Skip to content

stres cuaca, batubara sante … 041110

November 4, 2010

Cuaca Bukan Halangan Bagi Saham Batu Bara
Headline
IST
Oleh: Asteria
Pasar Modal – Kamis, 4 November 2010 | 15:20 WIB

INILAH.COM, Jakarta Prospek saham sektor komoditas batu bara dinilai masih menarik. Membaiknya faktor cuaca yang semula menghantui volume produksi, membawa sentimen positif bagi emiten berbasis tambang tersebut.

Kepala Riset BNI Sekuritas Norico Gaman mengatakan, meskipun volume produksi turun selama tiga kuartal terakhir, prospek saham batu bara sebenarnya masih bagus. Hal ini didukung turunnya curah hujan menjelang akhir tahun. Alhasil, produksi batu bara pada kuartal empat pun membaik, katanya kepada INILAH.COM.

Selain itu, harga kontak batu bara yang berada dalam dolar AS, membuat industri batu bara tidak terkait langsung dengan volume produksi. Ini berarti, kendati permintaan dan pasokan rendah, akibat terganggu faktor cuaca, perusahaan masih bisa meniikmati kenaikan harga batu bara karena faktor dolar AS. Industri ini dintungkan karena lebih sensitif terhadap fluktuasi dolar daripada supply demand, paparnya.

Norico mengatakan, harga batubara dunia masih berpeluang naik hingga tahun depan seiring harga minyak global. Pada periode yang berakhir pekan lalu saja, harga batubara acuan Asia di Newcastle Port Australia melonjak 1,5% menjadi US$ 100,48 per metrik ton. Hal ini menegaskan kenaikan harga batubara selama tiga pekan berturut-turut.

Sementara itu, permintaan batu bara yang masih sangat tinggi. China merupakan negara dengan konsumsi batubara terbesar sebanyak 400-450 juta ton per tahun. Kemudian India dengan konsumsi 250-300 juta ton batubara per tahun, Di Indonesia, konsumsi 2010 mencapai 70 juta ton, Sedangkan tahun depan akan mencapai 100 juta ton, katanya.

Beberapa saham batu bara yang direkomendasikan adalah Indo Tambangraya Megah (ITMG), Adaro Energy (ADRO), Berau Energy ( BRAU), Indika Energy (INDY) dan Bumi Resources (BUMI). Investor bisa buy on weakness untuk emiten-emiten ini, katanya.

Senada dengan Yuganur Wijanarko dari HD Capital yang mengatakan, penunurunan produksi batu bara pada kuartal tiga 2010 akibat memburuknya cuaca di Agustus dan September, sudah mulai didiskon oleh pasar. Hal ini menyebabkan efek berita negatif yang akan keluar, tidak membuat koreksi signifikan pada saham tambang, ujarnya.

Namun, Yuga menyarankan, bila masih ada koreksi dari efek negatif penurunan laba akibat cuaca buruk, investor masih bisa mengakumulasi saham PT TB Bukit Asam (PTBA), Terutama karena saham ini sudah mulai masuk daerah jenuh jual (oversold) dalam grafik harian dan mingguan. Apalagi valuasi PER 2010 yang mencapai 23 kali, termurah kedua setelah BUMI. Hal ini membuat emiten ini kembali menarik pasca koreksi, katanya.

Saham lain yang masih direkomendasikan adalah Adaro Energy (ADRO). Menurutnya, efek positif dari harga batubara New Castle yang sudah naik ke US$100/ton, belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham. Secara teknikal terjadi akumulasi dengan potensi menguji level Rp2.200. Namun, investor bisa terus melakukan aksi beli dengan target harga mencapai Rp2.250, paparnya.

Saat ini ADRO sedang mengikuti tender dua proyek PLTU berbasis IPP (Independent Power Producer) di Pemalang dan Kalsel dengan total nilai US$2.3 miliar. Proyek tersebut akan diambil dengan partner bersama J-Power Jepang, dan CDF Suez dan ADRO akan menyiapkan dana sekitar US$800 juta. Konstruksi proyek ditargetkan mulai pada awal 2011 dan mulai beroperasi pada akhir 2014.

Sementara Christine Salim dari Samuel Sekuritas juga merekomendasikan saham ADRO. Menurutnya, kinerja ADRO kuartal tiga 2010 yang mengecewakan, akibat curah hujan yang berimbas pada produksi batubara dan biaya berlabuh yang tinggi, telah terefleksikan pada pelemahan saham perseroan. Namun, hal ini juga membuka peluang beli, katanya.

Setelah memangkas target produksi 2010 menjadi 42 juta ton dari 45 juta ton dan mengurangi ASP menjadi US$ 58.6/ton dari sebelumnya US$ 61.2/ton serta menaikkan biaya tunai sebesar US $ 2/ton, maka estimasi laba ADRO untuk 2010 diturunkan sebesar 28,3%. Namun, dengan perkiraaan produksi batubara akan tumbuh 13,6% CAGR (2010-2014), Christine tetap merekomendasikan beli untuk ADRO. Target harga emiten ini dapat mencapai Rp2.500, pungkasnya. [mdr]

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: