Skip to content

pipa gas kodeco … 170810

Agustus 17, 2010

[ Senin, 16 Agustus 2010 ]
Relokasi Pipa Tunggu 10 Tahun
KEINGINAN Pemprov Jatim agar pipa gas milik PT Kodeco Energy Ltd yang melintas alur laut pelabuhan Tanjung Perak segera direlokasi mengalami hambatan. Pemerintah Pusat ternyata hanya meminta agar jalur pipa yang melintas di buoy 7 dan buoy 8 Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) itu ditanam lebih dalam hingga minus 19 low water. Sedangkan proses relokasi akan dibahas dalam jangka waktu 10 tahun atau sebelum dermaga Socah, Bangkalan, beroperasi.

Rencana tersebut terungkap dalam kunjungan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa bersama empat menteri perekonomian lainnya di kantor Terminal Petikemas Surabaya (TPS) Surabaya, Sabtu (14/8).

“Dalam jangka pendek, penyelesaian masalah pipa adalah dengan cara dibenamkan minus 19 LWS dari posisi semula 12 LWS. Sudah disepakati proses tersebut akan dimulai akhir Agustus dan harus sudah selesai pada 10 November 2010,” kata Hatta.

Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar menambahkan bahwa solusi memindahkan pipa ke jalur alternatif akan dibicarakan secara komprehensif. “Memang tidak bisa dilaksanakan dalam waktu singkat. Sebab harus mempertimbangkan masalah pasokan gas untuk pembangkit PLN yang berada di Gresik,” ujarnya.

Di sisi lain, keberadaan pipa Kodeco itu mengakibatkan kedalaman APBS berkurang. Sebab, posisinya minus 10,17 meter di bawah permukaan terendah air (low water spring/LWS).

Dengan diameter pipa 50,5 sentimeter, maka posisi permukaan pipa gas teratas berada pada minus 9,7 meter LWS. Akibatnya, kapal-kapal yang masuk ke APBS maksimal minus 8,5 meter LWS. Frekuensi kedatangan kapal yang dulu bisa mencapai 72.000 per tahun, kini tinggal 31.000 per tahun. (aan/fat)
Pembangunan Pelabuhan Socah Terkendala Pipa Kodeco
Selasa, 17 Agustus 2010 – 15:02 wib

Andina Meryani – Okezone

JAKARTA – Rencana pembangunan pelabuhan Socah di Selat Madura menemui kendala yang serius jika pipa gas milik PT Kodeco yang berada dibawah alur pelayaran selat Madura tidak dipindahkan.

Adapun rencana pemendaman pipa sedalam 19 meter yang akan dilakukan oleh PT Kodeco hanya merupakan solusi sementara.

“Tapi kalau kedepan akan dibangun pelabuhan socah, maka pipa ini harus dipindahkan,” ujar Direktur Utama Pelindo III, Djarwo Surjanto sebagaimana dikutip dari situs resmi Kementerian Perhubungan di Jakarta, Selasa (17/8/2010).

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Laut Soenaryo menegaskan pemindahan pipa gas yang ada dibawah alur lintasan kapal di Selat Madura harus segera cepat diselesaikan dan proses pemindahan ini jangan sampai mengganggu kegiatan kapal-kapal yang melintas di alur tersebut.

Pipa gas ini merupakan milik PT. Kodeco Energy Co. Ltd yang berfungsi sebagai pasokan pembangkit listrik untuk daerah Jawa Timur. Pipa ini dipasang dibawah alur lintasan kapal selat madura, dimana alur ini dilintasi kapal-kapal yang menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Keberadaan pipa ini dinilai sangat mengganggu aktivitas pelabuhan.

Menurut Soenaryo, pemindahan pipa ini sebenarnya akan dilakukan PT Kodeco pada 1 Juni 2010, namun pada prakteknya selalu mundur. Pihak BP Migas selaku pemegang proyek pemindahan pipa gas ini mengatakan, untuk sementara waktu, sebelum dipindahkan, pipa ini akan dipendamkan dahulu hingga kedalaman 19 meter dibawah permukaan. “Hasil rapat terakhir menyebutkan, pemendaman pipa gas ini akan dilakukan pada 27 Agustus 2010 mendatang,” ujarnya.

Terkait dengan kegiatan pemendaman pipa yang dilakukan akhir agustus ini, dia meminta kepada Adpel Gersik dan Surabaya, serta distrik navigasi Surabaya untuk mengawasi kegiatan pemendaman pipa agar tidak mengganggu arus lalu lintas kapal di alur tersebut, dirinya meminta untuk dibuat jalur alternatif bagi kapal-kapal yang akan melintas di kawasan ini. Dia juga meminta kepada adpel dan distrik navigasi agar tidak mempersulit kapal asing yang bertugas mengerjakan pemendaman pipa gas.

“Jangan sampai kegiatan ini berakibat kepada berhentinya kegiatan alur kapal yang masuk dan keluar pelabuhan,” tandasnya.(adn)(rhs)
15/08/2010 – 12:51
Tabrakan Kapal Kargo
Kondisi Anjungan Kodeko Aman
Susan Silaban

Ilustrasi
(IST)
INILAH.COM, Jakarta – Anjungan KE40 milik Kodeco Energy yang terletak di perairan Laut Jawa, yang tertabrak kapal kargo dalam kondisi aman.

Seperti dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, anjungan Kodeco terletak di sekitar 80 km sebelah Utara Kota Gresik, Jawa Timur, tertabrak kapal kargo, Rabu (11/8), pukul 18.53 WIB.

Akibat kecelakaan tersebut, anjungan saat ini dalam kondisi condong ke arah barat daya kurang lebih 40 derajat. Terjadi kerusakan pada landasan sandaran kapal dan tangga di sisi utara anjungan. Beberapa peralatan seperti separator dan hand rail juga terlepas.

“Hingga saat ini, kondisi anjungan dalam kondisi aman. Tidak ada korban jiwa, tidak ada tumpahan minyak, dan tidak terjadi kebakaran,” kata Deputi Pengendalian Operasi, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS), Budi Indianto, di Jakarta, Sabtu kemarin.

Investigasi telah dilakukan BPMIGAS, Direktorat Jenderal Migas, Kodeco Energy, Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai (KPLP), dan TNI AL. Hasil sementara menunjukkan telah terindikasi kapal yang diduga menabrak anjungan tersebut. “Tapi akan kami selidiki lebih lanjut,” katanya.

Budi menjelaskan, meski tidak ada indikasi yang mengarah terjadinya kebocoran minyak, BPMIGAS dan Kodeco terus memonitor anjungan dan tetap menggelar peralatan penanggulangan tumpahan minyak untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Langkah pengamanan dilakukan dengan penyiapan oil boom yang akan didukung peralatan gabungan dari HESS, Santos, JOB Pertamina-Petrochina East Java (PPEJ), dan Kangean Energy. Selain itu, telah disiagakan bantuan dari pihak ketiga, yaitu Slickbar Indonesia untuk membantu pengamanan anjungan. “Seluruh peralatan dapat digerakan dalam jangka waktu tiga jam ke lokasi kejadian,” kata Budi.

Kepala Dinas Humas dan Hubungan Kelembagaan, Elan Biantoro, menambahkan, setelah kejadian, anjungan KE40 yang terdapat tujuh sumur langsung dimatikan. Kerugian produksi diperkirakan sebesar 1.600 barel minyak per hari dan 15 juta standar kaki kubik gas per hari.

Terkait perbaikan anjungan, telah dimulai proses assessment untuk mengetahui kestabilan anjungan. Proses tersebut diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga minggu. “Setelah itu, baru dapat dianalisa berapa lama proses perbaikan dan akan diketahui apakah anjungan dapat berproduksi kembali atau tidak,” kata Elan.

Tindakan jangka pendek, Kodeco telah memobilisasi kapal inspeksi Remotely Operated Vehicle (ROV) menuju KE40. Kapal tersebut akan memeriksa struktur di bawah permukaan laut untuk mengetahui tanda-tanda kerusakan fisik lainnya.

Saat ini Kodeco mengoperasikan 14 anjungan yakni KE5, KE6, KE23, KE30, KE32, KE38, KE40, KE56, Poleng AW, BW, CW, DW, Poleng Processing Platform, dan Central Processing Platform (CPP) dengan total Produksi gas sebesar 205 juta standar kaki kubik per hari dan produksi minyak dan kondensat sebesar 30.000 barel per hari. Konsumen gas hasil produksi Kodeco adalah PLN, PGN, dan Petro Kimia Gresik (PKG). Sementara minyak mentah disimpan di FSO Madura Jaya untuk memenuhi kilang minyak pertamina di Balikpapan dan Cilacap. [hid]

From → Seputar Indy

One Comment
  1. adik dwi putranto permalink

    Dengan dilakukannya pekerjaan pendalaman dan atau pemendaman sementara Pipa Kodeco ini kan berarti membuktikan bahwa Pemasangan Pipa Kodeco itu telah melanggar…….dan pastinya telah terjadi pemborosan anggaran negara berkali lipat, coba deh bayangkan dari Proses Pemasangan Pipa yg “Salah”, Negara sudah Keluar Biaya ($ ..?.. Juta), karena “SALAH” lalu dilakukan Pekerjaan Pendalaman Sementara atas PiPa Gas Kodeco yg sudah dipasang tapi karena kesalahan pemasangan, Negara Keluar Biaya lagi ($ 8 Juta US), dan terakhir adalah Pemindahan Pipa Gas yg disesuaikan dgn rencana awal ($ …?…Juta), Negara Keluar biaya lagi …… belum kalau ada mark up biaya, jadi Masalah Pipa Kodeco, akibat Pelanggaran dan atau Kesalahan dan atau Kelalaian dari BP Migas sebagai Regulator Hulu Migas, Negara telah melakukan Pemborosan Dana Rakyat Indonesia dan Telah Merugikan Ekonomi Jawa Timur, JADI SANGAT PATUT DIDUGA ADA UNSUR PIDANA disini …… Hayoooo Mana BPK ?, mana KPK ?, mana Pak Polisi ?, mana Kejaksaan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: