Skip to content

indy dkk bergairah lagi … kayanya: 040810

Agustus 4, 2010

03/08/2010 – 14:11
Saham Batubara Mulai Bergairah
Asteria & Natascha

(inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Sektor perbankan mengalami koreksi, pascapengumuman data inflasi yang di atas ekspektasi. Beberapa analis pun memprediksikan saham sektor tambang batubara akan segera mengambil alih.

Hendri Effendi, analis dari Citi Pacific Securities mengatakan, sektor batubara saat ini masih lagging dan berpeluang besar untuk menguat. Terutama karena sektor ini belum mengikuti kenaikan IHSG menembus level 3.000 dua pekan lalu.

Selain itu, koreksi sektor perbankan setelah rilisnya data inflasi Juli yang di atas ekspektasi pasar, membuka peluang bagi naiknya sektor ini. “Sektor tambang batubara akan segera menjadi fokus pasar, seiring melemahnya sektor perbankan,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Ia menilai, sektor komoditas batubara sebenarnya belum banyak bergerak. Terutama karena harga minyak mentah masih cenderung stagnan di kisaran US$80 per barel. “Namun, harga saham batubara bisa terpicu naik kalau ada lompatan besar untuk harga minyak,” katanya.

Sentimen yang juga melemahkan sektor batubara adalah kinerja beberapa emiten yang mengalami penurunan pada semester pertama 2010. Hal ini ditambah faktor musim, dimana turunnya hujan berkepanjangan, dikhawatirkan dapat menyebabkan penurunan produksi.

Namun, beberapa emiten seperti PT TB Bukit Asam (PTBA) dan PT Adaro Energy (ADRO) masih memiliki harga kontrak yang cukup tinggi, seiring harga rata-rata batubara (ASP) yang berada di level atas. “Ini berarti, meski volume produksi turun dan harga minyak tidak bisa berbuat banyak, produsen batubara tetap bisa mendapat keuntungan pada semester dua 2010,” paparnya.

Beberapa saham batubara pilihan Hendri adalah PT Indika Energy (INDY ) dan PT Bayan Energy (BYAN). BYAN menarik karena tidak mengalami penurunan produksi, meski kinerjanya semester pertama 2010 cenderung moderat. Sementara INDY saat ini mengalami konsolidasi dan tertekan cukup dalam, setelah naik tajam beberapa hari lalu. “Investor bisa trading INDY dan BYAN. Buy on weakness pada kedua emiten ini,” katanya.

Bagaimanapun, pergerakan sektor batubara masih terhambat stagnannya saham batubara Bakrie, seperti PT Bumi Resources (BUMI) dan PT Darma Henwa (DEWA). Tak mengherankan mengingat emiten Bakrie ini menjadi penggerak di sektor batubara. “Investor sebaiknya menunggu sentimen membaik dari BUMI, mengingat anak usaha Bakrie ini masih menjadi acuan terbesar, dengan kapitalisasi pasar yang mendominasi,” ulasnya.

Hal senada diungkapkan pengamat pasar modal, Willy Sanjaya. Menurutnya, saham grup Bakrie memang memegang kendali aktifnya pergerakan market. Dengan kepemilikan mayoritas investor atas saham grup ini, maka penguatan indeks tanpa dukungan saham grup Bakrie, tidak akan mendapat gain maksimal.

“Mayoritas investor memiliki mayoritas saham di Seven Brother dibandingkan saham lain. Paling tidak, 3 dari 5 saham mereka adalah grup Bakrie,” ujarnya.

Namun, Willy mengakui adanya geliat di sektor pertambangan termasuk BUMI yang tinggal menunggu giliran untuk naik. Menurutnya, batubara termasuk sektor komoditas alam yang tidak terbarukan, sehingga persediaannya terus menipis setiap tahunnya. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan komoditas ini tetap tinggi. “Alhasil, hingga akhir tahun sektor pertambangan batubara akan sangat menarik,” pungkasnya.

Analis senior HD Capital Yuganur Wijanarko bahkan sudah menjagokan saham BUMI. Walaupun harga batubara terkoreksi akibat imbas China menurunkan proyeksi impor batubara, BUMI tetap bertahan di atas level psikologis Rp.1.700. Hal ini karena valuasi murah, offset potensi risiko utang yang sebenarnya sudah ada solusinya (rights issue, bond restructuring serta IPO Bumi Mineral. “Rekomendasi beli untuk BUMI, dengan target harga di Rp1.900,” katanya.

Dihubungi terpisah, analis dari JP Morgan mengatakan, meski BUMI menjadi penggerak di sektor batubara, masih ada alternatif lain saham yang bisa dipegang investor, yakni ADRO. “Rekomendasi beli untuk emiten ini,” katanya.

Menurutnya, kinerja ADRO secara semesteran menunjukkan peningkatan, dimana volume penjualan batubara naik 22% menjadi 21,75 metrik ton (mt). Demikian juga produksi yang naik 20% menjadi 21,62 mt. Namun, produksi secara kuartalan terhambat akibat tingginya tingkat curah hujan, khususnya pada Juni, yang merupakan curah hujan tertinggi pada tujuh tahun terakhir.

Alhasil, sepanjang kuartal dua ini saja, ADRO hanya mencatatkan kenaikan produksi 15% menjadi 10,26 metri ton (MT) dan penjualan naik 13% menjadi 10,29 MT. “Jika hujan terus terjadi pada semester dua 2010, bukan tidak mungkin target produksi Adaro sebanyak 45 mt untuk tahun ini tidak dapat terpenuhi,” pungkasnya. [jin/mdr]

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: