Skip to content

indy bagi dividen … 180510

Mei 17, 2010

18/05/2010 – 16:15
IHSG Menghijau Didominasi Saham Lapis Dua
Asteria

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks saham akhirnya dapat berlabuh di teritori positif, seiring penguatan bursa regional Asia. Saham lapis dua mendominasi apresiasi bursa.

Pada perdagangan Selasa (18/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 14,716 poin (0,52%) ke level 2.834,186. Demikian pula indeks saham unggulan LQ45yang naik 4,143 poin (0,76%) ke level 546,994.

IHSG pada awal perdagangan hari ini dibuka menguat tipis 0,16% ke level 2.823. Membaiknya bursa regional, menumbuhkan kepercayaan pasar. Indeks pun beringsut naik, hingga pada sesi siang bertengger di angka 2.828 dan akhirnya ditutup di 2.834.

Pardomuan Sihombing, analis pasar modal dari Paramitra Securities mengatakan, penguatan indeks sore ini hanya sekadar technical rebound, menyusul melemahnya indeks pada perdagangan kemarin sebesar 38 poin. “Terutama setelah sepanjang perdagangan merosot cukup tajam. Apalagi belum banyak sentimen positif di pasar,” katanya kepada INILAH.COM .

Menurutnya, penguatan IHSG juga didukung positifnya bursa regional. Saat ini pasar masih mencermati perkembangan penyelesaian kasus Yunani, yang telah membuat mata uang negara gabungan Eropa, euro, mencapai level terendah dalam setahun terakhir. Sentimen negatif juga datang dari harga komoditas yang sempat menyentuh level terendahnya sepanjang 2010 di kisaran US$70 per barel.

Meskipun pagi hari tadi, harga minyak mentah berhasil ditutup menguat tipis. Ini adalah kenaikan pertama kalinya setelah dollar AS melemah terhadap euro. Minyak mentah menguat setelah euro rebound dikarenakan oleh optimisme pasar tentang krisis utang di kawasan Eropa.

Adapun pada perdagangan hari ini, saham lapis dua (second liner) lebih mendominasi perdagangan. Sedangkan saham kapitalisasi besar lainnya relatif sideways. Beberapa saham lapis dua yang menguat antara lain PT Sarana Menara (TOWR) naik Rp300 ke Rp2.200 dan PT Bank Tabungan Pensiun Negara (BTPN) naik Rp300 ke Rp7.300,

Sektor-sektor saham bergerak variatif, dimana sektor finansial memimpin penguatan sebesar 1,6%. Disusul infrastruktur 0,9%, perkebunan 0,8%, industri dasar 0,7%, properti 0,6% dan tambang 0,4%. Sedangkan sektor perdagangan, aneka industri, konsumsi dan manufaktur masih membukukan pelemahan.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup ramai, dimana volume transaksi tercatat sebanyak 4,452 miliar lembar saham, senilai Rp4,270 triliun dan frekuensi 112.286 kali. Sebanyak 128 saham naik, 85 saham turun dan 73 saham stagnan.

Aktivitas transaksi investor asing masih membukukan pembelian bersih (foreign net buy) sebesar Rp16,622 miliar. Dimana aksi beli tercatat mencapai Rp2,157 triliun dan aksi jual asing sebesar Rp2,140 triliun.

Beberapa emiten lain yang menguat antara lain PT Bukit Asam (PTBA) naik Rp200 ke Rp 18.050, PT Indika Energy (INDY) naik Rp150 ke Rp 2.775, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp150 ke Rp8.500, serta PT Bank Mandiri (BMRI) menguat Rp150 ke Rp5.550.

Sedangkan emiten-emiten lain yang melemah antara lain PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp700 ke Rp36.900, PT Plaza Indonesia (PLIN) merosot Rp520 ke Rp1.980, PT Astra International (ASII) terkoreksi Rp400 ke Rp41.500, PT Astra Otoparts (AUTO) melemah Rp250 ke Rp13.300, serta PT London Sumatera (LSIP) turun Rp100 menjadi Rp8.850.

Bursa Asia ditutup dominasi penguatan. Indeks Hang Seng naik 229,74 poin (1,17%) ke level 19.944,94, indeks Kospi di Korsel turun 8,27 poin (0.5%) di level 1.643,24, seiring ketidakpastian masalah hutang kawasan Eropa yang terus berlanjut dan potensi pengetatan lebih lanjut di China. Aksi profit-taking melanda bursa, dipimpin saham sektor teknologi, otomotif dan airlines.

Indeks Nikkei Stock Average naik 6,88 poin (0,1%) menjadi 10.242,64 setelah kemarin rugi 2,2%. Rally euro menginspirasikan pembelian saham teknologi tinggi seperti Sony dan Fanuc melekat di tengah ketidakpastian mata uang stabil.

Demikian pula indeks komposit Shanghai yang ditutup naik 34,85 poin (1,4%) menjadi 2.594,78, setelah kemarin jatuh 5,1%, level penutupan terendah sejak 4 Mei 2009. Penguatan ini dipicu bargain-hunting di perusahaan properti. [mdr]
Sektor Komoditas Picu IHSG Naik 14 Poin
Selasa, 18 Mei 2010 – 16:08 wib
TEXT SIZE :
Candra Setya Santoso – Okezone

Foto: Koran SI
JAKARTA – Penutupan perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat. Saham sektor komoditas masih menjadi salah satu faktor pendongkrak perdagangan saham hari ini.

IHSG pada Selasa (18/5/2010) sore menguat 14,716 poin atau 0,52 persen ke 2.834,186. Indeks LQ45 ikut menguat 4,143 poin ke 546,994 dan Jakarta Islamic Indeks (JII) ikut naik 1,079 poin ke 449,871.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp4,271 triliun dengan volume sebanyak 4,452 miliar lembar lot saham. Di samping itu, sebanyak 128 saham melemah, 85 saham menguat, dan 73 saham jalan di tempat alias stagnan.

Indeks Hang Seng melonjak 229,74 poin atau setara 1,17 persen menjadi 19.944,94. Sementara indeks Singapura Straits Times ikut naik 10,66 atau sebesar 0,38 persen ke 2.844,24.

Saham dari berbagai sektor-sektor di dalam negeri cenderung bergerak fluktuatif. Kali ini, penguatan terbesar dipimpin dari sektor perkebunan sebesar 13,17 poin, diikuti dengan penguatan dari sektor pertambangan sebesar 9,93 poin.

Sementara saham yang ditutup menguat (top gainer), adalah PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) naik Rp300 ke Rp14.200, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) naik Rp300 ke Rp7.300, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) naik Rp300 ke Rp2.200, dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp200 ke Rp18.050.

Saham-saham yang ditutup melemah (top losser), antara lain saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun Rp700 menjadi Rp36.900, PT Plaza Indonesia Tbk (PLIN) turun Rp520 ke Rp1.980, PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp400 ke Rp41.500, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) turun Rp250 ke Rp13.300, serta PT Tunas Ridean Tbk (TURI) turun Rp100 ke Rp2.275.(css)
Senin, 17/05/2010 14:19 WIB
Indika Usulkan Dividen 40%
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Manajemen PT Indika Energy Tbk (INDY) mengusulkan pembagian dividen sebesar 40% dari perolehan laba perseroan di tahun buku 2009 yang tercatat Rp 725,670 miliar. Nilai per sahamnya sekitar Rp 55,6 per lembar saham.

Demikian disampaikan Direktur Keuangan INDY, Aziz Rahman di Hotel Dharmawangsa, Jalan Brawijaya, Jakarta, Senin (17/5/2010).

“Biasanya kita membagikan dividen dari laba non core. Tahun kemarin US$ 43 juta. Tahun ini sekitar itu juga, laba core kita Rp 1,2 triliun. Ini berarti 30-40%. Tapi tunggu hasil RUPS,” ujar Aziz.

INDY sepanjang tahun 2009 mencatat laba bersih sebesar Rp 725,670 miliar, atau turun 33,10% dari sebelumnya Rp 1,084 triliun. Laba per saham pun menurun menjadi Rp 139 per saham dari sebelumnya Rp 224 per saham. Jika mengacu pada laba per saham Rp 139, maka dividen yang diusulkan manajeman INDY adalah Rp 55,6 per lembar.

Turunnya laba bersih INDY dikarenakan rugi kurs sebesar Rp 245,329 miliar hingga akhir Desember 2009. Padahal pada tahun sebelumnya, perseroan mendapat keuntungan kurs sebesar Rp 194,841 miliar.

INDY mencatat pendapatan sebesar Rp 2,486 triliun, naik 7,43% dari tahun 2008 sebesar Rp 2,314 triliun. Laba kotor tercatat naik tinggi sebesar 116,13% menjadi Rp 619,853 miliar dari sebelumnya Rp 286,795 miliar. Namun beban usaha membengkak 161,87% menjadi Rp 428,374 miliar dari sebelumnya Rp 163,580 miliar.

Kendati demikian, laba usaha masih mengalami kenaikan sebesar 55,40% menjadi Rp 191,478 miliar dari sebelumnya Rp 123,215 miliar.

(wep/dro)
… sedangkan anak usahanya, PTRO bagi lebe gede tukh:
Senin, 17/05/2010 12:11 WIB
Petrosea Bagi dividen Rp 143 per Saham
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Petrosea Tbk (PTRO) akan membagikan dividen sebesar Rp 143 per lembar saham untuk tahun buku 2009, atau setara dengan 100% dari laba bersih perseroan. Laba bersih perseroan tahun lalu sebesar US$ 1,59 juta.

Demikian disampaikan Presiden Direktur PTRO, Richard Ness usai RUPS Tahunan di Hotel Dharmawangsa, Jalan Brawijaya, Jakarta, Senin (17/5/2010).

“Pembagian 100% dari laba bersih. Kami yakin karena posisi kas kami kuat. Laba ini juga setelah provisi, jadi harusnya lebih besar,” ujarnya.

Perusahaan kontraktor pertambangan batu bara ini mencatat koreksi pada pendapatan usaha mereka sebesar 16,50%. Hingga akhir Desember 2009, PTRO mencatat pendapatan US$ 171,83 juta. Pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat pendapatan perseroan mencapai US$ 205,79 juta.

Perseroan juga mencetak kenaikan pada laba usaha 263,29% menjadi US$ 39,49 juta, dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya US$ 10,87 juta. Naiknya laba usaha dikarenakan penurunan berbagai biaya.

Akibat perbedaan kurs, maka laba bersih Petrosea tercatat melemah 10,67% dari US$ 1,78 juta menjadi US$ 1,59 juta di akhir tahun 2009.

“Laba bersih perusahaan sedikit lebih rendah US$ 1,6 juta,” katanya.

Pemegang saham PTRO akhirnya merestui pinjaman terafiliasi sebesar US$ 140 juta dari Indo Integrated II BV, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY).

“Ya sudah disetujui, transaksi terafiliasi ini,” ujar Corporate Secretary PTRO Anang Rizkani Noor.

Dana tersebut akan digunakan PTRO untuk memperluas kapasitas armada alat berat pertambangan milik perseroan senilai US$ 110 juta, serta untuk pengembangan Petrosea Off Shore Supply Base senilai US$ 30 juta.

Sebelumnya perseroan telah menandatangani pemberian pinjaman sebesar US$ 140 juta Indo Integrated II BV, anak usaha INDY. Dana pinjaman tersebut berasal dari penerbitan surat utang Indo Integrated II BV sebesar US$ 230 juta.

Pinjaman US$ 140 juta yang diterima PTRO merupakan pinjaman terafiliasi yang berasal dari salah satu anak usaha INDY yang lain, yaitu Indo Integrated II BV. INDY adalah pemegang mayoritas (98,55%) saham PTRO.

Penandatangan perjanjian pinjaman telah dilakukan pada 1 April 2010 lalu, antara PTRO dengan Westlake Resources Holdings Ltd. Westlake merupakan anak usaha INDY melalui PT Indika Inti Corpindo dengan kepemilikan 100%.

Pada 5 November tahun lalu, Indo Integrated II BV menerbitkan surat utang senilai US$ 230 juta. Dana tersebut kemudian dikucurkan seluruhnya kepada Westlake dalam bentuk pinjaman berjangka waktu 7 tahun. Westlake kemudian mengucurkan US$ 140 juta kepada PTRO dan akan jatuh tempo pada tahun 2016.

(wep/dro)

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: