Skip to content

belanja modal indy lumayan dah … 031109_260416

April 26, 2016

rose KECIL

JAKARTA okezone- PT Indika Energy Tbk (INDY) menyiapkan belanja modal sebesar USD40,7 juta pada tahun ini. Nilai belanja modal itu lebih kecil dari realisasi belanja modal pada tahun lalu yang sebesar USD58,7 juta. Informsai tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta.

Penurunan harga batubara memaksa INDY sedikit menahan ekspansi sejak tahun lalu. Hal ini terlihat dari serapan anggaran belanja modal tahun lalu yang sebesar 85,9 persen dari alokasi anggaran awal yang senilai USD68,6 juta.

Porsi belanja modal paling besar tetap akan disalurkan untuk anak usaha yang menggarap bisnis kontraktor batubara dan konstruksi pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO). Belanja modal khusus PTRO mencapai USD27,4 juta.

Tahun ini, Petrosea banyak berharap bisa memperoleh tambahan pendapatan dari bisnis di luar penambangan batubara, seperti jasa minyak dan gas, rekayasa, dan konstruksi. Lalu, perusahaan transportasi dan logistik batubara terintegrasi, PT Mitrabahtera Sagara Sejati (MBSS) mendapat alokasi USD6,1 juta. Sementara produsen batuibara Kideco Jaya Agung mendapat alokasi belanja USD2,7 juta, dan untuk INDY sendiri sebesar USD4,7 juta.

Perseroan berharap volume batubara Kideco bisa mencapai 32 juta ton. Jumlah ini turun dibandingkan realisasi tahun 2015 lalu yang sebesar 39,8 juta ton. Per akhir tahun lalu, perseroan masih memiliki utang obligasi senilai USD671,4 juta yang terdiri atas senior notes sebesar USD171,4 juta, dan jatuh tempo pada 2018 mendatang, dan senior notes USD500 juta yang jatuh tempo tahun 2023.

Tercatat pada Desember 2015, perseroan berhasil menyelesaikan pembelian kembali sebagian obligasi tahun 2018 bernilai pokok USD126,6 juta dengan harga beli sekitar USD77,1 juta.

Sementara saldo kas perseroan saat ini sebesar USD339,4 juta. Sepanjang tahun lalu, perseroan mencetak pendapatan sebesar USD1 miliar atau turun 1,1 persen dibandingkan tahun 2014. Pada periode itu, INDY masih membukukan kerugian sebesar USD44,5 juta.

(dni)

Emoticons0051

JAKARTA kontan. PT Indika Energy Tbk (INDY) menyiapkan belanja modal sebesar US$ 40,7 juta pada tahun ini. Nilai belanja modal itu lebih kecil dari realisasi belanja modal pada tahun lalu yang sebesar US$ 58,7 juta.

Penurunan harga batubara memang membuat INDY sedikit menahan ekspansi sejak tahun lalu. Hal ini terlihat dari serapan anggaran belanja modal tahun lalu yang sebesar 85,9% dari alokasi anggaran awal yang senilai US$ 68,6 juta.

Porsi belanja modal paling besar tetap akan disalurkan untuk anak usaha yang menggarap bisnis kontraktor batubara dan konstruksi pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO). Belanja modal khusus PTRO mencapai US$ 27,4 juta.

Tahun ini, Petrosea banyak berharap bisa memperoleh tambahan pendapatan dari bisnis di luar penambangan batubara, seperti jasa minyak dan gas, rekayasa, dan konstruksi.

Lalu, perusahaan transportasi dan logistik batubara terintegrasi, PT Mitrabahtera Sagara Sejati (MBSS) mendapat alokasi US$ 6,1 juta. Sementara produsen batuibara Kideco Jaya Agung mendapat alokasi belanja US$ 2,7 juta, dan untuk INDY sendiri sebesar US$ 4,7 juta.

Perseroan berharap volume batubara Kideco bisa mencapai 32 juta ton. Jumlah ini turun dibandingkan realisasi tahun 2015 lalu yang sebesar 39,8 juta ton.

Per akhir tahun lalu, perseroan masih memiliki utang obligasi senilai US$ 671,4 juta yang terdiri atas senior notes sebesar US$ 171,4 juta, dan jatuh tempo pada 2018 mendatang, dan senior notes US$ 500 juta yang jatuh tempo tahun 2023.

“Pada Desember 2015, perseroan berhasil menyelesaikan pembelian kembali sebagian obligasi tahun 2018 bernilai pokok US$ 126,6 juta dengan harga beli sekitar US$ 77,1 juta,” ujar manajemen INDY dalam materi paparan publik INDY, Jumat (22/4). Sementara saldo kas perseroan saat ini sebesar US$ 339,4 juta.

Sepanjang tahun lalu, perseroan mencetak pendapatan sebesar US$ 1 miliar atau turun 1,1% dibandingkan tahun 2014. Pada periode itu, INDY masih membukukan kerugian sebesar US$ 44,5 juta.

Belum lama ini, Moody’s menurunkan peringkat INDY menjadi Caa1 dari B3. Moody’s juga menurunkan peringkat dua obligasi INDY menjadi Caa1. Outlook rating tersebut negatif.

Penurunan peringkat ini mencerminkan utang perseroan yang besar, dan industri pertambangan global diperkirakan belum pulih. Sehingga, akan mempengaruhi arus kas perseroan.

reaction_1

Selasa, 03/11/2009 00:52 WIB

Indika alokasikan US$110 juta untuk capex

oleh :

JAKARTA: PT Indika Energy Tbk akan mengalokasikan dana sebesar US$110,4 juta atau 48% dari total obligasi yang diterbitkan sebesar US$230 juta untuk keperluan belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan selama 3 tahun.

Direktur Indika Energy Wishnu Wardana menuturkan belanja modal tersebut akan digunakan untuk meningkatkan utilisasi bisnis di sektor kontraktor pertambangan.

“Ke depan kami akan meningkatkan kapasitas dari bisnis kontraktor pertambangan, lantaran prospek yang cukup menjanjikan di sektor ini,” ujarnya kemarin.

Menurut Wishnu, permintaan terhadap jasa kontraktor pertambangan mengalami kenaikan, sehingga butuh dana yang cukup untuk meningkatkan kapasitas melalui pembelian berbagai peralatan pertambangan.

Selain akan dipakai untuk belanja modal, sebesar US$50 juta atau sekitar Rp500 miliar dari penerbitan obligasi itu akan digunakan untuk investasi, terutama mengakuisisi perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan.

“Kami lebih baik meningkatkan kemampuan bisnis di sektor kontraktor pertambangan, di samping kami juga akan mengembangkan layanan offsore base yang dijalankan oleh Petrosea,” lanjutnya.

Wishnu menuturkan perseroan tidak terlalu berambisi untuk melanjutkan pembelian Berau Coal, karena biaya pembelian yang cukup besar. Meskipun, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp500 miliar untuk keperluan akuisisi.

“Bagi kami, Berau bukanlah segala-galanya. Selain membutuhkan ekuitas yang besar untuk pembeliannya, pihak yang menang harus membayar utang yang dipunyai oleh Berau,” tuturnya.

Kinerja Rig Tenders

Sementara itu, PT Rig Tenders Indonesia Tbk membukukan laba bersih per September 2009 senilai US$2,35 juta atau setara dengan Rp22,32 miliar, menyusul penurunan biaya operasional dan kontribusi penjualan kapal.

Penurunan biaya tersebut terlihat dari margin bersih yang meningkat menjadi 6,8% pada triwulan III/2009. Direktur Rig Tenders Mukhnizam Mahmud mengatakan kenaikan laba bersih sebesar 44,1% (US$0,72 juta) itu juga disumbangkan pendapatan usaha sewa kapal yang mencapai US$35,46 juta.

“Sewa kapal divisi kegiatan lepas pantai diproyeksikan stabil ke depannya seiring dengan rencana penambahan armada kapal di tengah harga kapal yang menarik saat ini. Tingkat utilisasi armada kapal saat ini mencapai 75%,” tuturnya dalam keterangan resmi, kemarin.

Sepanjang tahun ini, lanjutnya, divisi kegiatan lepas pantai menyumbang 45,6% pendapatan usaha dan diperkirakan meningkat setelah perseroan menambah kapal-kapal lepas pantai (offshore) dalam waktu dekat.

Oleh Bambang P. Jatmiko & Arif Gunawan S.

Bisnis Indonesia

bisnis.com

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: