Skip to content

ekspor batubara indon … 100511_120414

April 12, 2011

“Kalau Harga Batu Bara Tinggi Pengusaha Lupa Pemerintah”
Jum’at, 11 April 2014 17:51 wib | Hendra Kusuma – Okezone
JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara (Minerba) menyatakan, produksi batu bara hingga 10 April 2014 hanya mencapai 110 juta ton, dari target produksi 2014 sebesar 421 juta ton.

“Produksi hingga saat ini 10 April 110 juta ton, berarti seperempat dari target 421 juta ton,” kata Dirjen Minerba Syukhyar di Kantornya, Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Sukhyar menjelaskan, mengenai harga batu bara saat ini tengah mengalami penurunan, di mana harga batu bara terendah sekira USD19 per ton dan harga yang tertinggi sekira USD74 per ton.

Menurutnya, dengan harga penjualan yang rendah, hal tersebut membuat para pengusaha sulit melakukan produksi. Dengan harga sebesar USD19, harga tersebut masih di bawah biaya produksi batu bara yang mencapai USD25.

“Biaya produksi di atas USD25, kalau harga USD25 jual USD19 per ton pelaku usaha kesulitan memproduksi batu bara,” tambahnya.

Sementara dari total produksi kuartal I yang mencapai 110 juta ton, 81 juta ton produksi batu bara diekspor, sedangkan 29 juta ton sisanya diserap dalam negeri.

“Yang jadi permasalah itu, kalau harga turun, pengusaha datang ke pemerintah, kalau harga tinggi lupa sama pemerintah,” tutupnya. (rzy)
Produksi Batu Bara per 10 April 110 Juta Ton

Oleh: Ranto Rajagukguk
pasarmodal – Sabtu, 12 April 2014 | 00:02 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Dirjen Minerba, Kementerian ESDM, R. Sukhyar menyebutkan total produksi batu bara sampai 10 April 2014 mencapai 110 juta ton. Selama kuartal pertama 2014 produksi batu bara mencapai 105 juta ton.

“Sampai 10 April sebesar 110 juta ton. Kalau secara kuartalan hampir sama dengan tahun sebelumnya sebesar 105 juta ton,” kata Sukhyar di Jakarta, Jumat (11/4/2014).

Menurut Sukhyar, produksi batu bara saat ini sekitar 81 juta ton diekspor ke berbagai negara seperti China dan India. Ada pun sisanya 29 juta ton diperuntukkan bagi kepentingan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO).

“81 juta ton untuk diekspor, sementara sisanya bagi DMO. Artinya produksi batubara masih banyak digunakan bagi kepentingan ekspor,” ucap Sukhyar.

Lebih lanjut ia menuturkan, kontribusi terbesar produksi batu bara dalam negeri dihasilkan oleh pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B).

“Produksi batubara sebesar 75 juta ton dihasilkan oleh pemegang PKP2B, sementara pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) memproduksii 35 juta ton batu bara,” tutur dia. [hid]
JAKARTA Ekspor batu bara Indonesia selama kuartal I tahun Ini melemah 5,9% dari 73,1 juta ton menjadi 68,8 juta ton.

Direktur eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala mengatakan meskipun turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pencapaian ekspor 3 bulan pertama tahun ini menjadi modal berharga untuk mencapai target ekspor tahun ini sebesar 340 juta ton.

“Sebenarnya pemerintah hanya menargetkan 236 juta ton, tetapi kami optimistis bisa mencapai 340 juta ton-360 juta ton,” katanya yang dihubungi Bisnis, kemarin.

Data APBI menunjukkan produksi batu bara Indonesia meningkat menjadi 32,43. juta metrik ton pada Maret dari 27,15 juta pada Februari dan 29,54 juta pada Januari.

Menurut Bob Kamandanu, ketua APBI seperti dikutip Bloomberg, produksi batu bara di Indonesia akan naik menjadi 335 juta ton-370 juta ton tahun ini. Produksi naik menjadi 325 juta ton pada 2010 dari 283 juta pada tahun 2009.

APBI menargetkan produksi batu bara pada kuartal 11-2011 sebesar 95 juta ton, naik tipis dari total produksi kuartal 1/2011 sebesar 89 juta ton.

Bob yang dikonfirmasi Bisnis menambahkan produksi pada kuartal 11-2011 bisa lebih tinggi karena kondisi cuaca diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan kuartal 1-2011.

Dia mengakui salah satu penyebab penurunan ekspor pada kuartal 1/2011 adalah karena keterlambatan izin perdagangan oleh pemerintah pada awal tahun.

Harga batu bara di Pelabuhan Qinhu-angdao, patokan harga di China, naik dalam minggu keenam ke level tertinggi selama Iebih dari 2 tahun karena melonjaknya permintaan.

Menurut Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu bara China, batu bara dengan nilai energi 5.500 kkai per kg naik 0,6% menjadi 810 yuan (USS 125) hingga 825 yuan per metrik ton per 9 Mei 2011 dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Harga tersebut yang tertinggi sejak Oktober 2008.

Data asosiasi itu menunjukkan persediaan klb.im bakar di Qinhuangdao jatuh ke level terendah dalam hampir 1 tahun pada minggu lalu, sedangkan pertumbuhan industri yang diikuti rendahnya produksi listrik tenaga air memicu peningkatan penggunaan batu bara.

Operator bendungan China Three Gorges

Corp, mengatakan air di Sungai Yangtze, lokasi bendungan PLTA terbesar di dunia, menyusut 40% bulan ini dibandingkan dengan tingkat rata-rata dalam 3 tahun terakhir.

Kapasitas pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air China diperkirakan merosot seiring kekeringan yang mengurangi pasokan air.

UBS Investment Research menyebutkan PLTA China berkontribusi 15%, terbesar kedua setelah baru bara, terhadap total pasokan listrik negara tersebut.

China diperkirakan meningkatkan pembelian batu bara guna menutup kekurangan listrik dari PLTA yang menyebabkan harga komoditas terkerek.

“Sejak pertengahan April, harga spot batu bara di China dan Indonesia telah terangkat 8%,” tulis UBS.

Sumber : BISNIS INDONESIA

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: