia kemarin meluncurkan laporan pertamanya mengenai survei barometer ekonomi (eBar) di Indonesia. Laporan yang memuat pandangan dari hampir 140 eksekutif senior Indonesia mengenai tinjauan ekonomi lokal dan dunia serta ekspektasi bisnis mereka itu menyebutkan bahwa 80% responden optimistis mengenai prospek ekonomi selama 12 bulan ke depan.

“Akan tetapi, terhadap ekonomi global, optimisme hanya dirasakan oleh 38 responden saja,” ungkap Chairman PricewaterhouseCoopers Indonesia Jusuf Wibisana dalam keterangan tertulis yang diterima Seputar Indonesia kemarin. Di sisi lain, Penasihat Teknis PricewaterhouseCoopers Indonesia Gratnt Burns mengatakan, ketidakpastian hukum dan regulasi masih dianggap sebagai penghambat utama pertumbuhan bisnis di masa depan.”Hal ini merupakan isu,khususnya bagi mereka yang bergerak di bidang jasa keuangan,energi,utilitas dan pertambangan,”tuturnya.

Berdasarkan survei itu, 84 responden juga menilai kualitas infrastruktur yang tidak memadai menjadi hambatan utama di sektor konsumer,industri produk dan jasa. Kemudian, 68 persen responden menuding korupsi sebagai masalah serius penghambat pertumbuhan ekonomi.Hambatan lainnya adalah kurangnya permintaan,berkurangnya akses pendanaan, dan minimnya jumlah pekerja berkualitas. (Zaenal Muttaqin /Koran SI/css)

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: