Skip to content

indY @obligas1nya … 051013_051114_130116

Januari 13, 2016

obligasi $20 Jt BARU neh

Bisnis.com, JAKARTA–Sektor pertambangan dan komiditas masih dinilai berat pada tahun ini sehingga bank-bank tetap mengerem penyaluran kredit ke kedua sektor tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Moch. Doddy Ariefianto mengatakan kedua sektor tersebut belum mengalami perbaikan pada tahun ini seiring dengan semakin menurunnya harga minyak dunia.

“Dua sektor itu masih enggak jadi idola karena harga minyak jeblok lagi. Bank-bank masih waspadai sektor tambang sama perkebunan komoditas,” ucapnya kepada Bisnis.com, Selasa (12/1/2016).

Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang diterbitkan Bank Indonesia melaporkan pada kuartal IV/2015 kegiatan usaha tumbuh lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Ini tercermin dari nilai saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha yang sebesar 3,02% atau turun dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,06%.

Perlambatan kegiatan usaha terutama disebabkan oleh kontraksi pada sektor pertambangan dan penggalian dengan SBT sebesar -1,18% atau terkontraksi sebesar -0,34%.

Kontraksi kegiatan usaha juga terindikasi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan dengan SBT -0,70%.

Analis Perbankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Seno Agung Kuncoro mengatakan dalam Laporan Analisis Stabilitas dan Sistem Perbankan Triwulan IV/2015 mengatakan pertumbuhan kredit untuk sektor pertambangan terus mengalami penurunan seiring dengan turunnya harga komoditas dan batu bara di pasar global.

“Per Oktober 2015, kredit sektor pertambangan tumbuh sebesar 10,72% secara tahunan dengan porsi portofolio kredit hanya 3% dari total kredit perbankan,” katanya.

Lebih lanjut, dirinya menuturkan bank-bank semakin memperketat syarat penyaluran kredit. Kecemasan terhadap potensi kenaikan jumlah kredit bermasalah dari melambatnya roda perekonomian dinilai bakal mempengaruhi kinerja perbankan secara keseluruhan.

 

Indika Energy Buyback Obligasi US$230 Juta
Gloria Natalia Dolorosa – Jumat, 04 Oktober 2013, 19:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Indika Energy Tbk. (INDY) melalui anak usaha Indo Integrated Energy II B.V. akan membeli kembali (buyback) surat utang senilai US$230 juta.

Dalam keterbukaan informasi, emiten energi tersebut akan membeli surat utang yang jatuh tempo 2016 dengan bunga tetap sebesar 9,75%. Pembelian kembali saham akan dilaksanakan pada 5 November 2013 dengan harga penebusan 104,875% ditambah bunga akrual dan bila ada yang belum dibayar. Surat utang tersebut ditujukan ke pemegang surat utang Indo Integrated Energy.

Fitch Ratings pernah menurunkan outlook INDY dari positif menjadi stabil. Pertimbangan perubahan ini yakni ekspektasi harga batubara yang tidak akan menguat hingga 2 tahun mendatang.

Lembaga peringkat itu juga mensinyalir arus dividen dari anak usaha INDY, PT Kideco Jaya Agung, akan merosot signifikan pada tahun ini. Harga saham INDY pada perdagangan Jumat, (4/10), tidak bergerak dari hari sebelumnya sebesar Rp790.
Editor : Lahyanto Nadie

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: