Skip to content

BBM = batu item, bahan bakar murah : 260410

April 26, 2010

Saham Lapis Kedua Kokohkan Rekor Baru IHSG
Indeks sempat menyentuh level tertinggi 2.948,6 dan terendah 2.924,73.
SENIN, 26 APRIL 2010, 12:16 WIB
Arinto Tri Wibowo

Pialang di lantai Bursa Efek Indonesia (VIVAnews/Tri Saputro)
BERITA TERKAIT
Lapis Kedua Atraktif, IHSG Berpotensi Rebound
Meski Rawan, Saham Lapis 2 Berpotensi Rebound
Sesi II, Saham Semen Bakal Menarik
Ditopang Astra, IHSG Menguat Tinggi di Asia
Sesi II, IHSG Cermati Bursa Regional
Web Tools

VIVAnews – Pergerakan positif indeks bursa Asia dan penguatan sebagian saham lapis kedua karena terpicu sentimen aksi korporasi, memicu indeks harga saham gabungan (IHSG) terus melaju hingga akhir transaksi sesi pertama Senin 26 April 2010.

Pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat 22,35 poin (0,76 persen) ke level 2.947,08. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 2.948,6 dan terendah 2.924,73.

Perolehan indeks tersebut semakin memperkuat posisinya untuk terus mencatatkan rekor tertinggi baru.

Selama transaksi, volume saham berpindah tangan mencapai 6,14 juta lot senilai Rp 1,73 triliun dengan frekuensi 65.991 kali. Sebanyak 132 saham menguat, 60 melemah, 74 stagnan, dan 232 saham tidak terjadi transaksi.

Analis PT BNI Securities Asti Pohan mengatakan, sentimen positif yang melingkupi bursa saham di Amerika Serikat dan Eropa pada perdagangan terakhir berimbas positif ke pasar saham di dalam negeri. Demikian juga pada bursa kawasan Asia yang aktif ditransaksikan.

Sentimen positif yang terjadi di lantai bursa berbagai negara, menurut Asti, terutama dipicu oleh spekulasi belanja konsumsi Amerika yang membaik pada kuartal I-2010.

Harga komoditas pada perdagangan terakhir, dia melanjutkan, mayoritas ditutup menguat seperti minyak bumi dan batu bara. Harga komoditas lainnya yang juga menguat adalah timah dan minyak kelapa sawit. Hanya harga nikel yang bergerak berlawanan.

Sementara itu, laporan keuangan emiten pada kuartal I-2010 yang sebagian besar menunjukkan kinerja positif, ikut menopang penguatan indeks hari ini. “Indeks akan ditutup menguat hari ini,” ujarnya.

Saham-saham yang mengontribusi penguatan indeks di antaranya PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) terangkat Rp 70 (9,21 persen) menjadi Rp 830, PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) terangkat Rp 60 (25 persen) ke posisi Rp 300, dan PT Agis Tbk (TMPI) menguat Rp 45 (19,56 persen) menjadi Rp 275.

Sementara itu, di bursa Asia hingga saat penutupan sesi pertama hari ini di BEI, mayoritas indeks bergerak naik. Indeks Hang Seng ke level 21.589,75 atau menguat 345,26 poin (1,63 persen), Nikkei 225 terangkat 230,99 poin (2,12 persen) menjadi 11.145,45, dan Straits Times naik 14,45 poin (0,48 persen) ke posisi 3.002,94. (hs)

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
Si hitam manis yang dibenci tapi dirindu
Jumat, 23/04/2010 10:57:42 WIBOleh: Aprilian Hermawan
Dalam rapat dengar pendapat antara Komisi VI DPR dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Pertamina (Persero) serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk kemarin, Dirut PLN Dahlan Iskan menyatakan keinginannya untuk memiliki tambang batu bara.
“Kami nggak ingin menderita karena PLN tidak punya KP [kuasa pertambangan]. Taiwan saja punya KP kok,” ujarnya lantang.

Pernyataan Dahlan ini tidak lepas dari permasalahan PLN saat ini yang mirip tikus kelaparan di lumbung padi. Selalu mengalami kesulitan batu bara, padahal Tanah Air ini sangat kaya akan komoditas itu.

Perusahaan setrum milik negara itu terpaksa mencari sendiri bahan baku untuk pembangkit listrik guna menghindari pemakaian BBM yang harganya lebih mahal ketimbang batu bara.

Solusi yang kemudian ditempuh PLN-melalui PLN Batubara-menuju kepemilikan usaha tambang yaitu dengan menggandeng KP skala kecil untuk bekerja sama memasok batu bara. Menurut Dahlan, upaya ini memang patut dicoba agar sama-sama memberi keuntungan dua pihak. Di satu sisi para KP mendapat kepastian pembelian dan di sisi lain PLN memperoleh jaminan pasokan batu bara.

Disparitas harga jual yang selama ini menjadi kendala diharapkan bisa diatasi karena PLN sendiri yang mengoperasikan KP tersebut. Selain itu, BUMN itu juga akan memberikan kompensasi berupa royalti dalam bentuk dolar per ton kepada pemilik KP dengan besaran yang ditenderkan.

“Saya tahu ini sulit dilaksanakan tetapi ini harus dilakukan agar kita tidak selalu tergantung kepada pemasok.”

Belum adanya komitmen jelas dari pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri memperlihatkan kebijakan yang diambil masih sebatas tambal sulam. Akibatnya, setiap tahun PLN selalu saja menjerit kekurangan pasokan batu bara untuk pembangkit. Seperti diketahui, kebutuhan batu bara BUMN listrik itu sekitar 38 juta ton pada tahun ini.

Menurut Direktur Perencanaan dan Teknologi PLN Nasri Sebayang, kalaupun pasokan tersedia harga jual kerap menjadi persoalan karena para penjual memasang harga tinggi dengan mengacu indeks pasar internasional. Padahal, pendapatan yang diterima PLN hanya berbentuk rupiah dengan tarif TDL yang paling rendah di kawasan Asia.

“Karena putus asa mencari batu bara tapi nggak dapat, kami pernah memutuskan untuk mengimpor batu bara dari Australia. Kabar itu pun dibaca pemerintah dan kami ditelepon Menteri ESDM, waktu itu Pak Purnomo Yusgiantoro, yang akhirnya ikut turun tangan,” tuturnya dalam kesempatan terpisah.

Berdasarkan data perseroan listrik itu, program energy mix dan konversi energi merupakan salah satu fokus untuk menyelesaikan permasalahan mendasar di tubuh BUMN tersebut. Pasalnya, biaya bahan bakar mencapai rata-rata 70% dari biaya pemeliharaan yang pada akhirnya ikut menentukan biaya pokok produksi.

Kurangi BBM

Untuk itu, perusahaan mau tak mau harus mengurangi konsumsi BBM dalam mengoperasikan pembangkit dengan mengganti bahan bakar lain yang lebih murah seperti batu bara, gas atau alternaif lain.

Sebagai perbandingan, BBM lebih mahal tiga hingga empat kali lipat untuk per satuan energi yang dihasilkan oleh gas dan jika dibandingkan dengan batu bara, penghematan bisa diperoleh sekitar separuhnya

Badan Pemeriksa Keuangan baru-baru ini melaporkan temuan pemborosan dalam penggunaan anggaran pada PT Indonesia Power, anak perusahaan PLN, senilai Rp27,94 triliun atas penggunaan bahan bakar pembangkit.

Auditor eksternal itu menuding penyebab pemborosan tersebut karena tidak adanya klausul yang menjamin penyediaan bahan bakar secara rutin dalam kontrak penyediaan bahan baku batu bara.

Timbul pertanyaan, mengapa Indonesia yang merupakan negara eksportir terbesar untuk batu bara justru harus menggunakan bahan bakar minyak yang lebih mahal untuk pembangkit listriknya?

Sebelum menyinggung itu, perlu kiranya melihat peta produksi batu bara di Tanah Air secara ringkas. Indonesia saat ini hanya menempati posisi ke-8 dunia sebagai produsen batu bara atau bukan produsen terbesar di dunia untuk komoditas hitam manis ini.

Akan tetapi, seperti yang sudah disebutkan di awal, Indonesia kini menempati posisi paling atas sebagai eksportir batu bara.

Setiap tahunnya, sekitar 150 juta ton batu bara diekspor ke luar negeri dengan total produksi 230 juta ton pada tahun ini. Kinerja Indonesia ini menggeser posisi Australia yang pada 2004 merupakan eksportir terbesar di dunia. Jadi separuh lebih dari produksi batu bara Indonesia dieskpor ke luar negeri.

Bagaimana dengan China? Cadangan batu bara terbesar memang sejatinya dimiliki oleh China dan Amerika Serikat. Akan tetapi, China hingga saat ini boleh dikatakan belum mengutak-atik batu baranya demi kepentingan jangka panjang.

Begitupula dengan AS yang baru pada akhir-akhir ini saja gencar mengembangkan teknologi CBM (coal bed methane) untuk diambil gasnya. CBM adalah gas metana yang dihasilkan selama proses pembatubaraan dan terperangkap di dalam lapisan batu bara.

Pertimbangan ekspor bagi perusahaan pertambangan itu tidak lain didasarkan harga internasional yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga lokal. Selain itu, mereka lebih senang menjual batu bara ke luar negeri karena PLN-menurut penuturan beberapa produsen yang enggan disebut namanya-sering berutang dalam hal pembelian komoditas ini.

Apa pun alasan tersebut. Faktanya, ekspor batu bara memang begitu besar dan telah menyebabkan kebutuhan pasok energi dalam negeri, seperti halnya untuk tenaga listrik, menjadi seakan terabaikan.

Getolnya pencairan sumber mineral ini seolah menempatkan posisi energi terbarukan sebagai hal yang tak populer. Padahal, batu bara ekonomis yang berasal dari Kalimantan dan Sumatra itu tercipta dari fosil yang membatu 20 juta-45 juta tahun yang lalu, tergantung di lapisan mana dia berada.

Hingga 2019, PLN juga masih mengandalkan batu bara dengan porsi energy mix terbesar untuk kebutuhan pembangkit. Kondisi ini menunjukkan bagaimana energi fosil masih menjadi fokus utama dalam pemenuhan pasok energi dalam negeri di Indonesia.

Selain batu bara, PLN juga masih mengonsumsi BBM yang berharga mahal, padahal perseroan pelat merah itu masih disubsidi pemerintah.

Temuan BPK tadi agaknya semakin membenarkan urgensi aturan domestic market obligation yang saling menguntungkan antara pemerintah dan produsen. Dengan begitu, KP tidak selalu tergiur keuntungan besar, sementara itu PLN juga bisa menetapkan harga wajar dan pembayaran lancar untuk batu bara yang dibeli.

Bukankah kekayaan alam ini diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar untuk sebesar-besarnya dipergunakan bagi kemakmuran rakyat? Jadi jangan sekadar bilang benci batu bara, tetapi dalam sikapnya, pemerintah seakan merindu si hitam manis itu. Benci atas emisi kotor, tapi terus saja mengekspor komoditas ini karena rindu devisa yang didapat. (aprilian.hermawan@bisnis.co.id)

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: