Skip to content

indy @PLTU Cireb0n … 191012_170716

Juli 17, 2016

reaction_1

JAKARTA okezone– Anak usaha P T Indika Energy Tbk (INDY), PT Indika Multi Energi Internasional (IMEI) dan PT Indika Energy Infrastructure (IEI) menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat (PJBB) dengan PT Imeco Multi Prasarana (IMP) guna melepas saham pada PT Prasarana Energi Indonesia (PEI).

”Penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat itu dilakukan pada 30 Juni 2016,”kata Sekteraris Perusahaan INDY, Dian Paramita dalam siaran persnya di Jakarta.

Adapun IMEI dan IEI melepas 2.100 saham dalam PEI atau mewakili 75 persen dari jumlah modal yang ditempatkan pada PEI. PEI adalah pemilik 25 persen participating interest melalui anak usahanya PT Prasarana Energi Cirebon pada proyek pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 1000 MW di Cirebon, Jawa Barat yang dikembangkan PT Cirebon Energi Prasarana.

Tahun ini, PT Indika Energy Tbk menyiapkan belanja modal sebesar USD 40,7 juta. Nilai belanja modal itu lebih kecil dari realisasi belanja modal pada tahun lalu yang sebesar USD 58,7 juta. Penurunan harga batubara memaksa INDY sedikit menahan ekspansi sejak tahun lalu.

Hal ini terlihat dari serapan anggaran belanja modal tahun lalu yang sebesar 85,9 persen dari alokasi anggaran awal yang senilai USD 68,6 juta. Porsi belanja modal paling besar tetap akan disalurkan untuk anak usaha yang menggarap bisnis kontraktor batubara dan konstruksi pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO). Belanja modal khusus PTRO mencapai USD 27,4 juta.

Sementara Petrosea tahun ini banyak berharap bisa memperoleh tambahan pendapatan dari bisnis di luar penambangan batubara, seperti jasa minyak dan gas, rekayasa, dan konstruksi. Lalu, perusahaan transportasi dan logistik batubara terintegrasi, PT Mitrabahtera Sagara Sejati (MBSS) mendapat alokasi USD 6,1 juta. Sementara produsen batu bara Kideco Jaya Agung mendapat alokasi belanja USD 2,7 juta, dan untuk INDY sendiri sebesar USD 4,7 juta.

Perseroan berharap volume batubara Kideco bisa mencapai 32 juta ton. Jumlah ini turun dibandingkan realisasi tahun 2015 lalu yang sebesar 39,8 juta ton. Per akhir tahun lalu, perseroan masih memiliki utang obligasi senilai USD 671,4 juta yang terdiri atas senior notes sebesar USD 171,4 juta, dan jatuh tempo pada 2018 mendatang, dan senior notes USD 500 juta yang jatuh tempo tahun 2023.

Tercatat pada Desember 2015, perseroan berhasil menyelesaikan pembelian kembali sebagian obligasi tahun 2018 bernilai pokok USD 126,6 juta dengan harga beli sekitar USD 77,1 juta. Sementara saldo kas perseroan saat ini sebesar USD 339,4 juta. Sepanjang tahun lalu, perseroan mencetak pendapatan sebesar USD 1 miliar atau turun 1,1 persen dibandingkan tahun 2014. Pada periode itu, INDY masih membukukan kerugian sebesar USD 44,5 juta.

Belum lama ini, Moody’s menurunkan peringkat INDY menjadi Caa1 dari B3. Moody’s juga menurunkan peringkat dua obligasi INDY menjadi Caa1. Outlook rating tersebut negatif. Penurunan peringkat ini mencerminkan utang perseroan yang besar, dan industri pertambangan global diperkirakan belum pulih. Sehingga, akan mempengaruhi arus kas perseroan.

(mrt)

buttrock

JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui konsorsium independent power producer (IPP) PT Cirebon Energi Prasarana, bersiap menggarap proyek listrik berkapasitas 1 x 1.000 megawatt (MW) dengan nilai investasi US$ 2 miliar. Financial closing proyek itu akan diteken akhir semester I-2016.

Direktur Utama INDY Arsjad Rasjid mengatakan, porsi saham INDY di proyek PLTU ini sebanyak 25%. Sisanya milik Marubeni Corporation sebesar 35%, Samtan Co. Ltd. sebesar 20%, Korea Midland Power Co. Ltd. sebesar 10%, dan Chubu Electric Power Co. Ltd, sebesar 10%.

Rencananya, 80% dari investasi proyek atau sekitar US$ 1,6 miliar didanai project financing, salah satunya adalah Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Produksi listrik yang dihasilkan pada periode operasi komersial, -menurut rencana mulai tahun 2020- akan dibeli Perusahaan Listrik Negara (PLN). Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) dengan PLN sudah dilakukan akhir tahun 2015 dengan lama penjualan 25 tahun sejak tanggal operasi komersial.

“Proses Amdal dalam tahap akhir,” ujar Arsjad, Kamis (28/4).

Sebelumnya, INDY juga sudah mengoperasikan PLTU Cirebon 1 dengan kapasitas 660 MW selama tiga tahun. “Kinerja operasionalnya juga terbilang baik,” ujarnya.

Walaupun sudah masuk ke sektor pembangkit listrik, kinerja INDY pada kuartal I 2016 malah turun 37,9% menjadi US$ 195,1 juta. Hampir seluruh lini bisnis INDY melorot, baik itu bisnis batubara, minyak dan gas, rekayasa dan konstruksi atau logistik.

Perseroan juga masih mencetak rugi bersih sebesar US$ 4,9 juta. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, INDY masih memperoleh laba bersih US$ 11,29 juta. Guna menghadapi tantangan industri, INDY melakukan efisiensi, seperti pengurangan 157 orang karyawan dari total 511 orang di perusahaan induk.

“Prospek industri batubara, masih stagnan jadi kami harus melakukan efisiensi bisnis,” ujar Arsjad.

http://investasi.kontan.co.id/news/konsorsium-indy-finalisasi-pendanaan-pltu-us-2-m
Sumber : KONTAN.CO.ID

gifi

JAKARTA. Emiten tambang batu bara PT Indika Energy Tbk. (INDY)  menuntaskan proses keuangan pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Cirebon Unit II berkapasitas 1.000 Megawatt dengan investasi Rp27,3 triliun.

Presiden Direktur PT Indika Energy Tbk. Wishnu Wardhana mengatakan perseroan bakal berpartisipasi untuk membangun megaproyek 35.000 MW dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Cirebon Unit II berkapasitas 1.000 MW.

“Ekspansi PLTU Cirebon Unit II menggunakan teknologi ulta super critical. Investasi sebesar US$2,1 miliar,” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (10/3/2016).

Investasi senilai US$2,1 miliar setara dengan Rp27,3  triliun (kurs Rp13.000 per dolar AS), tersebut akan didanai oleh konsorsium investor Jepang, Korea Selatan, dan bank multinasional. Mereka adalah Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Export-Import Bank of Korea, dan NEXI Investment Insurance and Comercial Bank.

Emiten berkode saham INDY tersebut tergabung dalam konsorsium PT Cirebon Energi Prasarana yang bakal menggarap pembangkit listrik mandiri (independent power producer/IPP). Indika membentuk usaha patungan bersama Marubeni Corporation (35%), Samtan Co. Ltd. (20%), Korea Midland Power Co. Ltd. (10%), dan Chubu Electric Power Co. Inc. (10%).

Konsorsium itu memang telah menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik (power purchase agreement/PPA) dengan PLN. IPP tersebut diklaim menjadi proyek skala besar pertama sebagai bagian dari megaproyek 35.000 MW.

Perusahaan milik keluarga Sudwikatmono itu telah memiliki PLTU Cirebon Unit I dengan kapasitas 660 MW. Pembangunan proyek PLTU Cirebon Unit II tersebut sebagai ekspansi yang akan berlokasi di Desa Kanci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dengan target beroperasi pada 2020.

“Sekarang sudah sampai tahap financial closing dan 2020 beroperasi,” tuturnya.

Sejumlah emiten tambang merangsek masuk ke bisnis kelistrikan dengan membidik megaproyek 35.000 Megawatt yang dicanangkan pemerintah dengan nilai investasi triliunan rupiah.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, tidak kurang dari sepuluh emiten tambang merangsek proyek power plant. Masing-masing emiten bahkan ada yang telah meyiapkan dana hingga miliaran dolar Amerika Serikat untuk pembangunan proyek selama lima tahun itu.

Pemerintah Indonesia pada 4 Mei 2015 lalu berambisi untuk membangun pengadaan listrik sebesar 35.000 MW demi kebutuhan dalam 5 tahun mendatang. Dari program tersebut, sebesar 10.000 MW atau 35 proyek bakal dikerjakan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dan 25.000 MW atau 74 proyek digarap oleh perusahaan swasta.

http://industri.bisnis.com/read/20160311/44/527122/indika-energy-indy-tuntaskan-proyek-pltu-senilai-rp273-triliun
Sumber : BISNIS.COM

rose KECIL

PLTU Cirebon Unit II Beroperasi 2018
Inda Marlina – Kamis, 05 Desember 2013, 19:45 WIB

Bisnis.com, CIREBON–PT Cirebon Electric Power menargetkan ekspansi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) unit 2 berdaya 1×1.000 Mega Watt (MW) dengan nilai investasi US$2 miliar akan commercial on date (COD) pada 2018.

Vice President Director PT CEP Eddy Junaedy Danu mengatakan saat ini pihaknya dalam proses negosiasi teknis dan harga listrik. Dia juga memastikan bahwa perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement) selesai pada awal tahun depan.

“Tahun depan semua negosiasi dan kontrak selesai, sehingga Juni atau Agustus mulai konstruksi,” katanya, Kamis (5/12/2013).

Ekspansi unit 2 ini akan menggunakan teknologi super ultra critical untuk pembakaran batu bara. Teknologi ini juga direncanakan digunakan PLTU Batang.

Eddy mengharapkan harga listrik unit kedua sama dengan harga listrik PLTU Batang karena kesamaan teknologi. Hal ini berarti harga listrik akan lebih tinggi dari unit 1 yang senilai US$0,43 per kilo Watt hour (kWh).

Pendanaan ekspansi unit 2 berasal dari Japan Bank for International Cooperation (JIBIC) dan dari Korea Selatan. Kedua pihak pendanaan tersebut meminta jaminan dari pemerintah.

“Tetapi itu terserah pemerintah karena memberikan jaminan adalah hak mereka,” imbuh Eddy.

Selain membangun unit kedua, CEP juga berencana akan ekspansi pembangkit unit ke 3 dan 4. Masing-masing memproduksi listrik berdaya 660 MW dan 1.000 MW.

Unit 3 direncanakan dibangun di lahan milik perusahaan konsorsium antara PT Indika Energi Tbk, Komipo, dan Marubeni ini. Untuk unit yang keempat akan dibangun sekitar 5 km dari ketiga unit tersebut.

Saat ini untuk membangkitkan unit 1 berdaya 660 MW, PLTU membutuhkan 2,6 juta ton batu bara per tahun dari PT Adaro Tbk dan PT Kideco yang dibeli oleh PLN.

Batu bara yang digunakan untuk PLTU tersebut berjenis low rank coal dengan kadar 4.500 kkal.

Sebelumnya, Direktur Konstruksi dan Energi Terbarukan PLN Nasri Sebayang mengatakan negosiasi harga untuk unit ke dua masih menunggu harga keekonomian dunia.

“Kami sudah mendapat persetujuan dari pemerintah untuk ekspansi ini,” katanya.

Pembangunan unit 2 diperkirakan akan selesai dalam waktu 46 bulan atau kurang lebih 3-4 tahun. Pembangunan tersebut sudah termasuk penyelesaian pendanaan selama 6 bulan. (ra)
Indika Rintis PLTU Baru di Cirebon
Maftuh Ihsan – Minggu, 06 Oktober 2013, 19:05 WIB
Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan energi terintegrasi PT Indika Energy Tbk. (INDY) menjajaki pembangunan pembangkit listrik tenaga uap baru di Cirebon, Jawa Barat, dengan kapasitas yang diperkirakan di atas 1.600 megawatt.

M. Arsjad Rasjid, Vice President Director Indika Energy, mengungkapkan pembangunan PLTU tahap kedua masih dalam proses perizinan dan masih dibicarakan berapa besar kapasitasnya.

“[proyek] sebelumnya 1.600 megawatt, yang kedua akan lebih besar,” ungkapnya belum lama ini.

Dia menjelaskan pembangunan PLTU baru tersebut akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan lain dengan pembiayaan proyek akan berasal dari pinjaman.

Sebelumnya, perseroan mengalokasikan dana US$2 miliar untuk membangun pembangkit tenaga listrik berkapasitas 1.000 megawatt di Cirebon yang merupakan penambahan dari pembangkit sebelumnya dengan kapasitas 660 megawatt. (ra)

Editor : Rustam Agus
PLTU BARU: Cirebon Electrik akan investasi US$1,2 miliar

long jump icon

Vega Aulia Pradipta

Kamis, 18 Oktober 2012 | 21:25 WIB

bisnis indonesia

CIREBON–PT Cirebon Electric Power siap menambah satu unit PLTU baru berkapasitas 1.000 MW senilai US$1,2 miliar di area PLTU Cirebon, Jawa Barat.

Wishnu Wardhana, Wakil Direktur Utama PT Indika Energy Tbk mengatakan pihaknya bersama anggota konsorsium PT Cirebon Electric Power lainnya, sedang membahas rencana itu dengan pemerintah dan PLN.

“Extension tambahan 1.000 MW nilainya US$1,2 miliar. Itu nanti jadi satu unit sendiri, di luar unit 1 yang sudah ada sebesar 660 MW,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara peresmian PLTU Cirebon unit 1 berkapasitas 660 MW oleh Menteri ESDM Jero Wacik hari ini, Kamis (18/10).

Wishnu berharap pembangkit baru berbahan bakar batu bara itu bisa direalisasikan secepatnya, yakni pada 2016 dan bisa semakin menambah keandalan sistem Jawa-Bali.

Meski nantinya akan berada di area PLTU Cirebon yang sudah eksisting, Wishnu mengatakan konsorsium selaku pengembang listrik swasta (IPP) tetap perlu membuat kajian AMDAL dan persyaratan lainnya.

“Memang biasanya kalau unit kedua, risiko sudah lebih kecil. Mudah-mudahan hal-hal seperti akuisisi lahan dan yang lainnya itu ngga terjadi lagi. Tapi regulasi compliance tetap harus kita jalankan walaupun tempatnya sama,”

tambahnya.

PLTU Cirebon berlokasi di Desa Kanci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Cirebon. PLTU tersebut dibangun dengan skema Independent Power Producer (IPP), yakni dikelola oleh PT Cirebon Electric Power.

PT Cirebon Electric Power merupakan konsorsium dari PT Indika Energy Tbk 20%, Marubeni Corporation 32,5%, Korea Midland Power Co 27,5%, dan Samtan Co Ltd 20%.

Sebelumnya saat meresmikan PLTU Cirebon unit 1, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan direksi dari PT Cirebon Electric Power sudah bicara dengan dirinya terkait rencana ekspansi PLTU Cirebon.

“Minggu lalu direksinya bicara kepada saya, lokasi sudah ada. Secara logika, silakan. Tapi tetap harus mengajukan proposalnya dulu sampai itu ditandatangan. Tapi kelihatannya prosesnya kan tinggal mengulang,” ujar Wacik.

Dengan ekspansi ini, total kapasitas PLTU Cirebon akan bertambah menjadi 1.660 MW. Wacik mengatakan pemerintah mendukung sepenuhnya jika investor ingin terus membangun pembangkit listrik baru mengingat kebutuhan listrik ke depannya akan terus meningkat.

Di sisi lain Wishnu menambahkan kehadiran PLTU Cirebon bisa mengisi kekosongan pembangkit listrik dengan kapasitas besar yang berada di tengah Pulau Jawa.

“Kenapa di Cirebon? Jadi kan PLN punya kekuatan di Jatim dan Jakarta. Tapi di tengah Jawa terjadi kekosongan. Jadi kehadiran PLTU Cirebon ini juga untuk menyeimbangkan seluruh jaringan Jawa-Bali,” jelasnya.

bird

PEMBANGKIT LISTRIK: Indika Energy Operasikan PLTU Senilai US$850 Juta Di Cirebon

 

Maman Abdurahman & Hedi Ardia

Kamis, 18 Oktober 2012 | 16:15 WIB

bisnis indonesia

CIREBON–PT Indika Energy Tbk meresmikan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Cirebon senilai US$850 juta yang digarap melalui konsorsium bersama Marubeni Corporation, Korea Midland Power Company dan Samtan Co. Ltd.

Pembangkit listrik ini akan menghasilkan listrik berkapasitas 5.500 GWh per tahun. Proyek ini dibangun di atas lahan seluas 87 hektare di Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon dengan skema Independent Power Producer (IPP) yang melibatkan pengelola PT Cirebon Elektric Power.

Wakil Presiden Direktur PT Cirebon Elektric Power Eddy Danu mengatakan keberadaan PLTU Cirebon secara nyata akan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan khususnya untuk daerah Jawa-Bali.

“Kalau pasokan listrik terjamin, pastinya akan meningkatkan keyakinan investor untuk menanamkan modal di daerah [Jawa-Bali],” katanya usai peresmian PLTU Cirebon, Kamis (18/10). (ilustrasi: antara foto)

PLTU Cirebon secara teknologi menjadi pioner dalam penggunaan super critical boiler technology yang mampu mengolah kalori rendah yang melimpah di Tanah Air.

Limbah dari PLTU Cirebon sirkulasinya sudah dijamin ramah lingkungan karena telah menggunakan sistem pendingin dengan cooling tower sehingga sisa air pendingin yang dibuang ke laut tidak berbeda temperaturnya dengan temperatur laut.

“Setelah beroperasi, PLTU Cirebon akan membutuhkan bahan baku [batu bara] sebanyak 2,8 juta ton per tahun atau dapat mengurangi potensi penggunaan BBM sebesar 950 juta liter per tahun,” tuturnya. (k3/k6/yus)

double arrow picSMALL

PLTU CIREBON UNIT I: Batu bara dipasok Kideco & Adaro

Vega Aulia Pradipta

Kamis, 18 Oktober 2012 | 12:22 WIB

bisnis indonesia

CIREBON: Kideco dan PT Adaro Indonesia memasok kebutuhan batu bara PLTU Cirebon unit 1 berkapasitas 660 MW sebanyak 2,85 juta ton per tahun.

Amin Subekti, Komisaris PT Cirebon Electric Power selaku pengembang PLTU Cirebon mengatakan kebutuhan batu bara per tahun itu sekitar 10%.

“Kebutuhan batu baranya 2,85 juta ton per tahun disuplai oleh Kideco dan Adaro,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara peresmian PLTU Cirebon unit 1 berkapasitas 660 MW di Cirebon hari ini, Kamis (18/10).

Amin mengatakan nilai proyek PLTU Cirebon adalah sebesar US$850 juta. Biaya tersebut dibagi antara pemegang saham dan dukungan dana dari JBIC, K-EXIM, serta didukung oleh bank komersial lainnya.

Pemegang saham PT Cirebon Electric Power terdiri dari PT Indika Energy Tbk 20%, Marubeni Corporation 32,5%, Korea Midland Power Co 27,5%, dan Samtan Co Ltd 20%.

Osamu Shimbara, Direktur Keuangan PT Cirebon Electric Power mengatakan IPP ini dibentuk pada April 2007.

Selanjutnya pada Agustus 2007, mereka menandatangani perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan PLN selama 30 tahun.

“Selanjutnya pada April 2008 dimulai pekerjaan konstruksi pembangkit dan mulai beroperasi pada 27 Juli 2012,” ujarnya.

Amin menambahkan memang seharusnya PLTU Cirebon mulai beroperasi pada Oktober tahun lalu sesuai target yang diberikan ke EPC kontraktor.

Namun dalam perjanjian PPA, PLN mengharuskan PLTU Cirebon beroperasi mulai Maret 2013.

“Jadi sebenarnya kami masih on schedule, tidak bisa dikatakan terlambat juga,” ujar Amin.

Ada pun harga listrik yang dijual ke PLN sebesar US$4,43 sen per kWh. Amin mengatakan kehadiran PLTU ini akan memperkuat keandalan sistem Jawa-Bali. (ra)

Emoticons0051

From → Seputar Indy

3 Komentar
  1. kepada pt indy cirebon , bahwa dalam pemebesan lahan untuk pltu 2 haruslah tepat sasaran kepada yang berwajib menerima , karena status perlu di tanyakan karena lagi rame bos…

  2. YOYO RAPEL permalink

    sudah pasti rame …kalau yang ditugaskan untuk mengelola pembangunan PLTU-2 team kerja yang lama . dengan diisi oleh orang – orang yg JADULL….

  3. yoyo permalink

    bukan ramai lagi , RUWET RENTENG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: