Skip to content

YANG DIINCAR: batu item indo … 280410

April 28, 2010

27/04/2010 – 15:51

Coal India Incar Tambang di Indonesia
Susan Silaban

(IST)

INILAH.COM, Jakarta – Produsen bahan bakar, Coal India Ltd telah menyiapkan dana sekitar US$1,7 miliar untuk membeli lima tambang di Australia, Indonesia dan AS.

Akuisisi ini dilakukan untuk menjembatani kekurangan konsumen energi di negara terbesar ketiga di Asia ini. “Kami memiliki setara dengan US$7,4 miliar untuk akuisisi guna memenuhi kebutuhan,” kata Ketua perusaaan yang berbasis di Kolkata, Partha Bhattacharryya seperti dilansir Bloomberg, Selasa (27/4).

Coal India menunjuk Bank of America Merrill Lynch, Royal Bank of Scotland Group Plc dan Royal Bank of Canada untuk melakukan due dilligence lima tambang. Penilaian ini mungkin akan selesai dalam empat bulan dan pembelian dapat dilakukan dalam enam bulan.

“Kami yakin kita akan mampu untuk memenuhi perjanjian untuk paling sedikit dua dari lima proposal. Kami akan bahagia jika kita mendapatkan semua lima tambang itu,” katanya.

India mengimpor sekitar 10 persen kebutuhan batubara dan lima tambang bersama-sama dapat memenuhi sekitar 50 persen dari impor bahan bakar tahunan.

Impor batubara melonjak tahun lalu menjadi sekitar 60 juta ton dari sekitar 30 juta ton pada tahun 2008, Macquarie Group mengatakan pada bulan Maret. “India merencanakan untuk meningkatkan impor batubara menjadi 81 juta ton pada tahun yang berakhir Maret 2012,” kata Jaiswal pada November tahun lalu.

Pemerintah India telah mengundang tawaran dari bankir pedagang pada 3 Mei untuk diangkat sebagai penasihat untuk penjualan 10 persen saham di Coal India. [san/cms]
‘Ekspor batu bara jenis tertentu perlu dicegah’
Harga beli batu bara PLN dinilai kemahalan

JAKARTA: PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengusulkan agar pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor batu bara tertentu agar bisa dikonsumsi oleh konsumen batu bara domestik, termasuk BUMN listrik itu dengan harga lebih rendah.
Dirut PLN Dahlan Iskan mengakui selama ini perusahaan harus membeli batu bara dalam spesifikasi yang sama dengan harga yang lebih mahal, dibandingkan dengan harga ekspor.

Menurut dia, selain harga komoditas yang memang cenderung lebih tinggi, biaya transportasi batu bara yang akan dipasok dari sumber batu bara ke pembangkit-pembangkit listrik PLN di Jawa juga lebih tinggi dibandingkan dengan biaya transportasi ekspor.

“PLN memang memiliki selisih harga beli batu bara dibandingkan dengan konsumen lain. Biaya pengiriman batu bara dari Kalimantan ke Suralaya misalnya, ternyata bisa lebih mahal dibandingkan dengan biaya transportasi batu bara ke Korsel,” katanya dini hari kemarin.

Akan tetapi, tuturnya, PLN berada dalam posisi sulit bergerak karena telah terikat dengan kontrak jangka panjang.

“Sebenarnya kalau dipikir-pikir kami akhiri saja kontrak-kontrak itu karena tidak menguntungkan dan menjadikan biaya produksi PLN lebih tinggi.”

Untuk itu, katanya, PLN mengimbau pemerintah agar membuat satu regulasi yang bisa mengatasi persoalan harga batu bara tersebut.

Salah satu alternatif usulan itu dengan jalan melarang ekspor batu bara kalori tertentu yang banyak dikonsumsi oleh konsumen domestik.

“Supaya batu bara harganya bisa lebih rendah, itu bisa dengan regulasi. Misalnya, batu bara tertentu dilarang ekspor. Misalnya yang diatur, yang 5.500 ke atas boleh dieskpor, yang ke bawah di domestik. Itu bisa dilakukan toh batu bara kita punya.”

Selisih harga

Pernyataan Dahlan tersebut merupakan respons dari Anggota Komisi VII DPR F-PKS Muhammad Idris Lutfi yang menemukan data yang menunjukkan selisih harga beli PLN dan harga jual batu bara bagian pemerintah yang diekspor yang lebih dari US$10 per ton untuk satu spesifikasi batu bara yang sama.

Bahkan, perbedaan harga itu bisa sampai US$24 per ton.

“Kalau selisihnya US$10 per ton mungkin masih wajar karena transportasi dan segala macam. Namun, ini selisihnya bisa US$24 per ton. Bagaimana itu bisa terjadi. Apakah memang tidak ada upaya dari pemerintah untuk melindungi PLN,” katanya.

Dirjen Mineral, Batu bara dan Panas Bumi Kementerian ESDM Bambang Setiawan mengatakan pemerintah menduga perbedaan itu disebabkan oleh metode pengiriman batu bara.

Batu bara bagian pemerintah, katanya, dijual dengan pola free on board (FoB) sedangkan batu bara perusahaan biasanya dijual dengan pola cost and freight (CNF).

“Sehingga kalau terjadi selisih harga itu wajar. Kalau soal selisihnya terlalu besar dan itu disebabkan oleh transportasi, mungkin bisa ditanyakan bagaimana pola yang digunakan PLN selama ini.”

PLN dan juga konsumen domestik lainnya, lanjut Bambang, tidak bisa dengan mudah menggunakan batu bara bagian pemerintah sebesar 13,5%. Dia beralasan bagian pemerintah atau dikenal dengan dana hasil produksi batu bara tersebut diserahkan dalam bentuk in cash.

“Selain itu, Pemda memiliki sekitar 80% dari total DHPB sehingga tidak bisa begitu saja memberikan bagian pemerintah secara bulat-bulat kepada PLN,” katanya. (rudi.ariffianto@bisnis.co.id)

Oleh Rudi Ariffianto
Bisnis Indonesia
27/04/2010 – 16:27
[increase] [decrease]
PLN Minta Pemerintah Batasi Ekspor Batubara Kalori di Bawah 5.500
Makarius Paru

(inilah.com/Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta – PT PLN (Persero) berharap kepada pemerintah untuk bisa membatasi ekspor batubara khusus kalori tertentu sehingga bisa dialokasikan ke kebutuhan domestik.

“Soal pemenuhan kebutuhan suplai batubara pasar domestik perlu dukungan regulasi, sehingga semuanya mengikat,” kata Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan di Jakarta, Selasa (27/4).

Menurut Dahlan, untuk memenuhi pasokan batubara ke pasar domestik sangat dibutuhkan dukungan regulasi. “Harga batubara bisa murah, salah satunya dengan menerbitkan suatu regulasi. Misalnya dengan menentukan batubara dengan jenis kalori seperti apa yang harus diekspor sehingga harga bisa turun,” kataya.

Ia melanjutkan, salah satu contohnya adalah dengan membatasi ekspor hanya untuk batubara dengan kalori di atas 5.500 kkal/gr, sementara batubara untuk kalori di bawah 5.500 kkal/gr dialokasikan untuk konsumen domestik.

Jika ini diberlakukan, menurut Dahlan, tidak hanya PLN yang diuntungkan, namun juga kontraktor listrik swasta (independent power producer/IPP) serta konsumen domestik lainnya juga ikut untung. [cms]

From → Seputar Indy

One Comment
  1. Haris Istanto permalink

    Posting yang menarik, sukses untuk Anda.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru hari ini berjudul : “Analisa usaha cuci sepeda motor (lanjutan)”, serta artikel lain yang menarik, dan kalau berkenan mohon diberi komentar. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: