Skip to content

indy maseh PROSPEKTIF … 290810

Agustus 29, 2010

27/08/2010 – 12:24
Pilih-Pilih Saham Batu Bara Prospektif
Asteria

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Saham sektor batu bara masih bisa menjadi pilihan investor. Di tengah tekanan harga komoditas ini, ada ekspektasi peningkatan permintaan pada kuartal empat 2010. Saham apa yang menarik?

Analis riset Lautandhana Sekurindo Muhammad Sugiarto melihat saham sektor batu bara masih menjanjikan untuk jangka pendek. Meskipun ada penurunan atau stagnansi di harga batu bara, sehingga harganya cenderung dalam tekanan. “Hal ini dipicu turunnya permintaan global, terutama dari China, yang sedang fokus pada penggunaan energi alternatif, sehingga pemakaian batu bara berkurang,” katanya kepada INILAH.COM.

Namun, Ia memperkirakan ada pergerakan di sektor batu bara pada kuartal empat. Faktor musim dingin di beberapa negara, diyakini akan memicu kenaikan permintaan akan komoditas ini. Produsen batu bara juga masih prospektif, karena produksi terbilang cukup kuat ketimbang pordusen lain. “Hal ini didukung biaya produksi di sektor batu bara yang termasuk rendah ketimbang industri lain di dalam negeri,” paparnya.

Ini berarti, untuk jangka menengah, harga batu bara akan naik, dipicu ketatnya suplai dan naiknya permintaan global. “Sedangkan untuk jangka pendek, ada fluktasi tapi tidak banyak,” katanya.

Senada dengan Yuganur Wijanarko, analis senior di HD Capital. Menurutnya, meski harga jual rata-rata batu bara tahun ini turun 10% akibat ketakutan berlebihan pelemahan permintaan dari China, harga batu bara pada semester dua 2010 akan mulai stabil.

Produksi suplai yang terhambat oleh berlebihannya curah hujan, dapat berdampak pada kenaikan harga jual (supply-demand). “Banyak analis serta pelaku pasar juga optimis bahwa outlook batubara di 2011-2012 akan mengalami lonjakan signifikan, seiring dengan harga minyak,” katanya

Salah satu emiten yang direkomendasikan adalah ADRO. Hal ini terkait outlook 2011 yang masih cerah. Beberapa analis memperkirakan penjualan batubara akan naik 38% dan pendapatan ADRO pada 2011 akan naik 80%.”Sehingga kemungkinan dalam 1-3 bulan ke depan, pasar akan mulai akumulasi untuk mendiskon faktor tersebut,” ujarnya.

Selain itu, saham ADRO menarik secara market cap dan valuasi. Perseroan memiliki kapitalisasi terbesar, dan valuasi PER & PBV kedua termurah di sektornya setelah BUMI. Perseroan juga memiliki corporate governance yang lebih baik dan rasio hutang ke ekuitas (DER) jauh lebih rendah. “Faktor ini merupakan hal penting dalam industri batu bara, yang selalu membutukan dana untuk ekspansi dan operasional tambang,” paparnya.

PER dan PBV 2009 ADRO sebesar 18 kali dan 3,5 kali, masih lebih murah ketimbang ITMG dan PTBA, yang merupakan emiten berkapitalisasi pasar terbesar kedua dan ketiga setelah ADRO.

PER dan PBV 2009 ITMG sebesar 19 kali dan 7 kali, sedangkan PER dan PBV PTBA sebesar 23 kali dan 7,2 kali. “Rekomendasi beli ADRO dengan target harga di Rp2.125,” katanya.

Sedangkan saham Bumi Resources (BUMI) direkomendasikan karena ada peluang untuk perubahan tren positif. Hal ini terjadi meskipun keadaan yang jenuh beli (overbought) pascarally cukup tajam selama beberapa hari terakhir, dapat mengakibatkan koreksi jangka pendek, “Rekomendasi beli dengan target harga Rp1.830,” ujar Yuga.

Tidak jauh berbeda dengan Macquarie Capital Securities Indonesia. Menurutnya, saat ini sektor batu bara masih diperdagangkan di valuasi menarik, lebih rendah ketimbang emiten di sektor lain. Beberapa saham pilihannya adalah Adaro Energy (ADRO), Indo Tambangraya Megah (ITMG) dan Indika Energy (INDY),”Saham-saham ini masih bisa menjadi pilihan,” ujarnya.

Dijelaskan, saham BUMI untuk jangka pendek menjadi sorotan lagi, karena dispekulasi banyak investor. Namun, hal itu bukan karena faktor fundamental, namun karena harga BUMI yang sudah sangat jenuh, jauh di bawah PE 2011 emiten batu bara di level 8,1 kali. “Sebagai patokan saja, PE BUMI pada 2010 mencapai 8,4 kali. Bandingkan dengan PE saham batu bara lainnya di 17-20 kali,” katanya.

Menurutnya, saat ini yang diantisipasi investor pada saham BUMI bukan kemungkinan harga batu bara jelang akhir tahun. Namun karena harga emiten ini yang sudah terlalu murah. “Selain itu, ada peralihan dari saham big cap yang sudah mahal, salah satunya ke saham Bakrie,” tuturnya.

Teuku Hendri, analis pasar modal dari Batavia Sekuritas pun menilai masih ada peluang kenaikan pada saham BUMI. Hal ini seiring adanya beberapa berita menarik terkait aksi korporasi perseroan,” Rekomendasi beli untuk BUMI,” ujarnya.

Menurutnya, dengan kemungkinan diundurnya penawaran saham perdana (IPO) Newmont Indonesia, maka listing anak usaha BUMI, yakni Bumi Mineral Resources, bisa mendapat minat tinggi dari investor. Selain itu, rencana non preemptive Right Isssue juga diperkirakan akan segera dilakukan, “Ini memungkinkan BUMI mendapat pendanaan untuk pengurangan utang jatuh tempo,”ujarnya.

BUMI juga dikabarkan tetap memprioritaskan China Investment Corp (CIC) sebagai standby buyer RI, meskipun diberitakan Glencore juga berminat terhadap 10% RI BUMI. [nat/mdr]

From → Seputar Indy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: