Skip to content

produk yang juga diamati indy, kayanya … 150110

Januari 14, 2010

17/01/2010 – 22:09
Kontrak CBM Jangan Rusak Momentum Investasi
Makarius Paru

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Keputusan pemerintah melahirkan model kontrak baru pengembangan coal bed methane (CBM) dinilai banyak kalangan sebagai sebuah langkah maju. Namun, pemerintah diingatkan jangan sampai model baru ini malah merusak momentum pertumbuhan investasi di sektor CBM.

Pemerintah menawarkan dua model kontrak baru pengembangan CBM atau gas metana batubara dari model productions sharing contract (PSC) semata menjadi Gross Productions Sharing Contract (GPSC).

President Direktor PT Energi Pasir Hitam Indonesia (Ephindo), Sammy Hamzah ketika berbincang via telepon dengan INILAH.COM, Jakarta, Minggu (17/1), mengatakan terobosan pemerintah membuat model kontrak baru untuk pengembangan CBM ini patut dihargai.

Karena ini akan mempercepat proses komersial dari wilayah kerja CBM. Namun, diharapkan kebijakan ini tidak sampai merusak momentum bisnis secara keseluruhan. “Secara kasat mata, jujur saja, model Gross PSC yang ditawarkan pemerintah memang sangat bagus. Terutama dalam semangat menyederhanakan segala urusan. Menghilangkan isu cost recovery yang selama ini menjadi polemik berkepanjangan pemerintah, DPR dan Investor,” paparnya.

Dengan ditiadakannya cost recovery kontrol pemerintah akan berkurang, sehingga investor dapat bergerak cepat dalam mengembangkan WK CBM nya. “Itu kalau dilihat secara kasat mata. Karena sampai sekarang kebanyakan investor belum tahu apa isi detail dari kontrak baru tersebut,” paparnya.

Ia melanjutkan, setiap model kontrak baru, akan banyak term and conditions yang perlu diselaraskan. “Kami meminta pemerintah menjaga jangan sampai hadirnya model kontrak baru ini malah merusak momentum kebangkitan sektor CBM,” imbuhnya.

Ephindo mengakui belum berani memutuskan apakah kontrak PSC yang sudah diteken, bisa mengikuti model kontrak Gross PSC yang baru. “Kami ingin pelajari dulu, apa detail dari kontrak gross PSC,” terangnya.

Presdir Medco Eksplorasi dan Produksi (Medco E&P) Lukman Mahfoed, sebagai investor CBM, ketika dihubungi terpisah juga mengakui kalau secara kasat mata kontrak Gross PSC akan menyederhanakan urusan pengembangan CBM.

Namun, investor masih perlu melihat apa detail dari model kontrak baru ini. “Nanti kami lihat dulu apa detail dari kontrak Gross PSC yang ditawarkan pemerintah,” katanya.

Pengamat Migas Pri Agung Rakhmanto menambahkan, sebenarnya model PSC atau pun Gross PSC dalam pengembangan CBM sama saja bagusnya. Persoalannya, tergantung sejauhmana pengawasan yang dilakukan pemerintah.

“Kalau pakai model PSC, berarti dana investasi awal dikeluarkan pihak investor, sementara pemerintah baru menggantinya jika sudah ada hasil. Tetapi dalam split (bagi hasil) nya pemerintah lebih besar dari investor.

Sementara, jika menggunakan Gross PSC semua investasi ditanggung Investor, dan hasilnya fifty-fifty. “Semuanya sama bagusnya, tinggal bagimana pengawasan pemerintah,” tandasnya. Yang terpenting lagi lanjutnya, jangan sampai pemerintah memakai model royalti dalam pengembangan CBM.

Dirjen Migas Evita Herawati Legowo mengatakan pemerintah tidak akan memaksakan penerapan model kontrak Gross PSC ini, khususnya kepada kontrak CBM yang sudah ditandatangani. “Tender CBM lama atau baru boleh memilih model kontrak CBM yang baru nantinya. Namun, tidak ada pemaksaan,” katanya.

Sampai akhir 2009, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menandatangani 15 kontrak kerja CBM. Semua kontrak tersebut memakai model PSC. Antara lain, Blok Sekayu, Sumsel dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) adalah konsorsium PT Medco CBM Sekayu dan Ephindo. Blok Sekayu merupakan kontrak CBM pertama yang ditandatangani 27 Mei 2008.

Selanjutnya, Blok Bentian Besar, Kaltim dengan KKKS PT Ridlatama Mining Utama, dan Blok Indragiri Hulu, Riau dengan PT Samantaka Mineral Prima yang ditandatangani kontranya pada 26 Juni 2008. Blok Barito Banjar 1 dengan KKKS PT Indobararambai Gas Methan, Blok Barito Banjar 2 dengan PT Barito Basin Gas, Blok Sangatta dengan Konsorsium PT Pertamina Hulu Energi Metana Kalimantan A Sangatta West CBM Inc dan Blok Kutai dengan Konsorsium Kutai West CBM Inc Newton Energy Capital Liimited.

Kemudian pada Mei 2009 pemerintah juga berhasil menenderkan 3 KKS CBM, yaitu CBM Ogan Komering, Sanggatta II, dan Tabulako. Kemudian tanggal 4 Agustus 2009 telah ditandatangani 5 KKKS CBM, yaitu Tanjung Enim, Ogan Komering II, Pulau Pisau, Barito Tapin, dan Kotabu. Sebagian besar dari kontrak CBM yang telah ditandatangani tersebut belum dapat berproduksi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh mengatakan tujuan utama dibuatnya kontrak Gross PSC adalah untuk mempercepat pemanfaatan energi alternatif tersebut. “Saat ini, kami sedang memfinalisasi draf kontrak baru itu,” katanya.

Menurutnya, kontrak baru memungkinkan pemanfaatan gas CBM saat masih proses dewatering atau penghilangan kandungan airnya. Harapannya, mulai 2011 gas dari WK CBM dapat segara dialirkan ke PLN. [mdr]

17/01/2010 – 19:02
Inilah Plus Minus Kontrak CBM Model Baru
Makarius Paru

INILAH.COM, Jakarta – Komisi VII DPR mencermati dua isu penting dari upaya pemerintah membuat draft kontrak coal bed methane (CBM) yang baru, antara plus dan minusnya kontrak Gross Productions Sharing Contract (GPSC).

“Model kontrak GPSC ada plus dan minusnya. Keuntungannya, akan mengsimplifikasi semua urusan pengembangan proyek WK CBM. Namun minusnya bagaimana dengan besaran pemasukan ke pemerintah, terus bagaimana dengan pengawasan. Apakah dengan pengawasan yang kurang menguntungkan atau merugikan pemerintah,” kata Anggota DPR komisi VII Satya W Yudha kepada INILAH.COM, Jakarta, Minggu (17/1).

Dia mengatakan, kebetulan ini masih dalam bentuk draft di pemerintah, makanya DPR berpendapat agar pemerintah bisa memperhatikan betul kedua persoalan tersebut. “Pemerintah harus bisa menjaga bahwa dengan tipe kontrak yang baru ini pendapatan untuk negara jangan menjadi berkurang, sekurangnya harus meningkat,” katanya.

Selain itu lanjutnya, bagaiaman dengan kontrol dari negara terhadap kegiatan kontraktor. Jika dalam tipe productions sharing contract (PSC) negara terlibat dalam urusan pengadaaan failitas eksplorasi kontraktor.

Tetapi dengan diterapkannya GPSC, maka pembelian alat untuk eksplorasi menjadi tanggungjawab dari kontraktor, tidak ada kontrol dari pemerintah. “Pemerintah harus benar-benar memperhitungkan apakah dengan sistem pengawasan yang lemah ini akan menguntungkan negara atau tidak,” jelasnya. [hid]
14/01/2010 – 20:53
Kontrak Gas Metana Batubara
Pilih-pilih Metode Bagi Hasil
Makarius Paru

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah telah melakukan finalisasi draft kontrak gas metana batubara (coal bed methane/CBM). Kontraktor kini bisa lebih leluasa memilih metode bagi hasilnya.

Nantinya, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) bisa memilih, apakah akan menggunakan Gross Production Sharing Contract (GPSC) atau Production Sharing Contract (PSC). Hal tersebut dikatakan Direktur Jenderal Migas Evita Legowo dalam keterangannya, di Jakarta, Kamis (14/1).

“Jika yang dipakai adalah model Gross Production Sharing Contract (GPSC) berarti dari seluruh hasil produksinya, langsung dibagi dua antara pemerintah dan KKKS, tanpa adanya cost recovery. Artinya, biaya pengembangan CBM yang dikeluarkan KKKS tidak dibebankan kepada negara,” papar Evita.

Sementara jika investor tetap memakai PSC berarti yang dipakai dalam pengembangan gas methana batubara (coal bed methane/CBM) adalah kontrak bagi hasil dengan adanya cost recovery.

Dirjen menambahkan, kontrak CBM bentuk baru ini akan ditawarkan kepada KKKS, baik yang telah menandatangani kontrak maupun belum. “Mereka (KKKS) akan berhitung kembali, nanti bisa pilih yang mana,” kata Evita.

Jika menggunakan kontrak bentuk PSC yang biasanya digunakan untuk pengembangan migas konvensional, gas baru bisa diusahakan setelah rencana pengembangan lapangan (Plan of Development/PoD) ditandatangani. Padahal dalam pengembangan CBM, gas telah keluar pada proses dewatering.

Dengan kontrak bentuk baru ini, gas sudah dapat dimanfaatkan sebelum PoD ditandatangani. Rencananya, gas yang telah keluar pada proses dewatering akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik skala kecil bagi masyarakat sekitar sumber gas. Untuk itu, pemerintah telah melakukan pembicaraan dengan PT PLN dan PT PGN.

Mengenai besaran bagi hasil dengan menggunakan sistem GPSC, Evita mengatakan, pemerintah juga akan menghitung kembali atau melakukan penyesuaian.

Sekadar tahu, CBM adalah gas alam dengan dominan gas metana dan disertai sedikit hidrokarbon lainnya dan gas non-hidrokarbon dalam batubara hasil dari beberapa proses kimia dan fisika. CBM sama seperti gas alam konvensional yang dikenal saat ini. Namun perbedaannya adalah CBM berasosiasi dengan batubara sebagai source rock dan reservoir-nya.

Sedangkan gas alam yang dikenal, walaupun sebagian ada yang bersumber dari batubara, diproduksikan dari reservoir pasir, gamping maupun rekahan batuan beku. Hal lain yang membedakan keduanya adalah cara penambangannya dimana reservoir CBM harus direkayasa terlebih dahulu sebelum gasnya dapat diproduksi.

CBM diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa batubara (sebagai reservoir) agar didapatkan cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya. Proses rekayasa diawali dengan memproduksi air (dewatering) agar terjadi perubahan kesetimbangan mekanika.

Setelah tekanan turun, gas batu bara akan keluar dari matriks batu baranya. Gas metana kemudian akan mengalir melalui rekahan batu bara (cleat) dan akhirnya keluar menuju lobang sumur. Puncak produksi CBM bervariasi antara 2 sampai 7 tahun. Sedangkan periode penurunan produksi (decline) lebih lambat dari gas alam konvensional.

Sementara itu, potensi CBM Indonesia cukup besar yaitu 453,3 TCF yang tersebar pada 11 cekungan hydrocarbon. Dari sumber daya tersebut, cadangan CBM sebesar 112,47 TCF merupakan cadangan terbukti dan 57,60 TCF merupakan cadangan potensial. [jin/mdr]

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: