Lanjut ke konten

indy BERAKSI@utank … 120411_121217

Desember 12, 2017

long jump icon

Rating Action: 

Moody’s upgrades Indika to Ba3; outlook stable

Global Credit Research – 12 Dec 2017

Singapore, December 12, 2017 — Moody’s Investors Service has upgraded the corporate family rating (CFR) of Indika Energy Tbk (P.T.) (Indika) to Ba3 from B2 following the completion of its acquisition of an additional 45% stake in Kideco Jaya Agung (P.T.), Indonesia’s third largest coal producer.

At the same time, Moody’s has also upgraded the ratings on the $500 million backed senior secured notes due 2023 issued by Indo Energy Finance II B.V., the $265 million backed senior secured notes due 2022 issued by Indika Energy Capital II Pte. Ltd, and the $575 million backed senior secured notes due 2024 issued by Indika Energy Capital III Pte. Ltd. to Ba3 from B2. All notes are unconditionally and irrevocably guaranteed by Indika and rank pari passu.

The outlook on all ratings is stable.

The rating action concludes Moody’s review for upgrade initiated on 25 September 2017.


On 8 December 2017, Indika announced it had completed the Kideco acquisition after receiving all requisite approvals, increasing its shareholding in the coal producer to 91% from 46%. It had also successfully raised $575 million of new notes at 5.875% due November 2024 to fund the acquisition.

The total purchase consideration, comprising an upfront payment of $517.5 million and contingent liability of $160 million, and the coupon on the new $575 million notes are in line with Moody’s expectations.

“The upgrade of Indika’s ratings to Ba3 reflects the improvement in the company’s operating profile as it now controls the steady cash flow generation at Kideco, Indonesia’s third largest coal mining asset. It also incorporates the company’s stronger credit metrics in 2018-19 with consolidated leverage of around 3.4x-3.6x,” says Rachel Chua, a Moody’s Assistant Vice President and Analyst.

Kideco has a long reserve life of over 13 years, based on its projected 2017 production volume of 32 million tons. In the first six months of 2017, the mine generated $200 million of operating cash flow. On a pro-forma basis, Moody’s expects Kideco will account for over 70% of Indika’s EBITDA.

Overall, Indika’s Ba3 ratings reflect its long dated debt maturity profile with no material maturity until 2022 and its good liquidity position. The ratings also take into consideration Indika’s ongoing commitment to conservative financial policies which balances its risk profile during periods of volatility in thermal coal prices.

“However, there remains a high degree of event risk, given the expiry of Kideco’s coal contract of work (CCoW) in 2023. Negotiations for the extension of the CCoW can only commence in 2021 and while it is our current view that an extension on similar terms will be forthcoming, we remain cognizant of the regulatory risk and the impact on Indika’s credit profile and ratings should that renewal not materialize in a timely fashion,” adds Chua, who is also Moody’s lead analyst for Indika.

The ratings outlook is stable, reflecting Moody’s expectations that operations at Kideco will continue without disruptions through the management and ownership transition and that Indika will continue to execute its business strategy as planned over the next 12-18 months.

A further near-term upgrade of the ratings is unlikely. Nevertheless, upward momentum in the ratings could develop over time if Indika is successful in extending the Kideco CCoW beyond its 2024 bond maturity with no material changes to existing terms while demonstrating a sustained improvement in its financial profile. Specific indicators we would consider include adjusted debt/ EBITDA below 2.5x – 3.0x and adjusted EBIT/ interest above 3.0x – 3.5x for an extended period.

Downward ratings pressure could arise if (1) Indika’s cash flow generation is weakened by a sustained decline in coal prices; (2) it fails to extend the Kideco CCoW at substantially similar terms; or (3) it engages in aggressive shareholder distributions or capital investments demonstrating a departure from management’s track record of liquidity preservation.Specific indicators we would consider include adjusted debt/ EBITDA above 3.5x – 4.0x or adjusted EBIT/ Interest below 2.0x for an extended period.

The principal methodology used in these ratings was the Global Mining Industry published in August 2014. Please see the Rating Methodologies page on for a copy of this methodology.

Indika Energy Tbk (P.T.) is an Indonesian integrated energy group listed on Indonesia’s Stock Exchange. As of 8 December 2017, its principal investment is a 91% stake in Kideco Jaya Agung (P.T.), Indonesia’s third-largest domestic coal producer and one of the world’s lowest-cost producers and exporters of coal.


JAKARTA OKezone – Lembaga rating Moody’s Investors Service menaikkan rating obligasi yang diterbitkan oleh PT Indika Energy Tbk (INDY). Surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) sebesar USD265 juta tersebut disematkan peringkat B2 dari sebelumnya Caa1.

Kenikan rating itu juga seiring dengan naiknya nilai obligasi yang dikeluarkan perseroan, di mana sebelumnya perusahaan mengajukan untuk mengeluarkan obligasi senilai USD225 juta. Pada saat bersamaan, Moody’s juga meningkatkan peringkat beberapa obligasi yang dikeluarkan oleh anak usaha Indika Energy menjadi B2 dari sebelumnya Caa1.

Adapun obligasi yang dikeluarkan oleh anak usaha Indika Energy, yakni Indo Energy Finance B.V senilai USD171 juta, Energy Finance II B.V sebesar USD500 juta, Indika Energy Capital II Pte Ltd dengan jumlah USD265 juta.

”Kenaikan peringkat untuk Indika Energy mencerminkan peningkatan yang signifikan untuk profil likuiditas perusahaan dan profil utang jatuh tempo perusahaan yang mengikuti keberhasilan Indika Energy dalam merombak utang yang jatuh pada 2018,” ujar Asisten Wakil Presiden Moody’s, Rachel Chua, seperti dikutip lamannya di Jakarta.

Seperti diketahui, Indika Energy telah menerbitkan obligasi pada 10 April lalu sebesar USD265 juta untuk membayar utang jatuh tempo sebesar USD171 juta pada Mei 2018. Ini otomatis akan memperpanjang utang jatuh tempo perseroan hingga 2022 mendatang.

”Peningkatan ini mencerminkan harapan kami bahwa profil keuangan perusahaan pada 2017-2018 akan membantu perolehan kontrak pada anak usaha, yakni Tripatra dan Petrosea. Kami berharap, rasio utang Indika Energy secara konsolidasi 4,5-5 kali selama dua tahun ke depan,” papar Chua.

Lebih lanjut Chua menjelaskan, pemberian rating ini telah memperhitungkan komitmen Indika Energy untuk tetap menyeimbangkan profil risikonya di tengah harga batu bara yang masih bergerak volatile. Peringkat yang diberikan oleh Moody’s ini bisa berubah sewaktu-waktu bergantung dari kondisi rasio utang dan keuangan perusahaan.

Peringkat dapat naik jika rasio utang turun dibawah 4 kali. Namun, jika rasio meningkat lebih dari 5,5 kali maka bukan tidak mungkin Moody’s akan menurunkan peringkat dari posisi saat ini.

”Jika likuiditas perusahaan memburuk, harga batu bara turun, laverage meningkat lebih dari 5,5 kali, sehingga saldo kas perusahaan turun dibawah USD100 juta. Hal itu bisa menyebabkan turun peringkat,” kata Chua.


lol, JAKARTA–Emiten milik keluarga Sudwikatmono PT Indika Energy Tbk. memiliki sisa obligasi yang akan jatuh tempo pada 2018 senilai US$171,4 juta, dan perseroan membuka kemungkinan untuk melakukan refinancing.

Direktur Keuangan Indika Energy Azis Armand mengatakan total sisa obligasi perseroan yang jatuh tempo pada 2018 mencapai US$171,4 juta. Perseroan telah melunasi lebih awal utang obligasi senilai US$128,5 juta pada akhir tahun lalu.

“Manajemen terus mengkaji dan membuka kemungkinan-kemungkinan terkait refinancingobligasi tersebut,” katanya kepada, Selasa (13/9/2016).

Dalam laporan keuangan emiten bersandi saham INDY, disebutkan total utang jatuh tempo dari pinjaman bank dan obligasi tahun ini mencapai US$198,54 juta atau lebih rendah 16,95% dari akhir tahun lalu US$239,07 juta.

Pinjaman bank jangka pendek yang jatuh tempo tahun ini berkurang 20,31% menjadi US$163,35 juta dari US$205,01 juta. Utang obligasi tercatat stagnan senilai US$15,76 juta.

Sementara utang bank jangka panjang yang dikurangi bagian jatuh tempo setahun mencapai US$30,47 juta dari US$52,38 juta. Utang obligasi jangka panjang bersih mencapai US$652,22 juta, naik tipis 0,4% dari akhir tahun lalu US$649,11 juta.

Bila dirinci, obligasi senior notes III tahun 2011 memiliki nilai US$171,42 juta dan senior notes IV tahun 2013 sebesar US$500 juta. Seluruh nilai obligasi dan bunga mencapai US$667,98 juta.

Senior notes III tahun 2011 diterbitkan pada 5 Mei 2011 oleh Indo Energy Finance B.V. (IEF BV) senilai US$115 juta. Obligasi tersebut akan jatuh tempo pada Mei 2018.

Obligasi III diterbitkan bersamaan dengan penukaran obligasi I tahun 2007 senilai US$185 juta. Obligasi III tersebut dikenakan bunga 7% per tahun yang tercatat di bursa efek Singapura.

Kemudian, pada 24 Januari 2013, IEF II BV menerbitkan senior notes IV senilai US$500 juta yang akan jatuh tempo pada 2023. Obligasi ini memiliki tingkat bunga 6,375% per tahun dan tercatat di bursa efek Singapura.

Sementara itu, PT Petrosea Tbk. (PTRO) sebagai anak usaha perseroan, memiliki utang jatuh tempo termasuk leasing senilai US$40,94 juta per 30 Juni 2016. Pinjaman tersebut lebih rendah dari akhir tahun lalu US$51,18 juta.

PTRO memiliki pinjaman kepada PT Bank ANZ Indonesia senilai US$6,25 juta dari maksimum plafon US$22,5 juta. Sedangkan, pinjaman kepada Citibank N.A. Indonesia hingga akhir Juni 2016 mencapai US$19,82 juta dari total plafon US$20 juta.

Manajemen INDY mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/Capex) tahun ini senilai US$40,7 juta, lebih rendah 30,6% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu US$58,7 juta. Target produksi juga dipangkas 20% menjadi 32 juta ton hingga 33 juta ton batu bara dari realisasi tahun lalu 40 juta ton.


Indo Integrated energy BV, a wholly owned subsidiary of Indika Energy (INDY), has launched an offer to exchange up to US$165 million of its outstanding 8.5% Senior Notes due 2012 for new securities.

The company also seeks a consent solicitation relating to all outstanding 212 Notes and a consent solicitation relating to all outstanding US$230 million 9.75% Senior Notes due 2016.

The primary purpose of the consent solicitation is to make the proposed amendments to the terms of the indenture dated as of May 8, 2007 among Indo Integrated Energy, Indika Energy, and PT Indika Inti Corpindo, and together with Indika, the guarantors, and HSBC Institutional Trust Services.

Indika Energy, co-owner of Kideco Jaya Agung—third largest thermal coal producer in Indonesia, has just completed the acquisition of majority shares of shipping and marine services firm PT Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) Tbk

Sumber : Indonesia Today


From → Seputar Indy

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:


You are commenting using your account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: