Skip to content

aksi korporasi indy … 040912_030516

Mei 3, 2016

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan tambang batu bara berkapitalisasi pasar Rp2,56 triliun, PT Indika Energy Tbk., mengantongi kontrak jasa pertambangan dan jasa sewa perlengkapan dari PT Mitra Abdi Mahakam senilai US$108 juta setara dengan Rp1,4 triliun.

Sekretaris Perusahaan Indika Energy Dian Paramita mengatakan kontrak tersebut diperoleh melalui anak usaha perseroan, PT Multi Tambangjaya Utama. Penandatanganan kontrak dilakukan pada Jumat (29/4/2016) di kantor Multi Tambangjaya Utama (MUTU).

“Lingkup pekerjaan yag disepakati a.l. pengelolaan pertambangan batu bara di wilayah konsesi MUTU,” katanya dalam keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia, Selasa (3/5/2016).

Wilayah konsesi MUTU, sambungnya, terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Selatan. Jangka waktu pekerjaan disepakati selama enam tahun sejak 2016 hingga 2021.

Manajemen emiten bersandi INDY itu mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/Capex) tahun ini senilai US$40,7 juta, lebih rendah 30,6% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu US$58,7 juta.

Target produksi juga dipangkas 20% menjadi 32 juta ton hingga 33 juta ton batu bara dari realisasi tahun lalu 40 juta ton. Kuartal I/2016, perseroan mendulang rugi bersih US$4,85 juta dibandingkan dengan laba pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$11,62 juta.

 

JAKARTA. PT Petrosea Tbk (PTRO) mendapatkan kontrak baru dalam pengerjaan proyek tambang batubara. PTRO baru saja menandatangani perjanjian pemindahan lapisan tanah penutup dan pengangkutan batubara dengan PT Anzawara Satria.

Direktur PTRO Johanes Ispurnawan mengemukakan, penandatanganan perjanjian itu dilakukan pada 11 Januari lalu. Masa kontrak berlaku selama 36 bulan dengan nilai kontrak mencapai Rp 622,09 miliar. “Pekerjaan tersebut akan dimulai pada awal 2016,” ujar Johanes, Rabu (13/1).

Anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) ini memang bergerak di bisnis tambang, rekayasa dan konstruksi, serta jasa lepas pantai. Sementara Anzawara Satria merupakan perusahaan pertambangan batubara yang berlokasi di Kalimantan Selatan.

Pada Oktober 2015, PTRO juga mendapatkan kontrak pemindahan lapisan tanah penutup dengan PT Indoasia Cemerlang yang berlaku selama 11 bulan. Nilai proyek tersebut mencapai Rp 313,14 miliar dan sudah mulai digarap sejak kuartal IV-2015.

Pada tahun lalu, INDY menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk PTRO mencapai US$ 60 juta hingga US$ 70 juta. PTRO mendapatkan alokasi terbesar karena tengah membangun pelabuhan di kawasan Kariangau, Tanjung Batu, Kalimantan Timur.

Kinerja PTRO masih terkena dampak dari lesunya bisnis pertambangan akibat penurunan harga komoditas. Sepanjang kuartal ketiga tahun lalu, pendapatan PTRO menurun 37,8% year on year (yoy) dari US$ 264,6 juta menjadi US$ 164,5 juta.

Pendapatan terbesar emiten ini berasal dari bisnis penambangan, yakni sebesar US$ 118,16 juta. Kemudian bisnis jasa menyumbang US$ 25,1 juta, rekayasa dan konstruksi sebesar US$ 20,9 juta, dan sektor lain-lain sebesar US$ 337.000.

PTRO membukukan beban bunga dan keuangan sebesar US$ 6,5 juta. Pendapatan yang menurun dan masih tingginya beban menyebabkan PTRO menderita kerugian US$ 1,38 juta hingga September 2015. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, PTRO masih membukukan laba bersih sebesar US$ 3,1 juta.

http://investasi.kontan.co.id/news/ptro-meraih-kontrak-rp-622-miliar
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

Topsaham- PT Indika Energy Tbk (INDY) menyatakan, anak usahanya yaitu PT Prasarana Energi Cirebon (PEC) akan membeli 1.050 saham (42%) kepemilikan  PT Bayu Inti Permata (BIP) yang terdapat di PT Cirebon Energi Prasarana (CEPR).

CEPR adalah perusahaan yang didirikan untuk rencana pengembangan proyek PLTU Cirebon berkapasitas 1X1000 MW, yang merupakan ekspansi dari proyek PLTU Cirebon berkapasitas 1X660 MW (Cirebon-1) yang sudah ada dan berlokasi di Cirebon, Jawa Barat.

Sebagai rencana proyek ekspansi, maka para pemegang saham di CERP merupakan perusahaan yang ditunjuk oleh para sponsor yang hampir saham dengan para spondor di proyek Cirebon-1.

“Sesuai dengan rencana masuknya para pemegang saham lainnya ke CEPR, maka kepemilikan saham PEC di CEPR dari semula 42% akan terdilusi menjadi 25%,” ujar Sekretaris Perusahaan Dian Paramita dalam suratnya yang disampaikan ke BEI, Kamis (8/10).

PEC merupakan anak usaha Indika di mana 100% saham di dalam PEC dimiliki perseroan melalui PT Prasarana Energi Indonesia.

PEI adalah anak usaha Indika di mana 100% saham di dalam PEI dimiliki Indika melalui PT Intika Multi Energi International dan PT Indika Energy Infrastructure.

BIP merupakan anak usaha PT Indika Mitra Energi di mana 100% saham di dalam BIP dimiliki oleh PT Indika Mitra Energi, yang merupakan pemegang saham utama Indika.
http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=13558:indika-energy-beli-42-saham-bayu-inti&catid=34:sektorriil&Itemid=56
Sumber : TOPSAHAM.COM

JAKARTA – PT Indika Energy Tbk (INDY) menggandeng konsorsium Marubeni Corporation, Korea Midland Power, dan Samtan Corporation untuk membangun pembangkit listrik (power plant) di Cirebon, Jawa Barat. Total nilai investasi ditaksir mencapai US$ 1,2 – 1,4 miliar.

 

Direktur Utama Indika Energy Wishnu Wardhana mengatakan, pembangkit listrik tersebut merupakan extension atau tambahan dari pembangkit yang sudah ada di lokasi yang sama. Adapun kapasitas ditargetkan sebesar 1.000 megawatt (MW).

 

“Kesepakatan finansial diharapkan rampung pada akhir tahun ini. Indika berharap memperoleh sekitar 25 – 30% kepemilikan dalam proyek ini,” kata Wishnu di sela acara World Economic Forum (WEF) on East Asia 2015 di Jakarta, Selasa (21/4).

 

Saat ini, Indika sudah mengoperasikan satu pembangkit listrik di Cirebon dengan kapasitas sebesar 660 MW. Pembangkit listrik ini juga dibangun oleh konsorsium yang sama. Indika menguasai sekitar 20%, Marubeni Corporation sebesar 32,5%, dan Korea Midland Power Co sebesar 27,5%.

 

Wishnu mengatakan, proyek ini menunjukkan komitmen perseroan mendukung pemerintah dalam percepatan pembangunan infrastruktur. Dalam lima tahun mendatang, pemerintahan baru Jokowi berharap dapat menambah kapasitas terpasang listrik nasional sebesar 35 ribu MW. “Sebanyak 10 ribu MW akan dibangun pemerintah, sementara sisanya 25 ribu oleh swasta. Indika berharap dapat mengambil bagian dari program ini,” ucap dia.

 

Sepanjang 2014, Indika Energy membukukan pendapatan sebesar US$ 1,11 miliar atau naik 28,5% dari posisi tahun sebelumnya sebesar US$ 863,39 juta. Meski naik, perseroan masih mengalami rugi bersih sebesar US$ 27,5 juta.

 

Rugi bersih yang dialami perseroan disebabkan kenaikan beban pajak menjadi US$ 28,19 juta pada 2014, dari posisi US$ 11,25 juta pada 2013. Sementara itu, rugi sebelum pajak perseroan turun tajam menjadi US$ 2,3 juta, dari rugi sebesar US$ 42,54 juta di 2013.

 

Adapun total aset perseroan per Desember 2014 menjadi US$ 2,29 miliar, atau turun tipis dari posisi aset sebesar US$ 2,31 miliar pada akhir 2013.

 

Baru-baru ini, Indika memberikan tambahan pinjaman sebesar US$ 65 juta kepada anak usahanya di sektor perdagangan batubara, Indika Capital Investments Pte. Ltd yang berkedudukan di Singapura.

 

Sekretaris Perusahaan Indika Energy Dian Paramita pernah mengatakan, dana tersebut akan digunakan ICI untuk menunjang kegiatan usahanya di bidang perdagangan batubara. Pinjaman akan ditarik dalam beberapa tahapan. Sumber dananya berasal dari penarikan fasilitas perbankan Indika Energy.

 

Menurut Dian, pinjaman tambahan dilakukan dengan pertimbangan bahwa ICI mempunyai kemampuan dalam hal aktivitas pemasaran hasil tambang batubara dan kekuatan jaringan antara perusahaan tambang dengan konsumen. ICI berdomisili di Singapura dan 100% sahamnya dikuasai Indika Energy melalui anak usahanya yang lain, yaitu PT Indika Indonesia Resources. (*)

 

http://id.beritasatu.com/energy/konsorsium-indika-bangun-pembangkit-us14-m/114135
Sumber : INVESTOR DAILY

 

JAKARTA kontan. PT Indika Energy Tbk (INDY) memberi tambahan pinjaman untuk anak usahanya, Indika Capital Investments Pte. Ltd (ICI). Pinjaman tambahan itu senilai US$ 65 juta yang akan dilakukan dengan beberapa tahap.

“Ini untuk menunjang kebutuhan ICI dalam menjalankan kegiatan usahanya di bidang perdagangan batubara,” ujar Dian Paramita, Sekretaris Perusahaan INDY dalam keterangan resmi, Selasa (3/3).

Dana untuk penambahan pinjaman itu berasal dari penarikan fasilitas perbankan INDY yang sudah ada sebelumnya. Sebenarnya, INDY tidak memiliki banyak ekspansi di bisnis batubara karena perseroan memprediksi pasar batubara masih belum akan pulih.

Namun, INDY berharap produksi batubara tahun ini bisa stabil. Paling tidak produksi batubara tahun ini bisa sama dengan produksi tahun 2014 lalu sebesar 40 juta ton. Lantaran itu, INDY akan banyak melakukan efisiensi.

Wishnu Wardhana, Direktur Utama INDY, pernah mengatakan,  harga batubara tahun ini masih akan berada di kisaran US$ 63 per ton. Karena itulah, ia juga meramal, pendapatan dan bottom line INDY belum akan berubah banyak dari tahun lalu.

Efisiensi yang dilakukan INDY ini terlihat dari belanja modal perseroan yang akan dipangkas. Belanja modal INDY hanya dipatok di bawah US$ 100 juta, lebih rendah dari target tahun lalu sebesar US$ 113,5 juta. Hal ini karena INDY lebih memilih menyimpan dana kas yang besar di tengah pelemahan harga batubara.

INDY berharap bisa menurunkan cost margin dengan berhemat. Selain menahan ekspansi, INDY juga akan mengurangi stripping dan melakukan renegosiasi dengan kontraktor. INDY juga terus memantapkan diversifikasi bisnis selain batubara.

Tahun ini, INDY membidik untuk membangun Independen Power Producer (IPP) sebesar 1.000 megawatt (MW). Mega proyek ini merupakan salah satu upaya INDY untuk memanfaatkan peluang dari ekspansi pemerintah memenuhi kebutuhan listrik 35.000 MW. Dengan kapasitas tersebut nilai investasi proyek IPP itu berkisar US$ 1,2 miliar.

Proyek dengan nilai investasi jumbo itu tidak akan dikerjakan oleh INDY sendirian. Perseroan kemungkinan akan melakukan penjajakan dengan beberapa partner strategis. Di situ, INDY hanya akan mengambil porsi sekitar 20%-30% dari proyek tersebut.

Editor: Yudho Winarto

 

PT Petrosea Tbk (PTRS) menyewa ruang kantor milik PT Tripatra (TRIS) di Singapura sebesar
Rp8,928 miliar selama tiga tahun.

Seperti dikutip dari prospektus yang diterbitkan, Selasa (4/9/2012), ruangan yang disewa PTS
seluas 2.936 feet yang terletak di Suntec Tower 2, Singapura.

PTRS dan TRIS adalah perusahaan terkendali dari PT Indika Energy Tbk (Indika) sehingga
merupakan transaksi afiliasi
,” ujar perseroan.(okezone/hla)

From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: