Skip to content

Ch factor is the BEST … 050210

Februari 5, 2010

Borneo & Harum Energy akan IPO
Saat ini momentum tepat perusahaan tambang masuk bursa

JAKARTA: Dua perusahaan induk tambang batu bara yaitu PT Borneo Lumbung Energi dan PT Harum Energy segera masuk bursa saham pada semester I tahun ini dengan target perolehan dana US$500 juta-US$700 juta.
Beberapa bankir investasi yang mengetahui informasi itu mengatakan Borneo Energi, perusahaan yang terafiliasi dengan Renaissance Capital, dan Harum Energy, yang dikuasai oleh Grup Tanito Harum dan dikendalikan oleh pengusaha pertambangan Kiki Barki, telah menunjuk calon penjamin emisi (underwriter).

“Borneo Energi menargetkan dana US$200 juta-US$300 juta [setara dengan Rp1,87 triliun-Rp2,81 triliun, sedangkan Harum Energy mengincar US$300 juta-US$400 juta [setara dengan Rp2,81 triliun-Rp3,74 triliun],” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Menurut rencana, Borneo, yang memiliki 100% saham PT Asmin Koalindo Tuhup di Kalimantan Tengah, perusahaan tambang batu bara berkalori tinggi (coking coal), akan melepas 20%-25% saham ke pasar.

Harum Energy, yang menguasai PT Tanito Harum, perusahaan tambang batu bara (thermal coal) untuk memasok pembangkit listrik, kemungkinan melepas sekitar 30% saham ke pasar dalam penawaran umum perdana (IPO).

Borneo, ujarnya, menunjuk CIMB Securities sebagai penjamin emisi untuk pasar domestik dan regional. CIMB kemungkinan dibantu oleh Sinarmas Sekuritas.

Perusahaan tambang itu juga dalam proses menunjuk underwriter untuk menangani penjualan saham di pasar internasional. “Kemungkinan mengarah ke Morgan Stanley Asia Indonesia [yang kini dipimpin oleh Presiden Direktur Andy Purwohardono, mantan Dirut PT Danareksa Sekuritas],” tuturnya.

Ketika dikonfirmasi, I Wayan Gemuh, Head of Corporate Finance CIMB Securities, mengatakan tidak bisa berkomentar soal itu.

Hardianto, Direktur Borneo, mengatakan belum mengetahui soal rencana IPO saham perseroan.

Tingkatkan produksi

Menurut sumber Bisnis, Borneo akan menggunakan sebagian dana yang diperoleh dari IPO untuk meningkatkan produksi dari kapasitas 3,6 juta ton menjadi 5 juta ton per tahun.

Asmin Tuhup kini menghasilkan batu bara dengan kapasitas terpasang 2,4 juta ton per tahun dan sedang dalam proses pembelian peralatan tambahan dan peningkatan infrastruktur agar dapat mencapai kapasitas 3,6 juta per tahun sebelum Agustus tahun ini.

“Dana hasil IPO selebihnya akan digunakan untuk melunasi utang kepada konsorsium bank lokal dan asing,” ujarnya.

Kalori batu bara yang dihasilkan oleh Asmin Tuhup mencapai 8.200 kcal dan komoditas itu seluruhnya dijual di pasar ekspor. Harga batu bara jenis hard coking saat ini mencapai US$175 per ton. Total sumber daya yang terkuantifikasi tambang itu mencapai 240 juta ton.

Harum Energy, ujar bankir investasi itu, menunjuk empat penjamin emisi yakni Goldman Sachs, Deutsche Securities, Mandiri Sekuritas, dan Ciptadana Securities. Goldman dan Deutsche nantinya membantu penjualan saham di pasar luar negeri, sedangkan Mandiri dan Ciptadana menangani pasar domestik,

Presiden Direktur Ciptadana Ferry Budiman Tanja tidak berhasil dihubungi ketika dikonfirmasi mengenai rencana IPO Harum Energy. Direktur Investment Bank Mandiri Sekuritas Iman Rachman menolak berkomentar. “Lebih baik tanyakan saja mengenai hal itu kepada emiten.”

Harum Energy pada akhir tahun lalu mencari utang senilai US$200 juta guna membiayai kembali utang dan modal kerja perusahaan. Harum telah menunjuk DBS Group Holdings Ltd untuk mencari utang itu.

Analis PT AAA Sekuritas Herman Koeswanto menilai tahun ini merupakan momentum tepat IPO perusahaan tambang dan energi, di tengah tingginya valuasi saham sektor tersebut.

“Dengan valuasi saham industri yang tinggi, calon emiten baru berpotensi besar mendapat valuasi harga yang tinggi juga. Jika mereka memiliki kapasitas fundamental setara dengan emiten di bursa sekarang, tentu valuasinya ikut terangkat,” tuturnya.

Analis PT Danareksa Sekuritas Metty Fauziah menilai harga batu bara sepanjang 2010 berkisar di level US$85 per metrik ton, menyusul pemulihan ekonomi dunia.

Permintaan batu bara dari China masih tinggi karena mayoritas pembangkit listrik di sana menggunakan batu bara. Proyek 10.000 megawatt tahap dua di Indonesia juga masih menggunakan batu bara,” ujarnya. (irvin. avriano@bisnis.co.id/arif.gunawan@ bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Irvin Avriano A., Arif Gunawan S. & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: