Skip to content

harga batubara @1NDY … 081216

HARGA BATUBARA ikut FLUKTUASI HARGA MINYAK seh

5 Year Coal Prices - Coal Price Chart1 Month Coal Prices - Coal Price Chart

long jump icon

lol

 

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara telah tertekan dalam lima hari perdagangan, yaitu mulai 1-7 Desember 2016..

Harga Batu bara kontrak Januari pada penutupan perdagangan Rabu (7/12/2016) di bursa Ice Futures Europe Commodities anjlok 2,82% ke US$69/MT.

Batu bara anjlok. – .Bisnis/Rahmatullah

Harga batu bara tertekan reli harga minyak mentah yang didorong kesepakatan OPEC terkait pemangkasan produksi yang akan mulai diberlakukan pada Januari 2017.

Kesepakatan terjadi pada 30 November, dan mendorong WTI ke atas level US$50/barel. Meski kemudian kembali ke bawah level 50, setelah produksi AS meningkat. Demikian juga Rusia.

Harga batu bara telah anjlok dalam lima hari perdagangan, sehingga harga kembali ke level di bawah 70.

Terakhir harga batu bara berada di bawah 70 pada 11 Oktober November 2016, yaitu bertengger di angka 69,3.

Sementara itu pada perdagangan Rabu, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Januari turun 2,3% atau US$1,16 ke posisi US$49,77 per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak Brent untuk pengiriman Februari turun 93 sen atau 1,7% ke US$53 di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Berdasarkan Badan Administrasi Energi AS, stok minyak mentah di Cushing, yang merupakan titik pengiriman untuk WTI dan pusat penyimpanan minyak terbesar AS, naik 3,78 juta barel pekan lalu ke 65,3 juta barel.

 

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

 

Tanggal US$/MT
7 Desember

 

69,00

(-2,82%)

6 Desember 71,00

(-6,52%)

5 Desember 75,95

(-2,57%)

 

 

 

 

 

 

 

 

*Kontrak Januari 2017

Sumber: Bloomberg

ets-small

Jakarta ID – ‎Harga Batubara Acuan (HBA) di pengujung 2016 menembus level US$ 100 per ton. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HBA Desember ini sebesar US$ 101,69 per ton. Harga itu seperti kondisi di akhir 2011 hingga pertengahan 2012 silam.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan harga batu bara terus merangkak naik. HBA Desember ini lebih tinggi 19,79 persen ketimbang HBA pada November kemarin yang mencapai US$ 84,89 per ton.

“HBA Desember US$ 101,69 per ton. Harga batu bara masih naik,” kata Sujatmiko di Jakarta, Minggu (4/12).

Sujatmiko menuturkan tren kenaikan harga batu bara tiga bulan terakhir dipengaruhi oleh melonjaknya permintaan Tiongkok. Pasalnya, Negeri Tirai Bambu itu membatasi produksi batu bara dalam negeri. Guna menutupi kebutuhan antara lain untuk pembangkit listrik dan industri, maka Tiongkok memilih mengimpor batu bara. “Kebutuhan energi mereka pada musim dingin meningkat,” jelasnya.

Berdasarkan catatan Beritasatu.com, HBA menembus level US$ 100 per ton pernah terjadi pada akhir 2010. Pada Desember itu HBA ditetapkan sebesar US$ 103,41 per ton. Kemudian di awal 2011 HBA terus menguat di posisi US$ 112,40 dan menyentuh di level tertinggi di Februari sebesar US$ 127,05 per ton. Pada Maret hingga Desember 2011 terus terjadi fluktuasi harga dan ditutup di level US$ 112,67 per ton.

Pembukaan HBA di 2012 berada di posisi US$ 109,29 per ton. Kemudian harga menguat di Februari dan Maret yang masing-masing sebesar US$ 111,58 per ton dan US$ 112,87 per ton. Namun harga batubara mengalami tren penurunan hingga US$ 81,75 per ton di akhir 2012.

Harga batu bara terus mengalami tren penurunan sepanjang 2013 hingga jelang akhir 2016. Level terendah HBA pernah menyentuh US$ 50,92 per ton di Februari 2016 kemarin. Kemudian naik tipis di Maret dengan HBA pada posisi US$ 51,62 per ton. Tren penguatan tersebut berlanjut ke April yang membuat HBA berada di level US$ 52,32 per ton.

Tren kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh finalisasi kontrak pasokan batu bara antara Australia dan Jepang. Namun setelah kontrak ditandatangani harga batu bara kembali melemah di Mei di posisi US$ 51,2 per ton.

Pertengahan tahun harga batu bara mengalami kenaikan tipis yakni US$ 51,81 per ton. Hal ini lebih dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga di Australia. Tren penguatan HBA terus terjadi di Juli yang mencapai US$ 53 per ton. Kemudian merangkak naik lagi di Agustus yang berada di level US$ 58,37 per ton. HBA September US$ 63,93 per ton atau naik 9 persen dibandingkan harga batu bara di periode Agustus. Harga batubara di Oktober masih menunjukkan tren penguatan yang sebesar US$ 69,07 per ton. Kemudian HBA melonjak di November yang mencapai US$ 84,89 per ton.

 

 

Rangga Prakoso/WBP

BeritaSatu.com

 lol

 

Jakarta kontan. Harga batubara tergelincir menjelang akhir pekan. Nilai impor China yang anjlok jadi salah satu penyebabnya.

Mengutip Bloomberg, Kamis (10/11), harga batubara kontrak pengiriman Desember 2016 di ICE Futures Exchange melorot 1,54% menjadi US$ 104,85 per metrik ton. Namun, dalam sepekan terakhir harga komoditas ini masih terangkat 1,79%.

Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka, menjelaskan, koreksi harga batubara terjadi gara-gara pergerakan fluktuatif komoditas global. Terutama, harga minyak mentah dunia yang terus di bawah level US$ 45 per barel. Batubara pun terkena imbasnya.

Tambah lagi, impor batubara China selama Oktober 2016 anjlok 11,7%. Alhasil, impor negeri tembok raksasa ini hanya sebanyak 21,58 juta ton yang akhirnya menambah beban pergerakan batubara.

Di sisi lain, Wahyu Tri Wibowo, Analis Central Capital Futures, melihat, janji Presiden Amerika Serikat (AS) yang baru Donald Trump mengembalikan harga dan permintaan batubara hingga 100%, sebenarnya jadi harapan untuk melambungkan harga si batu hitam kelak.

Terlebih, Presiden AS ke-45 ini bersiap membuka peluang pembangunan pembangkit nuklir lewat kerjasama dengan Jepang dan Korea. “Pasar berharap ada lonjakan permintaan batubara di masa datang jika Trump menepati janjinya,” tutur Wahyu.

Selama isu ini masih berembus di pasar global, Wahyu menambahkan, kans harga batubara naik tetap ada. “Paling tidak kenaikannya sepekan ke depan,” ujarnya.

Tapi, pasar mesti mewaspadai pergerakan harga minyak yang bisa jadi batu sandungan bagi batubara. Jika OPEC gagal mencapai kesepakatan pemangkasan produksi, Ibrahim mengatakan, harga minyak bisa terperosok. Dan, hal yang sama bisa terjadi pada harga batubara.

Tekanan juga bisa datang dari analisis BMI Research yang menyebutkan, Pemerintah China menerapkan kebijakan pengurangan batubara untuk pembangkit listrik menjadi hanya 55% sampai 2025 mendatang.

Padahal, penggunaan batubara bagi pembangkit listrik di 2015 mencapai 70%. “Sampai akhir 2016, diprediksi support kuat harga batubara di US$ 100 per metrik ton, berkaca dari fundamentalnya yang masih positif,” proyeksi Ibrahim.

Apalagi, impor batubara China sepanjang tahun ini masih naik 18,5% menjadi 202 juta ton ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Biro Statistik Nasional China juga melaporkan, produksi batubara negaranya selama sembilan bulan pertama 2016 masih terkikis 11% dibanding Januari–September 2015.

Hanya, kekurangan pasokan batubara global tetap bisa menopang kenaikan lanjutan harga komoditas ini. Dengan mempertimbangkan peluang The Fed menaikkan suku bunga di Desember 2016, Ibrahim menduga, rentang pergerakan harga batubara sampai tutup tahun antara US$ 100–US$ 115 per metrik ton.

Dan, menilik pergerakan sepekan terakhir, Ibrahim menilai, kans harga batubara kembali melesat masih ada.

Mengingat, katalis positif juga datang dari laporan Coal India Ltd yang menunjukkan, pada September 2016 produksinya turun 5,2% jadi 35,42 juta ton dibanding bulan yang sama di 2015. Angka ini masih bawah target produksi yang dipatok Coal India sebelumnya.

“Fundamental masih cukup kuat membuat harga batubara bertahan naik dan membedakan pergerakannya dengan komoditas lain pekan depan,” jelas Wahyu.

Ia pun memprediksikan, sepanjang pekan depan harga batubara akan bergerak di kisaran US$ 99–US$ 113 per metrik ton. Sedangkan Ibrahim memperkirakan antara US$ 102,80–US$ 106,30 per metrik ton.

 buttrock

JAKARTA : Harga batu bara ditutup melemah pada perdagangan kemarin, Kamis (9/11/2016),

Harga batu bara untuk kontrak Januari 2017, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup melemah 1,41 poin atau 1,82% ke posisi US$76,05 per metrik ton.

Sebelumnya, harga batu bara kontrak Januari ditutup menguat 1,55% atau 1,18 poin ke level US$77,46 per metrik ton.

Pelemahan harga batu bara ini terjadi sejalan dengan harga minyak mentah yang ditutup melemah pada perdagangan Kamis.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember turun 1,3% atau 0,61 poin ke posisi US$44,66 per barel di New York Mercantile Exchange, sedangkan minyak Brent untuk pengiriman Januari turun 0,52 poin atau 1,1% ke level US$45,84 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Sementara itu, tren penguatan harga komoditas batu bara disikapi dengan optimisme emiten tambang batu bara terhadap proyeksi potensi kinerja akhir 2016 hingga 2017.

Direktur Keuangan PT Indika Energy Tbk. Azis Armand mengatakan, harga batu bara yang mulai rebound tidak bisa berdampak positif secara langsung terhadap kinerja perseroan. Lonjakan harga batu bara tidak bisa terefleksi terhadap kinerja dalam sembilan bulan pada 2016.

“Dampak perbaikan harga batu bara ini seharusnya akan lebih terlihat pada kuartal IV/2016. Insya Allah target produksi tahun ini bisa tercapai,” katanya kepada Bisnis, Kamis (10/11/2016).

Â

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2017 di bursa Rotterdam

Tanggal

US$/MT
10 November

76,05

(-1,82%)
9 November

77,46

(+1,55%)
8 November

76,28

(-1,70%)
Â

Â

Â

Â

Â

Sumber: Bloomberg
http://market.bisnis.com/read/20161111/94/601472/harga-batu-bara-anjlok-bareng-minyak
Sumber : BISNIS.COM

 

JAKARTA. Harga batubara melambung ke level tertinggi lebih dari tiga tahun. Tren laju harga batubara positif dengan dukungan pembatasan produksi batubara China hingga kenaikan permintaan menjelang musim dingin.

Mengutip Bloomberg pada Rabu (26/10), harga batubara kontrak pengiriman Desember 2016 di ICE Futures Europe menguat 2,3% menjadi US$ 99 per metrik ton dibandingkan hari sebelumnya. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Mei 2013. Sedangkan dalam sepekan terakhir, harga menanjak 8,3%.

Analis PT Central Capital Futures Wahyu Tri Wibowo mengatakan, mementum keaikan harga batubara masih kuat. Pembatasan produksi batubara China menjadi faktor utama pengangkat harga. Otoritas Beijing membatasi operasi tambang menjadi 276 hari per tahun dari sebelumnya 330 hari.

“Meski China berupaya kembali menambah produksi, efeknya belum terlihat,” kata Wahyu.

Harga batubara baik untuk jenis thermal maupun coking coal terus menguat sejak awal pekan. Meskipun China berencana kembali menambah produksi untuk mengantisipasi kenaikan permintaan di musim dingin.

Beberapa tambang batubara China hampir selesai dibangun dan siap melakukan produksi lagi. Total produksi batubara China bulan September hanya 244 juta ton. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak musim Tahun Baru Imlek 2009.

Pengiriman batubara melalui jalur kereta api bahkan lebih suram, menyentuh level terburuk sejak 2005. Sedangkan impor batubara China bulan lalu meningkat hingga 30% menjadi 24,4 juta ton dibanding periode sama tahun 2015.

Jika China kembali menggenjot produksi, harga batubara bakal tertekan. Namun dalam jangka pendek maupun menengah, Wahyu belum melihat potensi pelemahan harga hingga ke bawah level US$ 60 per metrik ton.

Musim dingin

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, kebutuhan batubara di China terus meningkat. Angka pertumbuhan ekonomi negeri Tembok Raksasa itu tercatat 6,7% di kuartal III-2016. Meski stagnan dari kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi China dianggap positif.

Sebelumnya, Asian Development Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tahun 2016 hanya 5,6% yang kemudian direvisi menjadi 6,6%. Rilis data manufaktur China menunjukkan adanya pertumbuhan.

Permintaan impor batubara juga China meningkat terutama pengiriman dari Australia. Secara global, permintaan batubara juga akan meningkat seiring datangnya musimdingin di akhir tahun. Maklum, batubara digunakan sebagai bahan bakar pemanas ruangan.

Tak hanya di China, tetapi negara Jepang, Eropa hingga Amerika Serikat masih membutuhkan batubara menjelang musim dingin. Baik Ibrahim maupun Wahyu memprediksi, harga batubara bisa terangkat hingga US$ 110 per metrik ton karena peningkatan permintaan di musim dingin.

Secara teknikal, Wahyu melihat batubara bergerak di atas moving average (MA) 50 dan MA100 menunjukkan tren kenaikan. MACD berada di area positif. Stochastic overbought di level 95,25% namun masih memiliki peluang naik. Demikian juga dengan RSI di level 80,05%.

Jumat (28/10), Wahyu memprediksi harga batubara menguat di US$ 97,5-US$ 101 dan US$ 90 – US$ 110 per metrik ton. Ibrahim memprediksi batubara akan menguat dan bergerak di US$ 98,5 – US$ 101 per metrik ton pada akhir pekan ini.

http://investasi.kontan.co.id/news/harga-batubara-mencatat-rekor-baru
Sumber : KONTAN.CO.ID

ets-small

JAKARTA. Tren harga batubara tetap positif meski China mulai melonggarkan pembatasan produksi. Analis menduga harga batubara dapat melaju hingga US$ 132 per metrik ton dalam jangka menengah.

Mengutip Bloomberg, Rabu (26/10) harga batubara kontrak pengiriman Desember 2016 di ICE Futures Exchange menguat 2,3% ke level US$ 99 per metrik ton. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Mei 2013. Sedangkan dalam sepekan terakhir, batubara menanjak 8,3%.

Analis PT Central Capital Futures, Wahyu Tri Wibowo menjelaskan, impor batubara China bulan lalu meningkat di atas 30% menjadi 24,4 juta ton dibanding periode sama tahun 2015. Negara produsen batubara tersebut menunggu dorongan pertumbuhan ekonomi untuk kembali membuka tambang yang telah dihentikan.

Pemerintah China sebenarnya sudah mulai melonggarkan kebijakan pembatasan produksi. Artinya, produsen batubara China dapat kembali meningkatkan angka produksinya.

Jika pasokan nanti terus bertambah, Wahyu memperkirakan harga batubara akan kembali melemah. “Tetapi untuk jangka pendek maupun jangka menengah, harga belum meyakinan untuk melemah di bawah US$ 60 per metrik ton,” kata Wahyu.

Sentimen dari China, permintaan global yang meningkat menjelang musim dingin masih mendukung harga menguat. Prediksi wahyu, harga batubara hingga akhir tahun akan menyentuh US$ 110 per metrik ton.

Sementara range harga dalam jangka menengah di US$ 70 – US$ 132 per metrik ton. “Mengingat kuatnya momentum hingga saat ini, maka rentang harga jangka menengah menjadi lebih lebar,” lanjut Wahyu.Â

http://investasi.kontan.co.id/news/batubara-jangka-menengah-berpeluang-sentuh-us-132
Sumber : KONTAN.CO.ID

buttrock

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara kontrak Desember 2016 melanjutkan relinya pada penutupan perdagangan keempat, Rabu (26/10/2016).

Pada perdagangan Rabu, harga batu bara untuk kontrak Desember 2016, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup menguat 0,91% atau 0,75 poin ke US$83,60/metrik ton.

Dengan demikian, harga batu bara kontrak Desember telah reli selama empat hari perdagangan sejak mengalami penguatan tajam 2,09% pada tanggal 21 Oktober 2016.

Harga batu bara kemarin menguat ke level tertinggi baru dalam lebih dari 26 bulan setelah mencapai level 83,75 pada 25 Agustus 2014.

Seperti dilansir Bloomberg kemarin, jumlah pertaruhan atas bursa berjangka komoditas China melonjak ke level tertinggi sejalan dengan kecemasan terhadap persediaan selama musim dingin yang mendorong kontrak batu bara.

Total animo pembukaan harian pada tiga bursa komoditas terbesar naik menjadi hampir 30 juta kontrak pekan ini, level tertinggi sejak Maret 2015, dibandingkan dengan jumlah rata-rata harian sebesar 26,5 juta tahun ini.

Sementara itu, harga batu bara thermal mencapai level tertingginya sepanjang masa di bursa komoditas Zhengzhou dengan pertaruhan luar biasa ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Desember 2016 di bursa Rotterdam

Tanggal US$/MT
26 Oktober 83,60

(+0,91%)

25 Oktober 82,85

(+0,73%)

24 Oktober 82,25

(+2,11%)

21 Oktober 80,55

(+2,09%)

20 Oktober 78,90

(-0,25%)

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg 

ets-small

 

JAKARTA. Pergerakan harga batu bara kontrak November 2016 memperpanjang penguatannya pada penutupan perdagangan kedua, Senin (24/10/2016), menyusul laporan kenaikan jumlah impor batu bara oleh Vietnam.

Pada perdagangan Senin, harga batu bara untuk kontrak November 2016, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup naik tajam 1,89% atau 1,55 poin ke US$83,55/metrik ton.

Sementara pada perdagangan Jumat (21/10/2016), harga batu bara kontrak November ditutup rebound 2,24% atau 1,80 poin ke US$82/metrik ton.

Menurut data bea cukai Vietnam, seperti dikutip Bloomberg hari ini, jumlah impor batu bara oleh Vietnam melonjak hingga 10,1 metrik ton pada 15 September atau lebih dari tiga kali lipat rencana jumlah impor tahun ini sebesar hanya 3,1 metrik ton.

Menurut Nguyen Van Bien, Wakil CEO Vietnam National Coal & Mineral Industries Holding, jumlah produksi batu bara negara tersebut terlihat turun 3 metrik ton sepanjang tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu.

Pergerakan harga batu bara kontrak November 2016 di bursa Rotterdam

Tanggal

US$/MT
24 Oktober

83,55

(+1,89%)
21 Oktober

82,00

(+2,24%)
20 Oktober

80,20

(-0,50%)
19 Oktober

80,60

(-3,24%)
18 Oktober

83,30

(+5,84%)

 

Sumber: Bloomberg

ets-small

 

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara meroket ke level tertinggi dalam 17 bulan terakhir seiring dengan langkah China sebagai produsen terbesar di dunia mengubah strategi menjadi importir.

Meskipun demikian, harga masih rentan koreksi akibat proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada kuartal IV/2016.

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/7) harga batu bara kontrak September 2016 di bursa Rotterdam naik 0,25 poin atau 0,4% menuju US$62,65 per ton. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Maret 2015 dan membuat kenaikan harga sepanjang tahun berjalan mencapai 45,02%.

Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, menuturkan kenaikan pesat batu bara dimulai pada pertengahan Juli 2016 setelah pemerintah China memangkas 800.000 pekerja di sektor batu bara dan baja. Reformasi produsen terbesar di dunia ini memberikan pengaruh kuat terhadap harga.

Data Administrasi Umum di Beijing melaporkan, Negeri Panda meningkatkan impor Juni sebesar 21,75 juta ton atau level tertinggi sejak Desember 2014. Angka tersebut membuat pengiriman ke dalam negeri di semester I/2016 menjadi 108 juta ton atau bertumbuh 8,2% (yoy), dibandingkan semester I/2015 yang terkoreksi 38%.

“Harga batu bara yang rendah membuat China mengubah strategi dari produsen menjadi importir. Alasannya, biaya eksplorasi masih terlalu tinggi dibandingkan harga jual,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Senin (1/8/2016).

Menurutnya, membaiknya faktor fundamental berhasil membuat harga batu bara keluar dari bayang-bayang sentimen minyak mentah yang kini mengalami bearish akibat suplai berlebih.

Pada perdagangan Senin (1/8) pukul 13:18 WIB, harga minyak WTI kontrak September 2016 naik 0,21 poin atau 0,5% menuju US$41,78 per barel. Padahal pada awal Juli harga bertengger di posisi US$49,65 per barel.

Selain China, negara produsen seperti Australia, Indonesia, dan Kolombia juga mengurangi produksi. Berdasarkan data Bank Dunia, ketiga negara pada 2015 masing-masing menempati posisi IV, V, dan VIII dalam daftar pemasok batu hitam terbesar di dunia.

Di Tanah Air, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana memberlakukan moratorium izin penambangan baru industri batu bara. Menurut Ibrahim, langkah ini merupakan hal yang wajar karena harga komoditas itu masih terlampau murah.

Dalam pembangunan smelter, pihak swasta pun masih sangat berhati-hati. Meskipun harga sedang mengalami kenaikan, trennya terbilang bakal terbatas.

Di sisi lain, pemerintah fokus dalam pembangunan PLTU di setiap provinsi untuk mengejar target kapasitas listrik 35.000 MW. Alhasil, walaupun ekspor berkurang, tetapi penyerapan di dalam negeri meningkat.

Dalam waktu dekat, harga batu bara diprediksi menurun ke level US$61 per ton. Sentimen negatif berasal dari rilis indeks PMI Manufaktur China pada Juli merosot ke level 49,9, jatuh di bawah ekspektasi 50,1.

Berkebalikan dengan data dari pemerintah setempat, Indeks PMI Manufaktur Caixin pada Juli meningkat ke 50,6 dari Juni sebesar 48,6. Pencapaian ini juga melebihi konsensus senilai 48,7.

Dalam jangka panjang, sambung Ibrahim, harga batu bara berpeluang ke level US$70 per ton akibat naiknya permintaan China, India, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa. Meskipun demikian, reli terhenti seiring dengan langkah Federal Reserve menaikkan suku bunga pada kuartal IV/2016.

 buttrock

JAKARTA kontan. Neraca perdagangan Indonesia selama Juni 2016 melanjutkan tren surplus. Surplus perdagangan yang terjadi pada bulan Juni lebih didorong oleh kenaikan harga komoditas, karena volume ekspor cuma tumbuh tipis.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Juni 2016 sebesar US$ 900,2 juta. Adapun selama semester I 2016, surplus tercatat US$ 3,59 miliar, lebih rendah dibandingkan 2015 yang sebesar US$ 4,48 miliar.

Selama Juni 2016, nilai ekspor tercatat US$ 12,92 miliar atau naik 12,18% dibanding Mei 2016. Nilai ekspor Juni 2016 menjadi tertinggi sejak Juli 2015. Tapi jika dibandingkan dengan Juni 2015, nilai tersebut turun 4,42%.

Kepala BPS Suryamin menyatakan, dari 22 harga komoditas yang diamati, harga 19 komoditas di antaranya meningkat pada Juni 2016 dibanding harga sebulan sebelumnya (month to month). Tapi jika dibandingkan Juni 2015, hanya harga 13 komoditas yang naik. Adapun harga komoditas yang meningkat pada Juni 2016 antara lain batubara 3,69% (month to month), kakao 1%, kopra 8,83%.

Sedangkan minyak sawit turun 3,26% secara bulanan tapi naik 1,79% secara tahunan, minyak kernel naik 6,32% sebulan terakhir dan secara tahunan naik 43%.

“Peningkatan harga komoditas berdampak pada ekspor kita,” kata Suryamin, Jumat (15/7). Industri masih lesu Sayang, data terbaru neraca perdagangan ini menyisakan kekhawatiran. Sebab selama Januari-Juni 2016 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, impor bahan baku/penolong dan barang modal masih turun. Masing-masing turun 12,23% dan 15,31%.

Ini menandakan industri manufaktur masih lesu dan ekonomi tetap lemah. Padahal sejak September tahun lalu pemerintah telah menebar insentif kepada industri melalui paket ekonomi. Data ini kian memperkuat, berbagai insentif tersebut belum berefek pada ekonomi.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengakui, saat ini belum ada perbaikan signifikan dari komoditas ekspor tambang, perkebunan, dan minyak. Harga rata-rata komoditas tersebut pada kuartal II 2016 masih lebih rendah dibandingkan rata-rata kuartal sebelumnya.

“Memang impor masih relatif lemah, sehingga membuat surplus di neraca perdagangan,” kata Mirza.

Melihat tren ke depan, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo memproyeksikan, kinerja ekspor impor Juli akan turun seiring minimnya aktivitas ekonomi pasca Lebaran. Tapi, volume ekspor batubara diperkirakan naik walaupun dari sisi harga turun tipis.

Kinerja impor barang konsumsi ke depan diperkirakan turun karena sudah melewati puncak konsumsi. Namun impor barang modal akan naik seiring dengan pembangunan infrastruktur. Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih bilang, kinerja ekspor ke depan belum membaik signifikan.

“Kemungkinan The Fed tidak menaikkan suku bunga, maka kurs dollar AS cenderung melemah. Komoditas naik dan negara berbasis komoditas, termasuk Indonesia, bisa mendapatkan keuntungan,” katanya.

Semester ini, pemerintah mesti fokus mengupayakan industri segera berlari, meningkatkan daya beli masyarakat dan mengendalikan harga pangan agar lebih stabil dan terjangkau. Tanpa itu, ekonomi dalam negeri menjadi rapuh dan rawan goncangan.

 butterfly

JAKARTA bisnis.com—Harga batu bara menembus level tertinggi sejak Juli 2015 seiring dengan berkurangnya produksi di China, Indonesia, dan Kolombia. Di sisi lain, impor China, sebagai konsumen dan produsen terbesar di dunia, diprediksi bakal terus meningkat.

Pada penutupan perdagangan Rabu (13/7) harga batu bara kontrak Juli 2016 di bursa Rotterdam naik 0,5 poin atau 0,87% menuju US$58,20 per ton. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Juli 2015 dan membuat kenaikan harga sepanjang tahun berjalan mencapai 34,72%.

Data Administrasi Umum di Beijing melaporkan pada Rabu (13/7), China sebagai konsumen batubara terbesar meningkatkan impor Juni sebesar 21,75 juta ton atau level tertinggi sejak Desember 2014.

Hasil tersebut membuat pengiriman ke dalam negeri di semester I/2016 menjadi 108 juta ton atau bertumbuh 8,2%, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang terkoreksi 38%.

Deng Shun, analis ICIS China, menuturkan permintaan impor batu bara akan terus meningkat karena pemerintah mengarahkan industri penambangan domestik mengurangi operasi. Langkah ini bertujuan mengurangi kelebihan kapasitas komoditas tersebut.

Secara tahunan, produksi batu hitam nasional di China menurun 15,5% pada Mei 2016, atau posisi  terendah dalam 12 bulan terakhir. “Impor batu bara China bakal meningkat karena pengurangan produksinya membuat pasokan terkoreksi,” tuturnya seperti dikutip dariBloomberg, Kamis (14/7).

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Komoditas Central Capital Futures, menuturkan mayoritas komoditas mengalami rebound di tahun ini setelah pada 2015 berada di level rendah. Namun, kenaikan harga batu bara terbilang agak terlambat dibandingkan komoditas lainnya.

Harga batu bara yang terus mengalami kejatuhan di setiap tahun sejak 2010 mulai pulih di tengah pengetatan aturan pencemaran lingkungan. Nilai jual juga terbantu berkurangnya pasokan akibat hujan lebat di Indonesia, sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia.

Selain Indonesia, pemotongan pasokan juga terjadi di Kolombia akibat meningkatnya penyerapan Korea Selatan sebagai importir batu bara termal terbesar keempat.

Di China, pemerintah setempat akan menghapus 500 juta ton kapasitas produksi batu hitam dalam 3-5 tahun ke depan. Perizinan semua proyek baru juga akan dihentikan sebagai upaya mengurangi polusi.

Sentimen dari negara produsen sekaligus konsumen terbesar itu mendorong harga ke level tertinggi baru sepanjang 2016.  Meskipun demikian, ke depannya harga masih rentan terkoreksi.

“Fundamental memang membaik, tapi belum bagus. Kenaikan harga juga masih bergantung dolar. Jadi tahun ini cenderung stabil menjauhi low, tetapi belum tentu kuat bertahan di high,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (14/7).

Secara teknikal, dalam jangka waktu menengah atau kuartalan rentang harga bergerak di level US$50-US$60 per ton, dengan nilai tengah US$55 per ton. Walaupun batu bara nantinya berhasil menembus US$65 per ton, tekanan harga ke bawah US$60 masih sangat kuat.

Citigroup Inc., dalam publikasi risetnya menyampaikan, produksi batu bara Negeri Panda bisa menurun 9% tahun ini untuk mengimbangi koreksi konsumsi sekitar 3,4%. Sementara harga batu bara termal di Newcastle, Australia yang menjadi patokan Asia berpotensi meningkat 50% pada 2016 jika curah hujan semakin meningkat, sehingga terjadi pengetatan suplai di pasar.

World Bank Commodities Price memaparkan rerata harga batu bara Newcastle di kuartal I/2016 sebesar US$50,9 per ton turun dari periode sebelumnya, kuartal IV/2016 senilai US$52,3 per ton. Namun, tren di triwulan kedua 2016 menunjukkan peningkatan ke US$51,9 per ton.

Rerata harga pada April, Mei, Juni 2016 secara berturut-turut adalah US$50,8, US$51,5, dan US$53,4 per ton.

Senada dengan batu hitam, harga minyak WTI mengalami tren bertumbuh, yakni US$33,2 per barel di kuartal I/2016 menuju US$45,5 barel pada triwulan selanjutnya. Rerata harga minyak di April, Mei, Juni adalah US$41, US$46,7, dan US$48,8 per barel.

Pada perdagangan Kamis (13/7) pukul 17:25 WIB harga minyak WTI kontrak Agustus 2016 turun 0,59 poin atau 1,32% menuju US$45,32 per barel. Dalam waktu yang sama, harga minyak Brent kontrak Agustus 2016 merosot 0,57 poin atau 1,23% menjadi US$46,83 per barel. (Bloomberg)

 buttrock

Bisnis.com, JAKARTA– Pergerakan harga batu bara melanjutkan penguatannya pada penutupan perdagangan Rabu (13/7/2016) ke level tertinggi dalam 16 bulan.

Pada perdagangan Rabu, harga batu bara untuk kontrak September 2016, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup menguat 0,91% atau 0,55 poin ke US$60,80/metrik ton.

Penguatan harga batu bara pada penutupan perdagangan kemarin adalah yang tertinggi sejak 5 Maret 2015 ketika menyentuh level 60,90.

China meningkatkan impor batu baranya ke level tertinggi selama lebih dari setahun seiring penurunan produksi domestik di tengah upaya pemerintah untuk memangkas kelebihan kapasitas.

Menurut data General Admnistration of Customs Beijing, seperti dilansir Bloomberg kemarin, negara pengguna batu bara terbesar dunia tersebut meningkatkan impornya menjadi 21,75 juta metrik ton bulan lalu, tertinggi sejak Desember 2014.

“Impor batu bara China akan terus naik sejalan dengan pemangkasan produksi negara tersebut yang telah menyebabkan penurunan suplai. Tidak ada tanda bahwa pemerintah akan mengurangi upayanya dalam mengatasi kapasitas berlebih,” ujar Deng Shun, analis ICIS China sebelum rilis data tersebut.

Di sisi lain, melemahnya dolar AS juga turut mendorong daya tarik komoditas. Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama kemarin berakhir melemah 0,23% atau 0,225 poin ke 96,216.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak September 2016 di bursa Rotterdam

Tanggal US$/MT
13 Juli 60,80

(+0,91%)

12 Juli 60,25

(+3,88%)

11 Juli 58,00

(-0,09%)

8 Juli 58,05

(-1,69%)

7 Juli 59,05

(+1,72%)

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg 

 lol

JAKARTA kontan. Tren positif pergerakan harga komoditas energi rupanya berdampak positif terhadap harga batubara. Beberapa waktu lalu, harga batubara berhasil menembus level tertingginya sejak Maret 2015 lalu.

Mengutip Bloomberg, Jumat (8/7) harga batubara kontrak pengiriman Agustus 2016 di ICE Futures Exchange tergelincir 0,08% ke level US$ 59,85 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Meski demikian, di sepanjang semester I 2016, harga batubara berhasil terbang kembali sebesar 25,16%.

Wahyu Tri Wibowo, Analis Central Capital Futures menjelaskan, kenaikan batubara memang kian signifikan memasuki akhir semester pertama tahun ini.

Kenaikan harga batubara itu didorong oleh pulihnya harga minyak dan komoditas yang turut beri sentimen positif. Selain, tentunya masih tercatat terus terjadinya pengurangan produksi oleh beberapa produsen utamanya.

“Pelemahan dollar Amerika Serikat akibat redupnya kenaikan suku bunga The Fed. jadi penopang harga karena bisa dongkrak permintaan sementara,” ujar Wahyu.

Apalagi, belakangan ini harga gas alam juga melambung tinggi. Para pelaku pasar cenderung memilih berburu batubara yang harganya lebih murah. Kondisi ini yang turut mengangkat harga batubara.

Kabar terbaru menunjukkan, produksi batubara di Kolombia dan Indonesia terus dipangkas. Sementara impor dari Korea Selatan dan Jepang meningkat.

Adapun, China berencana memangkas produksi hingga 500 juta ton dalam tiga hingga lima tahun mendatang dan menahan rilisnya proyek tambang batubaranya. Alhasil, produksi batubara China April 2016 turun 11% menjadi 268 juta ton menyentuh level terendahnya sejak April 2015 lalu.

Kondisi tersebut mendongkrak harga batubara menyentuh level tertinggi pada 4 Juli 2016 lalu di US$ 60,55 per metrik ton.

Meski catatan perjalanan batubara gemilang bukan berarti tanpa cela. Sebab, sebagai pengingat, pada 20 Januari 2016 lalu harga batubara sempat terpuruk di level terendahnya sejak setidaknya Maret 2011 lalu di US$ 43,90 per metrik ton.

“Itu karena dollar AS masih tinggi dan upaya negara-negara konsumen untuk beralih ke energi terbarukan yang sebenarnya sampai sekarang masih berlanjut,” jelas Wahyu.

Jika berkaca dari fundamental tersebut memang tren jangka panjang masih bearish.

Menduga prospek ke depannya, Wahyu memprediksi, harga batubara akan bergerak dalam rentang yang sempit. Meski peluang untuk mempertahankan harga masih ada, namun hal tersebut tidak akan banyak berubah dari level saat ini. “Rata-rata harga batubara di tahun 2016 ini US$ 55,00 per metrik ton,” tebak Wahyu.

 buttrock

JAKARTA:   Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) pada Juli ini sebesar US$ 53 per ton. Harga tersebut lebih tinggi 2,29% dibandingkan HBA Juni kemarin yang berada di level US$ 51,81 per ton.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan, menguatnya harga batubara dipengaruhi oleh membaiknya harga minyak dunia. Namun dia menyebut kenaikan harga batubara masih bersifat sementara. “Harga minyak dunia sebagai sumber energy primer sedang dalam tren penguatan,” kata Sujatmiko di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyampaikan hal senada. Menurutnya, harga minyak dunia berpengaruh positif terhadap harga batubara. Namun di sisi lain, dia mengungkapkan kenaikan harga saat ini juga disokong oleh permintaan dari India dan Tiongkok.

“Kemungkinan ada peningkatan permintaan dari India. Kemudian dari China meskipun tidak signifikan, tapi ada peningkatan,” jelasnya.

Hendra berharap harga batubara hingga akhir tahun bertahan di kisaran US$ 54 per ton. Pasalnya, kondisi over supply masih terjadi di pasar internasional meskipun sejumlah produsen sudah mengurangi tingkat produksi. “Kenaikan harga masih terbatas karena over supply masih terjadi,” ujar dia.

Berdasarkan catatan Investor Daily, kenaikan harga batubara pada Juli ini belum melampaui HBA pada Januari 2016 silam yang berada di level US$ 53,20 per ton. Sejak awal tahun memang terjadi fluktuasi harga batubara. Pada Februari HBA anjlok ke level US$ 50,92 per ton.

Kemudian naik tipis di Maret dengan HBA pada posisi US$ 51,62 per ton. Tren penguatan tersebut berlanjut ke April yang membuat HBA berada di level US$ 52,32 per ton.

Tren kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh finalisasi kontrak pasokan batubara antara Australia dan Jepang. Namun setelah kontrak ditandatangani harga batubara kembali melemah di Mei pada posisi US$ 51,2 per ton.

Pertengahan tahun ini, harga batubara mengalami kenaikan tipis yakni US$ 51,81 per ton. Hal ini lebih dipengaruhi oleh kenaikan index harga di Australia. Penetapan formula HBA dipengaruhi oleh sejumlah index yakni Indonesian Coal Index (ICI), New Castle Export Index (NEX), New Castle Global Coal Index (GC) dan Platts. Masingmasing Index memiliki porsi sama sebesar 25% dalam penetapan HBA per bulan. (rap)

http://id.beritasatu.com/energy/juli-harga-batubara-naik-menjadi-us-53-per-ton/146300
Sumber : INVESTOR DAILY

 buttrock

Jakarta berita1- ‎Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) Juni 2016 sebesar US$ 51,81 per ton. Harga tersebut naik 1,19 persen dibandingkan dengan HBA pada Mei lalu yang ditetapkan sebesar US$ 51,2 per ton.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM, Sujatmiko, mengatakan kenaikan HBA tersebut belum signifian. Dia tidak menjelaskan alasan kenaikan tersebut. Namun dia menyebutnya hanya bersifat sementara.

“Naiknya HBA bulan ini kemungkinan hanya seasonal saja, karena kalau dilihat masih di level bawah kan,” kata Sujatmiko di Jakarta, Selasa (7/6).

Sujatmiko menuturkan HBA pada bulan-bulan ke depan bisa saja kembali mengalami penguatan. Menurutnya hal tersebut bisa dilihat dari pergerakan harga minyak dunia yang kembali di level US$ 50 per barrel.

“Harga minyak dunia sebagai sumber energi primer sedang dalam tren penguatan,” jelasnya.

Berdasarkan catatan Beritasatu.com, kenaikan HBA Juni ini belum melampaui HBA pada April kemarin yang berada di level US$ 52,32 per ton. Posisi harga batubara di April tersebut disebabkan oleh sentimen positif terkait finalisasi kontrak batubara antara Australia dan Jepang.

Pada Mei, HBA kembali turun lantaran situasi kembali normal pasca kontrak ditandatangani oleh Australia dan Jepang.

Rangga Prakoso/FER

lol

Jakarta berita1- Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengungkapkan naiknya Harga Batubara Acuan (HBA) Juni 2016 disebabkan oleh membaiknya harga minyak dunia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HBA Juni sebesar US$ 51,81 per ton. Harga tersebut naik 1,19 persen dibandingkan dengan HBA pada Mei lalu yang ditetapkan sebesar US$ 51,2 per ton.

“Faktor kenaikan harga minyak secara psikologis memang turut mendorong penguatan batu bara,” kata Deputi Direktur Ekekutif APBI Hendra Sinadia di Jakarta, Selasa (7/6).

Hendra berharap, kenaikan harga batubara terus berlanjut seiring dengan harga minyak dunia yang berada di kisaran US$ 50 per barrel. Dia bilang, membaiknya harga bisa dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan batu bara dunia. Pasalnya harga batubara dikisaran US$ 50 per ton merupakan titik terendah. Hal ini memaksa pelaku usaha menekan produksi batu bara.

“Banyak produsen yang mengurangi produksinya sehingga pasokan sedikit berkurang,” jelasnya.

Berdasarkan catatan Beritasatu.com, kenaikan HBA Juni ini belum melampaui HBA pada April kemarin yang berada di level US$ 52,32 per ton. Posisi harga batubara di April tersebut disebabkan oleh sentimen positif terkait finalisasi kontrak batubara antara Australia dan Jepang.

Pada Mei, HBA kembali turun lantaran situasi kembali normal pasca kontrak ditandatangani oleh Australia dan Jepang.

Rangga Prakoso/FER

BeritaSatu.com

rose KECIL

JAKARTA kontan. Harga batu bara ditutup melejit pada perdagangan hari ketiga, Senin (6/6/2016) seiring lonjakan harga minyak mentah global ke level tertinggi.

Pada perdagangan Senin, harga batu bara untuk kontrak Agustus 2016, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup melejit sebesar 2,85% atau 1,50 poin ke US$54,05/metrik ton, tertinggi sejak mencapai posisi 54,15 pada tanggal 13 Agustus 2015.

Harga minyak mentah ditutup pada level tertinggi dalam kurang lebih 10 bulan terakhir karena tanda kelebihan pasokan global mereda lebih cepat.

Minyak jenis West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli diperdagangakan menguat 2,2% atau USid=”mce_marker”,07 ke level US$49,69 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak patokan global, Brent, menguat 91 sen atau 1,8% ke level US$50,55 per barel di ICE Futures Europe exchange, London. Ini merupakan level penutupan tertinggi sejak 9 Oktober 2015.

 Minyak telah melonjak lebih dari 80% dari level terendah dalam 12 tahun terakhir ini menyusul gangguan pasokan yang tak terduga dan penurunan output AS yang berada di bawah tekanan kebijakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak / OPEC yang tidak membatasi produksi.

Â

Pergerakan harga batu bara kontrak Agustus 2016 di bursa Rotterdam

Tanggal

US$/MT
6 Juni

54,05

(+2,85%)
3 Juni

52,55

(+1,94%)
2 Juni

51,55

(+1,78%)
1 Juni

50,65

(-0,39%)
31 Mei

50,85

(+0,39%)

 

Sumber: Bloomberg
http://market.bisnis.com/read/20160607/94/555194/harga-batu-bara-kontrak-agustus-melejit-ke-level-tertinggi-sepuluh-bulan
Sumber : BISNIS.COM

 Emoticons0051

JAKARTA. Harga batu bara ditutup menguat pada perdagangan Selasa (31/5/2016).

Pada perdagangan Selasa, harga batu bara untuk kontrak Juli 2016, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup dengan penguatan sebesar 0,39% atau 0,20 poin ke US$51/metrik ton.

Pada perdagangan kemarin, harga batu bara menguat ke posisi tertinggi dalam hampir sembilan bulan setelah mencapai posisi 51.25 pada tanggal 10 September 2015.

Pada perdagangan Senin (30/5/2016), harga batu bara ditutup stagnan di posisi US$50,80/metrik ton setelah naik melesat sebesar 1,30% atau 0,65 poin ke posisi yang sama pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Seperti dilansir Bloomberg (30/5/2016), tren penguatan harga batu bara dalam beberapa hari terakhir sejalan dengan kenaikan harga batu bara acuan China ke level tertinggi sejak September menyusul langkah pemerintah China untuk membatasi suplai di tengah oversuplai yang mulai memberikan dampak.

Produsen batu bara terbesar di dunia tersebut berusaha untuk menurunkan kelebihan sejalan pergeseran negara itu ke arah pertumbuhan konsumen dan berusahan untuk mengurangi polusi. Produksi batu bara China turun 11% menjadi 268 juta ton pada bulan April.

Pergerakan harga batu bara kontrak Juli 2016 di bursa Rotterdam

Tanggal

US$/MT
31 Mei

51,00

(+0,39%)
30 Mei

50,80

(+0,00%)
27 Mei

50,80

(+1,30%)
26 Mei

50,15

(+1,11%)
25 Mei

49,60

(+2,06%)

 

Sumber: Bloomberg

http://market.bisnis.com/read/20160601/94/553283/harga-batu-bara-china-membatasi-suplai-kontrak-juli-melesat
Sumber : BISNIS.COM

Emoticons0051

Jakarta detik-Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk penjualan langsung (spot) yang berlaku 1 Mei 2016 hingga 31 Mei 2016, turun US$ 1,12/ton atau 2,1% menjadi US$ 51,2/ton.

Ini adalah harga batu bara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB vessel). Harga ini naik dari bulan sebelumnya, yang sebesar US$ 52,32/ton.

Sebelunya, HBA pada Maret dan April naik dua bulan berturut-turut.

Bila dibandingkan dengan Mei 2015 yang sebesar US$ 61,08/ton, HBA di Mei 2016 turun signifikan US$ 9,88, atau turun 16,2%.

Nilai HBA adalah rata-rata dari 4 indeks harga batu bara yang umum digunakan dalam perdagangan batu bara yaitu, Indonesia Coal Index, Platts59 Index, New Castle Export Index, dan New Castle Global Coal Index.

HBA menjadi acuan harga batu bara pada kesetaraan nilai kalor batu bara 6.322 kkal/kg Gross As Received (GAR), kandungan air (total moisture) 8%, kandungan sulphur 0,8% as received (ar), dan kandungan abu (ash) 15% ar.

Berdasarkan HBA selanjutnya dihitung Harga Patokan Batu Bara (HPB) yang dipengaruhi kualitas batu bara yaitu: nilai kalor batu bara, kandungan air, kandungan sulphur, dan kandungan abu sesuai dengan merek dagang utama batu bara atau brand yang disebut dengan HPB Marker.

HPB Marker terdiri dari 8 brand batu bara yang sudah umum dikenal dan diperdagangkan. HPB Marker Mei 2016 untuk 8 brand batu bara dalam US$/Ton adalah sebagai berikut:

  • Gunung Bayan I: 54,66 (turun 2,2% dibandingkan HPB April 2016)
  • Prima Coal: 56,70 (turun 2,0% dibandingkan HPB April 2016)
  • Pinang 6150: 51,26 (turun 2,0% dibandingkan HPB April 2016)
  • Indominco IM_East: 42,16 (turun 2,1% dibandingkan HPB April 2016)
  • Melawan Coal: 42,44 (turun 1,9% dibandingkan HPB April 2016)
  • Enviro Coal: 40,89 (turun 1,7% dibandingkan HPB April 2016)
  • Jorong J-1: 32,88 (turun 1,7% dibandingkan HPB April 2016)
  • Ecocoal: 30,35 (turun 1,7% dibandingkan HPB April 2016)

Selain 8 merek dagang batu bara ini, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM setiap bulan menetapkan HPB untuk merek dagang batu bara lainnya antara lain, Gunung Bayan II, TAJ Coal, Pinang 5700, Mahoni Medium Sulphur, dan LIM 3010.

(wdl/ang)

doraemon

JAKARTA bisnis–Harga batu bara melesat ke level tertinggi dalam 8 bulan terakhir akibat pengetatan pasokan, meningkatnya permintaan China, dan nilai jual minyak yang menghijau.

Pada penutupan perdagangan Senin (16/5) harga batu bara kontrak Juni 2016 di bursa Rotterdam naik 0,75 poin atau 1,54% menuju US$49,40 per ton. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Oktober 2015 dan membuat kenaikan harga sepanjang tahun berjalan mencapai 14,62%.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Komoditas Central Capital Futures, menuturkan melesatnya harga minyak ke level tertinggi baru sepanjang tahun berjalan turut mengangkat mineral lainnya sebagai energi alternatif.

Selain itu, tren rebound masih menaungi pasar komoditas akibat langkah The Fed yang menahan kenaikan suku bunga, sehingga proyeksi dolar AS melemah.

Menurutnya karena faktor fundamental belum banyak mendukung, harga US$50 per ton masih menjadi basis bagi batu bara. Adapun pergerakan sepanjang tahun berkisar US$40-US$60 per ton.

“Batu bara termasuk komoditas yang terlemah dari sisi fundamental. Jadi bila kemungkinan mencapai di atas US$60, akan cenderung berbalik lagi ke US$50-an,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/5).

Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc., menyampaikan pemotongan produksi batu bara dalam tiga tahun terakhir membantu kondisi pasar yang mengalami surplus pasokan. Namun, peningkatan hanya terjadi sementara, karena sentimen harga masih cenderung bearish.

Batu bara masak atau biasa disebut kokas metalurgi yang digunakan dalam pengubahan bijih besi menjadi baja, suplainya sudah turun 44 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan 14% dari total ekspor 2015.

Harga kontrak kokas di kuartal II/2016 mencapai US$84 per ton, naik 31% dibandingkan posisi harga pada Februari. Pada kuartal III/2016, nilai kontrak diperkirakan menuju ke US$85 per ton.

Daniel Hynes, Senior Commodity Strategist Australia & New Zealand (ANZ) Banking Group, menuturkan adanya pengetatan dalam produksi baja dan bahan baku pembentuknya memberikan sentimen positif terhadap harga, meskipun bersifat sementara.

Namun, bertumbuhnya permintaan membuat proyeksi kokas bakal menguntungkan produsen batu bara.

Pemerintah Australia menyampaikan ekspor batu bara dari Negeri Kanguru ke China pada Maret naik menuju 15,8 juta ton. Sebelumnya, pada Februari, konsumsi Negeri Panda merosot ke 12,5 juta ton, atau level terendah dalam tiga tahun terakhir.

Dewan Negara China sudah menyatakan keinginan pemangkasan produksi sebesar 100 juta ton hingga 150 juta ton baja menjadi 55 juta ton sampai dengan 95 juta ton. Artinya, langkah tersebut dapat mengurangi konsumsi bijih besi sekitar 90 juta ton hingga 150 ton, atau 15% dari total pasokan global.

Sementara itu, World Bank Energy Price Index mencatatkan penurunan harga sebanyak 21% pada kuartal I/2016. Minyak memimpin kejatuhan sebesar 22%, gas alam anjlok 15%, dan batu bara melemah tipis 3%. Namun, komoditas energi sudah mulai pulih dari posisi terendah di awal Januari.

Naiknya harga batu bara dipicu naiknya permintaan dan stok yang menipis di pelabuhan China. Akan tetapi, impor konsumen batu hitam terbesar di dunia tersebut diperkirakan akan berkurang seiring dengan langkah pemerintah setempat yang berupaya mengurangi efek polusi dari batu bara.

“Komitmen dari sejumlah negara untuk mengatasi perubahan iklim mempercepat transisi pembatasan penggunaan batu bara. Di sisi lain, konsumsi gas alam yang murah jadi terdorong,” papar Bank Dunia.

Bank Dunia memerkirakan harga batu bara 2016 menurun sebesar 13% menjadi rerata US$50 per ton akibat pasokan melebihi permintaan. Selain China, konsumen besar seperti India juga berencana memangkas impor dalam beberapa tahun ke depan.

U.S. Energy Information Administrasion (EIA) dalam Short-Term Energy Outlook (STEO) mengungkapkan, selama beberapa dekade batu bara menjadi sumber energi dominan untuk menghasilkan listrik di Amerika Serikat. Namun, lambat laun posisinya akan tergeser dengan bertumbuhnya penggunaan gas alam.

Pemakaian gas alam pertama kali hampir menyamai konsumsi batu bara secara bulanan (m-o-m) pada April 2015. Pergerakan tersebut membuat kontribusi keduanya cenderung seimbang sepanjang tahun lalu.

“Masing-masing berkontribusi sekitar sepertiga dari total energi yang digunakan untuk pembangkit listrik,” tulis EIA.

Batu bara mampu memproduksi listrik sekitar 1,4 miliar megawat per jam (MWh) per satu hari. Sedangkan gas alam hanya menghasilkan 1,3 juta MWh per hari. Sebagai per bandingan, satu megawatt bisa memenuhi kebutuhan untuk 1.000 unit rumah di AS.

Badan energi pemerintah setempat itu menilai, peraturan mengenai dampak lingkungan yang memengaruhi perubahan penggunaan sumber energi pembangkit listrik telah menekan pasar batu bara dalam satu dekade terakhir.

Data Bank Dunia menunjukkan, Paman Sam memproduksi 508 juta ton dan mengonsumsi 453 juta ton batu bara pada 2014. Posisi tersebut hanya kalah dari China yang menambang 1,845 miliar ton dan menyerap 1,962 miliar ton batu hitam.

Emoticons0051

JAKARTA. Harga batu bara berhasil ditutup dengan kenaikan tajam pada perdagangan kemarin, Senin (16/5/2016).

Pada perdagangan Senin, harga batu bara ditutup melonjak sebesar 1,54% atau 0,75 poin ke US$49,40/metrik ton untuk kontrak Juni 2016.

Harga batu bara menguat pada penutupan perdagangan ke-2 setelah juga ditutup menguat sebesar 0,10% atau 0,05 poin ke US$48,65/metrik ton pada perdagangan sebelumnya.

Penguatan harga batu bara pada perdagangan kemarin adalah yang tertinggi dalam lebih dari 7 bulan terakhir ketika menyentuh level 49,40 pada tanggal 6 Oktober 2015.

Melonjaknya harga batu bara sejalan dengan melejitnya harga minyak mentah pada perdagangan kemarin. Harga minyak WTI kontrak Juni kemarin ditutup melejit sebesar 3,27% ke US$47,72 per barel, sementara patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak Juli juga ditutup dengan melesat sebesar 2,38% ke US$48,97 per barel.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal

US$/MT
16 Mei

49,40

(1,54%)
13 Mei

48,65

(+0,10%)
12 Mei

48,60

(-0,10%)
11 Mei

48,65

(+1,78%)
10 Mei

47,80

(+0,84%)

 

*Kontrak Juni 2016

Sumber: BloombergÂ

http://market.bisnis.com/read/20160517/94/548148/harga-batu-bara-melonjak-154-ke-level-tertinggi-dalam-tujuh-bulan
Sumber : BISNIS.COM

ezgif.com-resize

JAKARTA kontan. Harga batubara kembali bersemangat seiring dengan komoditas lainnya. Namun demikian, penguatan batubara tertahan oleh lemahnya kondisi fundamental.

Mengutip Bloomberg, Jumat (13/5) harga batubara kontrak pengiriman Juli 2016 di ICE Futures Exchange tergerus 0,5% ke level US$ 50,80 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Namun dalam sepekan terakhir, harga batubara menguat 0,9%.

Wahyu Tri Wibowo, analis PT Central Capital Futures mengatakan, pergerakan harga komoditas sedang positif sehingga turut mengangkat batubara. Apalagi di saat harga batubara tergolong sangat rendah. “Sentimen bagus masih bisa menahan kejatuhan bahkan sedikit mengangkat harga,” paparnya.

Sentimen positif semakin kuat lantaran The Fed memberi sinyal belum akan menaikkan suku bunga pada bulan Juni mendatang. Hal ini menyebabkan nilai tukar dollar AS sulit menguat dan akhirnya mengangkat harga komoditas. “Secara momentum, harga batubara masih berpeluang rebound,” lanjut Wahyu.

Tetapi di sisi lain, kondisi supply dan demand masih mendukung pelemahan harga. Artinya, pasokan batubara semakin membengkak sementara permintaan terus melemah. Ekonomi global terlihat melambat dan belum menunjukkan tanda – tanda perbaikan. Data ekonomi China sebagai konsumen batubara terbesar di dunia belum memuaskan.

Terbaru, data produksi industri China bulan April turun menjadi 6% dari sebelumnya 6,8%. Sedangkan investasi aset tetap turun ke level 10,5% dari sebelumnya 10,7%.

Di samping itu, batubara seperti anak tiri dalam komoditas yang terus diperangi karena menimbulkan pencemaran udara. Seperti yang terjadi di Inggris pada tanggal 10 Mei lalu, dimana penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara (PLTB) di Inggris jatuh ke level nol untuk pertama kali sejak tahun 2009. Pembangkit listrik batubara Inggris sempat mencapai level puncak dengan penggunaan sebesar 25,3 gigawatt di bulan Desember 2011 ketika batubara menyumbang sekitar 50% dari total pembangkit listrik negara tersebut.

Berdasarkan pengamatan Bloomberg, tingkat keuntungan PLTB Inggris mendekati level terendah sementara aturan emisi harus mempercepat penutupan fasilitas. Di Inggris, harga listrik batubara berada di level terendah setidaknya sejak 2007.

 ezgif.com-resize

JAKARTA. Harga batu bara ditutup turun tajam pada perdagangan Rabu (23/3/2016).

Harga komoditas batu hitam itu ditutup menurun 2,39% ke US$45,00/metrik ton untuk kontrak April 2016.

Di China, Kepala Perusahaan Batu Bara Anhui Huaibei Mining Wang Mingsheng mengatakan ada empat sektor pertambangan yang berada dalam pertempuran melawan utang hingga 10,2 triliun yuan  atau USid=”mce_marker”,56 triliun.

Menurut Biro Statistik China menempatkan utang batu bara dan baja saja di 8 triliun yuan, dimana sekitar sepertiga adalah utang bank.

Hal ini akan menambah kekhawatiran dari performa pinjaman bank-bank China yang terseret aadanya pelemahan batu bara secara terus menerus.

Konsultan Industri baja Xu Zhongbo mengatakan China perlu mendirikan sebuah organisasi baru, khusus hanya bank untuk mengambil alih utang ini dan menghindari bank lokal akan bangkrut.

Â

Pergerakan harga batu bara kontrak April di bursa Rotterdam:

Tanggal

US$/MT

(%)
22/3/2016

45,00

-2,39
21/3/2016

46,10

-1,07
18/3/2016

46,60

+0,32
17/3/2016

46,45

+2,99
16/3/2016

45,10

+1,81
Sumber: Bloomberg

http://market.bisnis.com/read/20160323/94/530745/harga-batu-bara-utang-perusahaan-di-china-menumpuk-batu-hitam-turun-tajam

double arrow picSMALL

Sumber : BISNIS.COM

JAKARTA. Harga batu bara melejit pada penutupan perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB.

Pada penutupan perdagangan Rabu (9/3/2016), harga batu bara menguat 1,23% ke US$45,1/metrik ton.

Penguatan batu bara sejalan dengan melejitnya harga minyak WTI pada penutupan perdagangan Rabu yang menguat 1,65% ke US$40,07 per barel.

Sebelumnya baru bara tertekan peningkatan suplai gas alam. Gas alam yang makin murah harganya, menjadi energi yang dipilih untuk menggerakkan generator.

Batu bara juga menghadapi persaingan dengan energi yang dihasilkan dari tenaga nuklir.

Â

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Â

Tanggal

US$/MT
9 Maret

45,10

(+1,23%)
8 Maret

44,55

(-2,35%)
7 Maret

45,62

(+1,49%)

 

*Kontrak April 2016

Sumber: Bloomberg

reaction_1

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara ditutup melambung hingga 4,06% pada penutupan perdagangan Senin (22/2/2016).

Harga komoditas tersebut untuk kontrak Maret 2016 di bursa komoditas ICE Futures Europe Commodities menguat 1,80 poin atau 4,06% ke US$46,10/metrik ton.

Seperti diketahui penguatan minyak mendorong harga komoditas. WTI  pada Senin atau Selasa pagi ditutup melompat 5,17% atau 1,64 poin ke US$33,39 per barel.

Dari pergerakan indeks EIDO, investor AS juga tengah menggandrungi saham batubara. Adapun saham batubara Indonesia yang laris adalah  PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. (PTBA) naik hingga 14,03% dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) naik 6,67% di penutupan perdagangan bursa Amerika Serikat I Shares MSCI Indonesia ETF (EIDO) pada Senin (22/2/2016).

Selain itu, emiten batu bara di dalam negeri juga optimisme dengan pasar. Seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang mengincar pembangunan proyek-proyek pembangkit listrik dengan total kapasitas 5.000 megawatt dengan nilai investasi US$8 miliar dalam lima tahun ke depan sehingga membutuhkan batu bara sebagai energi pembangkit.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam pada kontrak Maret 2016:

Tanggal US$/MT Perubahan (%)
22/2/2016 46,10 +1,80
19/2/2016 44,30 +0,75
18/2/2016 43,55 +0,25
17/2/2016 43,30 +0,50
16/2/2016 42,80 -0,30

Sumber: Bloomberg

long jump icon

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara ditutup menguat, mengikuti rebound signifikan minyak mentah dunia dan sejumlah komoditas lainnya.

Harga batu bara pada penutupan perdagangan Kamis (21/1/2016) untuk kontrak Februari 2016 di bursa komoditas ICE Futures Europe Commodities menguat 1,46% ke US$45,20/metrik ton.

Batu bara mengikuti gerak harga minyak mentah dunia yang juga menguat signifikan pada penutupan perdagangan Kamis.

Minyak WTI menguat 4,16% ke US$29,5 per barel, Brent naik 4,91% ke US$29,25 /barel.

Batu bara telah mencetak level terendah lima tahunnya pada 15 januari 2016, yaitu bertengger di angka 43,6.

Menyusutnya permintaan batu bara juga telah menghancurkan bisnis sejumlah penambang.

Batu bara termal yang digunakan oleh pembangkit listrik tertekan, setelah pengguna beralih memakai oleh gas alam murah. Ditambah lagi, adanya penetapan kebijakan lingkungan yang lebih ketat.

Batu bara metalurgi yang digunakan dalam pembuatan baja menghadapi kelebihan pasokan global di tengah penurunan permintaan China

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal US$/MT
21 Januari 45,20

(+1,46%)

20 Januari 44,55

(+1,60%)

19 Januari 43,85

(+0,57%)

*Kontrak Februari 2016

Sumber: Bloomberg

reaction_1

Liputan6.com, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat harga batu bara acuan (HBA) mengalami penurunan sebesar 5,15 persen dari US$ 57,39 per ton menjadi US$ 54,43 per ton pada November 2015. Penurunan harga ini paling rendah sejak 2009.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Direktorat Jenderal dan Batubara Kementerian ESDM Adhi Wibowo mengungkapkan harga batu bara akan terus meros‎ot hingga Desember. Namun ia tidak menyebutkan besarannya.

“Harga ini diperkirakan turun sampai Desember,” kata Adhi di Jakarta, Selasa (10/11/2015).

Menurut Adhi, penurunan harga batu bara disebabkan oleh penurunan permintaan pasar dunia. Selain itu juga dipengaruhi harga rata-rata di empat indeks yakni Indonesia Coal Index (ICI), Index Platts-59, New Castle Export Index (NEX ) dan New Castle Global Coal Index (GCNC).

“HBA November US$ 54,43 per ton, mengacu ke empat indeks yang juga mengalami penurunan,” tuturnya.

Adhi menambahkan, saat ini pihaknya sedang merumuskan formulasi harga batu bara agar penetapan harga‎ bisa ditetapkan sendiri. Pasalnya, Indonesia merupakan penghasil terbesar batu bara kalori rendah, tetapi harga batubaranya malah mengacu pada indeks pasar internasional.

Kementerian ESDM setiap bulan menetapkan HBA. Harga batu bara terus mengalami pelemahan sejak awal 2015 yang berada di level US$ 64,02 per ton hingga menyentuh level US$ 54,43 per ton. (Pew/NDw)

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara melanjutkan pelemahannya.

Harga batu bara pada penutupan perdagangan Kamis (9/10/2015) untuk kontrak November 2015 melemah 0,49% US$51,15/metrik ton.

Pada Rabu, harga batu bara turun 0,96% ke US$51,40/metrik ton.

Glencore Plc sebelumnya mengemukakan perlambatan ekonomi global memperburuk kondisi batu bara yang saat ini banjir stok, sehingga menekan harga jual ke level terendah dalam delapan tahun.

Pasar mencoba kembali dalam keseimbangannya di tengah lemahnya permintaan, kata Peter Freyberg, Kepala Glencore divisi batu bara.

“Kelebihan pasokan saat ini telah diperparah oleh ketidakpastian ekonomi global yang sedang berlangsung,” kata kata Freyberg.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal US$/MT
8 Oktober 51,15

(-0,49%)

7 Oktober 51,40

(-0,96%)

6 Oktober 51,90

(+1,47%)

*Kontrak November 2015

Sumber: Bloomberg

JAKARTA— Harga batu bara anjlok dan kembali mencetak level terendah baru dalam lima tahun perdagangan terakhir.

Harga batu bara pada penutupan perdagangan Kamis (2/10/2015) untuk kontrak November 2015 anjlok 1,09% ke US$50/metrik ton.

Pada Rabu, harga batu bara juga anjlok 1,27% ke US$50,55/metrik ton.

Batu bara mengalami tekanan. Setengah dari produsen batu bara dunia merasakan lesunya bisnis mereka di saat harga batu hitam terus tertekan, menurut Moody Investors Service.

“Pengurangan produksi lebih lanjut diperlukan untuk membawa pasar kembali seimbang,” kata Analis Moody, Anna Zubets-Anderson dalam laporannya seperti dikutip Bloomberg, Jumat (2/10/2015).

Turunnya permintaan dari China makin menekan pasar batu bara, sehingga mencipatan suplai yang berlebih di pasar global.

Sementara itu di AS, lebih memilih menggunakan gas alam yang murah untuk pembangkit listrik. Gas telah mencaplok pasar batu bara. Dolar yang menguat juga menekan permintaan batu bara.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal

US$/MT
1 Oktober

50,00

(-1,09%)
30 September

50,55

(-1,27%)
29 September

51,20

(+0,10%)

*Kontrak November 2015

http://market.bisnis.com/read/20151002/94/478177/harga-batu-bara-kembali-cetak-level-terendah-baru-
Sumber : BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara melanjutkan melemah, memasuki penurunan dalam tiga minggu perdagangan.

Setelah sempat menguat pada perdagangan Rabu, batu bara pada penutupan perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB kembali melemah, dan jatuh ke level terendah dalam perdagangan lima tahun terakhir.

Harga batu bara pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2015) untuk kontrak November 2015 melemah 0,38% ke $ 51,95/metrik ton.

Pada Rabu, harga batu bara menguat 0,19% ke US$52,15/metrik ton.

Tekanan setelah terjadi perlambatan permintaan batu bara di China, sehingga menciptakan peningkatan ketersediaan pasokan suplai batu bara.

Ditambah lagi saat ini harga minyak dan gas jatuh.

” Kemerosotan berkepanjangan,” kata Chief Executive Officer Caterpillar Doug Oberhelman seperti dikutip Bloomberg, Jumat (25/7/2015).

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal US$/MT
24 September 51,95

(-0,38%)

23 September 52,15

(+0,19%)

22 Agustus 52,05

(-0,67%)

*Kontrak November 2015

Sumber: Bloomberg

oil price.com:

Lower prices have had a mixed effect on commodities production. Metals like gold and iron ore have seen output stay stubbornly high — with Platts reporting this week that iron ore exports from key producers Australia and Brazil are running near record levels, despite a plunge in prices.

Other metals like copper and platinum are starting to show production slowdowns. But news this week suggests that one commodity appears to be responding fastest to lower prices.

Thermal coal.

On Monday, the world’s top coal-exporting nation, Indonesia, said that its production is in major decline. Having already fallen by double-digit percentages this year.

Related: OPEC Keeps Up Production In August, Takes Over Market Share

Government statistics showed that Indonesia’s coal production for January to August fell 15.4%, as compared to same period of 2014. With total production coming in at 263 million tonnes — down from 311 million last year.

That means Indonesian producers have already taken nearly 50 million tonnes of supply off the market. And suggests that the full-year cut in production could be close to 75 million tonnes.

Related: Midweek Sector Update: This Key OPEC Member Could Soon See Production Cuts

That’s a significant amount for the global market. Especially given that Indonesia is one of the world’s lower-cost production centers for coal — and one of the few places that had been continuing to expand output over the last two years.

But that trend is now reversing. And if Indonesian miners are having trouble at today’s prices (which are running around $58 per tonne for the blended basket of Indonesian coals), it’s a safe bet most of the world’s coal miners are facing similar difficulties.

Related:The Shale Delusion: Why The Party’s Over For U.S. Tight Oil

In fact, some estimates are that 80% of Indonesia’s coal miners are now curtailing output. Suggesting that government projections on 2015 production — which had been forecasting 400 million tonnes, down from 458 million in 2014 — will likely have to be revised downward.

All of which shows this is a market that’s quickly changing direction. It may take some time for price effects to trickle through, given the incredible ramp-up in Indonesian production of late (66% growth over the last five years) — but the right things are starting to happen to seed a recovery.

Here’s to mining the good stuff,

Dave Forest

JAKARTA.   Harga batu bara kembali melemah.

Harga batu bara pada penutupan perdagangan Senin (14/9/2015) untuk kontrak Oktober 2015 melemah 0,56% ke 52,85/metrik ton.

Pada Jumat, harga batu bara melemah 0,28% ke US$53,15/metrik ton.

“Memecahkan persoalah harga rendah, dan berupaya mendorong kembali harga,” kata Jim Thompson, Direktur Batu Bara IHS Inc seperti dikutip Bloomberg, Selasa (15/9/2015).

Seperti diketahui pasokan batu bara meningkat di tengah kondisi perekonomian yang melambat.

Harga batu bara pun melemah dari level tertinggi lima tahunnya yang bertengger di US$140,5/metrik ton pada 3 Mei 2011

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal

US$/MT

15 September

52,85

(-0,56%)

11 September

53,15

(-0,28%)

10 Agustus

53,30

(+0,76%)

*Kontrak Oktober 2015

Sumber: Bloomberg

http://market.bisnis.com/read/20150915/94/472390/harga-batu-bara-turun-lagi-ke-us5285mt

Sumber : BISNIS.COM

JAKARTA kontan. Prospek komoditas batubara semakin suram. Lemahnya permintaan membuat produsen batubara memangkas produksi.

Mengutip Bloomberg, Rabu (10/9) harga batubara kontrak pengiriman Oktober 2015 di bursa ICE Futures Exchange stagnan di level US$ 56,75 per metrik ton. Selama sepekan, harga batubara turun 3,1%.

Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat (AS) menurunkan proyeksi untuk produksi batubara tahun ini untuk yang ketujuh kalinya.

EIA memprediksi produksi batubara tahun ini hanya sebesar 913,6 juta ton, turun dari proyeksi sebelumnya 916,9 juta ton.

Proyeksi baru tersebut merupakan angka terendah sejak 30 tahun terakhir. Para penambang mineral AS membatasi produksi batubara lantaran murahnya harga gas alam telah merebut pangsa pasar batubara untuk pembangkit listrik.

Wahyu Tribowo Laksono, analis Central Capital Futures menilai wajar jika EIA menurunkan proyeksi. Hal tersebut dilakukan lantaran permintaan yang rendah.

Dengan turunnya permintaan, maka harga batubara menjadi tertekan. Imbasnya, produsen mengurangi produksi guna efisiensi dan mengurangi kerugian.

“Tetapi permintaan tetap turun sehingga harga juga masih tertekan,” imbuh Wahyu.

Untuk saat ini Wahyu mengatakan, tekanan harga batubara semakin besar.

Tekanan harga komoditas juga datang dari menguatnya dollar AS akibat spekulasi kenaikan suku bunga The Fed yang akan diumumkan dalam rapat Federal Open Market Committe (FOMC) September ini. Mendekati rapat FOMC, penguatan dollar AS terus terjaga.

Editor: Adi Wikanto.

 

JAKARTA kontan. Terbaru, data produksi batubara periode Januari – Agustus 2015 milik Amerika Serikat yang dirilis Energy Information Administrationmenunjukkan penurunan.

Namun, analis menilai penurunan ini lebih bersifat upaya pemerintah Negeri Paman Sam untuk mengoptimalisasi penggunaan energi terbarukan, sehingga efeknya bagi harga batubara hanya sementara.

Mengutip Bloomberg, Kamis (3/9) harga batubara kontrak pengiriman Oktober 2015 di bursa ICE Futures Exchange merangkak naik 0,59% ke level US$ 58,95 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Sepekan terakhir harga sudah melambung 2,25%.

Awal Pekan ini, EIA mengumumkan bahwa total produksi batubara AS mencapai 18,7 juta ton. Angka ini turun 4,5% sejak awal tahun 2015.

Dengan rincian, Mississippi Timur memproduksi 7,6 juta ton serta sisanya 11 juta ton dihasilkan oleh Mississippi Barat.

Guntur Tri Hariyanto, Analis Pefindo menjelaskan memang untuk pasokan batubara AS trennya sedang menurun. Ini sudah terjadi sepanjang tahun 2015.

Hal itu berjalan seiringan dengan minimnya permintaan global batubara saat ini.

Diprediksi, produksi batubara AS akan turun 60 juta ton dibanding tahun 2014 lalu.

“Permintaan turun di AS karena memang utilitas manufaktur terutama pabrik baja sedang merosot ditambah oleh beralihnya penggunaan energi ke gas alam,” papar Guntur.

Memang, sentimen harga cukup terdorong dengan berkurangnya produksi AS. Apalagi volume ekspor batubara AS pun ikut susut.

Sepanjang delapan bulan pertama tahun 2015, ekspor sudah turun 20%. Ini melanjutkan penurunan ekspor yang di tahun 2014 lalu turun 17%.

Namun, menurut Guntur kondisi terangkat harga batubara akibat penyusutan produksi dan ekspor batubara AS hanya akan bertahan sementara.

“Lebih karena pasokan sedang menyesuaikan dengan permintaan yang minim, nantinya pekan depan harga akan kembali merosot,” prediksi Guntur.

Sebabnya, konsumsi batubara AS pada Mei 2015 saja turun lebih dari 10%. Tren tergerusnya konsumsi batubara AS ini sudah terlihat sejak tahun 2014.

Yang mana pada tahun lalu, penggunaan batubara AS sudah lebih rendah 16% dari rata-rata bulan Mei dalam lima tahun terakhir.

Editor: Adi Wikanto.

Jakarta detik -Bisnis batu bara makin tak bergairah, saat ini harga ’emas hitam’ ini terus anjlok diharga US$ 59,14/ton pada Agustus. Harga ini turun 0,02% dibandingkan harga Juli 2015 mencapai US$ 59,16/ton.

Seperti dikutip dari situs Kementerian ESDM, Senin (31/8/2015), harga batu bara saat ini anjlok 16% bila dibandingkan dengan harga bulan yang sama pada 2014. Di mana secara year on year harga batu bara Agustus 2014 mencapai US$ 70,29/ton.

Seperti diketahui, harga baru bara ini mengacu pada harga patokan batu bara dari 8 merek dagang batu bara utama yang umum dikenalkan dan diperdagangkan. Berikut daftar harga patokan 8 merek tersebut:

  1. Gunung Bayan I: 63,26 (turun 0,03% dibandingkan HPB Juli 2015)
  2. Prima Coal: 64,75 (turun 0,03% dibandingkan HPB Juli 2015)
  3. Pinang 6150: 58,50 (turun 0,03% dibandingkan HPB Juli 2015)
  4. Indominco IM_East: 48,58 (turun 0,02% dibandingkan HPB Juli 2015)
  5. Melawan Coal: 48,15 (turun 0,04% dibandingkan HPB Juli 2015)
  6. Enviro Coal: 45,94 (turun 0,02% dibandingkan HPB Juli 2015)
  7. Jorong J-1: 36,96 (turun 0,03% dibandingkan HPB Juli 2015)
  8. Ecocoal: 33,99 (turun 0,03% dibandingkan HPB Juli 2015)

Dalam hal penjualan batu bara dilakukan secara jangka tertentu (term), yaitu penjualan batu bara untuk jangka waktu 12 bulan atau lebih maka harga batu bara mengacu pada rata-rata 3 harga patokan batu bara terakhir. Pada bulan di mana dilakukan kesepakatan harga batu bara dengan faktor pengali yaitu:

  • fakor pengali 50% untuk Harga Patokan Batu bara bulan terakhir,
  • faktor pengali 30% untuk Harga Patokan Batu bara satu bulan sebelumnya, dan
  • faktor pengali 20% untuk Harga Patokan Batu bara dua bulan sebelumnya.

(rrd/hen)

JAKARTA kontan. Di tengah murahnya harga batubara, sejumlah produsen besar berencana memangkas produksi. Namun upaya ini belum berhasil mengerek harga si hitam yang sudah terpuruk sejak beberapa tahun terakhir.

Produsen besar di Afrika Selatan seperti Lonmin Plc, Anglo American Plc, dan Scaw Metals Group berencana mengurangi produksi dan memangkas 10.000 tenaga kerja. Namun, upaya tersebut ditentang Presiden Afrika Selatan Jacon Zuma, lantaran bertentangan dengan target penambahan lapangan kerja.

Perdebatan soal pemangkasan produksi batubara di Afrika Selatan berdampak pada pergerakan harga. Mengutip Bloomberg, Jumat (7/8), harga batubara pengiriman Agustus 2015 di Bursa ICE Commodity Exchange turun 0,75% dari hari sebelumnya menjadi US$ 59,90 per metrik ton dibanding hari sebelumnya.

Kendati begitu, harga naik 1,78% dalam sepekan. Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures memaparkan, produksi batubara memang perlu dipangkas karena permintaan turun. Maklum, jika harga terus menurun, banyak perusahaan batubara yang merugi hingga bangkrut. “Hal tersebut akan menekan ekonomi sehingga semakin menekan harga komoditas,” paparnya.

Deddy Yusuf Siregar, Research and Analyst PT Fortis Asia Futures, menambahkan, tak hanya produsen besar Afrika Selatan yang terancam dengan penurunan harga batubara. “Tambang batubara Sumitomo Jepang dan Vale Brasil di Australia yang bernilai produksi US$ 600 juta sekarang dijual dengan harga di bawah AS$ 1 dollar,” kata dia.

Namun harga batubara masih sulit bangkit. Wahyu memperkirakan, harga bisa semakin buruk jika dollar Amerika Serikat (AS) menguat di tengah spekulasi kenaikan suku bunga The Fed. Di sisi lain, permintaan batubara dari China berkurang akibat perlambatan ekonomi.

Deddy juga menyebut permintaan batubara China yang merosot menjadi penyebab jatuhnya harga. “Dalam tujuh bulan terakhir, impor batubara hanya 121 juta ton, turun 34,1%,” kata Deddy. Ia menduga harga batubara bisa menembus di bawah US$ 55 per metrik ton di akhir tahun ini.

Harga memang berpotensi rebound pada musim dingin di Eropa dan AS, tapi hanya kenaikan sementara. Isu lingkungan Batubara kian terpuruk akibat isu lingkungan, mengingat penggunaan komoditas ini dapat mencemari lingkungan. Harga batubara juga mengekor harga minyak mentah dunia yang terus melorot.

Wahyu memaparkan, isu lingkungan menekan batubara sejak 2011. Sementara pelemahan harga minyak terjadi sejak 2013. Sekedar mengingatkan, harga batubara pada tahun 2011 sempat mencapai US$ 140 per metrik ton.

Secara teknikal Deddy memaparkan, harga berada di atas moving average (MA) 50. MACD berada di area positif 0,25. RSI berada di area 58, sementara stochastic berada di area 60. Dalam jangka pendek, indikator teknikal memberi sinyal beli. “Itu suatu hal yang wajar karena baru Jumat lalu koreksi,” tambah Deddy.

Pada Selasa (11/8), Deddy menebak harga batubara bergerak di US$ 59,00-US$ 60,00. Sepekan ke depan, batubara turun ke US$ 57,80-US$ 60,10. Sedangkan Wahyu memprediksi harga batubara sepekan ke depan bearish di US$ 56- US$ 63 per metrik ton.

Editor: Barratut Taqiyyah

JAKARTA kontan. Penurunan harga batubara membuat sejumlah produsen berencana mengurangi produksi dan pada akhirnya memangkas jumlah karyawan. Sejumlah produsen besar di Afrika Selatan seperti Lonmin Plc, Anglo American Plc, dan Scaw Metals Group berencana memangkas produksi dan mengurangi hingga 10.000 tenaga kerja. Namun, upaya tersebut rupaya ditentang oleh Presiden Afrika Selatan, Jacon Zuma lantaran bertentangan dengan target negara tersebut untuk terus menambah lapangan kerja.

Perdebatan soal pemangkasan produksi di Afrika Selatan turut berdampak pada pergerakan harga batubara. Pasalnya, batubara saat ini terus mengalami kelebihan pasokan sementara permintaan justru turun.

Wahyu Tri Wibowo, Analis Central Capital Futures memaparkan produksi batubara memang perlu dipangkas jika permintaan turun. Pasalnya, jika harga terus menurun, banyak perusahaan batubara yang merugi hingga bangkrut. “Hal tersebut akan menekan ekonomi sehingga akan semakin menekan harga komoditas,” paparnya.

Wahyu memperkirakan pelemahan harga batubara akan semakin buruk jika dollar Amerika Serikat (AS) menguat. Pergerakan dollar AS yang semakin menguat diantara mata uang dunia lainnya membuat kondisi perekonomian global semakin tertekan. Apalagi, spekulasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini semakin melambungkan USD.

Di sisi lain, perlambatan ekonomi di China membuat Negeri Panda itu mengurangi kebutuhan batubara, termasuk impor. Hal tersebut juga berkaitan dengan isu lingkungan, mengingat penggunaan batubara dapat mencemarkan lingkungan. Langkah China ini seiring dengan Amerika Serikat yang juga bertekad untuk mengurangi konsumsi batubara dan menggantinya dengan energi ramah lingkungan. Lebih lanjut, harga batubara mengikuti harga minyak mentah dunia yang juga terus melorot.

Wahyu memaparkan, isu lingkungan telah menekan harga batubara sejak tahun 2011, sementara pelemahan harga minyak sudah terjadi sejak tahun 2013. Pelemahan harga batubara saat ini bahkan sudah mencapai 50% dari harga di tahun 2011 yang mencapai US$ 140 per metrik ton.

 

Editor: Barratut Taqiyyah

Bisnis.com, JAKARTA- Harga batu bara untuk kontrak September 2015 pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2015)  melemah 0,35% ke level US$57,65 per metrik ton akibat lesunya pasar di China.

Pelemahan itu mengikuti harga sehari sebelumnya (27/7/2015) yang turun 0,34% atau bergerak ke level US$57,85 per metrik ton.

Sedangkan pada akhir pekan lalu (24/7/2015), harga komoditas andalan Indonesia dan China itu menguat 0,09% ke US$58,05 per metrik ton di bursa ICE Futures Europe Commodities sebagaimana dikutip Bloomberg, Rabu (29/7/2015).

Kecenderungan penurunan harga batu bara terkait dengan konsumsi di China yang masih lesu. Pasalnya, permintaan dari berbagai industri seperti energi listrik, besi dan semen menunjukkan tren menurun.

Bahkan produksi batu bara China sendiri dilaporkan turun 6% dalam empat bulan pertama tahun ini. Sedangkan impor batu bara secara total juga menyusut 39% di periode yang sama.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

 

Tanggal US$/ton
28 Juli 57,65(-0,35%)
27 Juli 57,85(-0,34%)
24 Juli 58,05(+0,09%)

 

 

 

 

 

 

 

*Kontrak September 2015

Sumber: Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara melanjutkan penguatan pada hari kelima perdagangan.

Harga batu bara pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2015) atau Selasa pagi WIB (16/6/2015) untuk kontrak Juli 2015 menguat 0,59% ke 59,25/metrik ton.

Harga batu bara menguat, setelah adanya peningkatan kebutuhan energi listrik. Dipacu penggunaan alat pendingin dalam ruangan, akibat cuaca panas yang cukup menyengat saat ini.

Bloomberg mengemukakan harga penggunaan energi listrik di New York naik US$ 15,1 atau 49% menjadi US$ 45,89 megawatt/jam.

 

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

 

Tanggal US$/ton
15 Juni 59,25(+0,59%)
12 Juni 58,90(+1,20%)
11 Juni 58,20(+2,28%)

 

 

 

 

 

 

 

 

*Kontrak Juli 2015

Sumber: Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara masih bergerak di kisaran level 59.

Pada penutupan perdagangan Rabu (6/5/2015) atau Kamis pagi WIB (7/5/2015), harga batu bara untuk kontrak Juni 2015 ke US$59,15/metrik ton atau melemah 0,42%.

Pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2015), menguat 0,08% ke 59,4.

Seperti diketahui, batu bara bergerak di level 58-59 sejak Senin (27/5/2015).

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

 

Tanggal US$/ton
6 Mei 59,15(-0,42%)
5 Mei 59,40(+0,08%)
4 Mei 59,35(+0,00%)

 

 

 

 

 

 

 

*Kontrak Juni 2015

Sumber: Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA— Pelemahan harga batu bara berlanjut di hari keempat.

Pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2015) atau Kamis pagi WIB, harga batu bara untuk kontrak Juni 2015 melemah 1,37% ke US$57,6/metrik ton. Pada penutupan perdagangan Selasa (21/4/2015) berada di 58,4 (-0,17%).

Dalam 4 hari perdagangan terakhir, tercatat harga baru bara terus melemah sehingga kembali ke level 57. Sebelumnya harga batu bara menguat bekelanjutan dalam 5 hari perdagangan.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal US$/ton
22 April 57,60(-1,37%)
21 April 58,40(-0,17%)
20 April 58,50(-0,68%)

 

 

 

 

 

 

*Kontrak Juni 2015

Sumber: Bloomberg

By Dave Forest
Posted on Tue, 14 April 2015 14:48 | 0

If you’re a coal investor, there’s one piece of data you need to see this week.

New production figures from world-leading exporter Indonesia.

Data released by the Indonesian government this week showed a huge drop in mine output for the first quarter. With overall coal production falling 21% as compared to the first quarter of 2014.

Related: The Real History Of Fracking

That equates to a loss of 27 million tons of coal supply. Suggesting that Indonesia’s overall output could fall by around 100 million tons this year.

That’s a critical observation for the global coal market. Being the first major drop in output we’ve seen from Indonesia since coal prices started their steep decline in 2011. Up until now, Indonesian production had reportedly been continuing to rise — as miners tried to compensate for lower sale prices by putting out more product.

Related: Huge 100 Billion Barrel Oil Discovery Near London

If a trend toward lower production here holds, it would be a sign that the global coal market is finally capitulating under low prices. And a fall in Indonesian production would be a big step toward getting the market balanced again — given that the nation is by far the world’s largest exporter, especially for key consuming countries like India, China and Japan.

Related: Event Horizon: Major Catalysts In These Commodities This Year

One point of caution here is that Indonesia’s production statistics are notoriously unreliable. With the numbers often being revised after the fact, due to factors like uncounted output from illegal mines. Indeed, the chairman of the Indonesian Coal Mining Association, Pandu Sjahrir, said he is waiting for confirmation of the government stats before commenting further on the state of Indonesia’s mines.

At the very least, this is a happening to put on our radar screens. Watch for further data coming out of Indonesia to confirm this critical trend.

Here’s to coal, hard reality,

Dave Forest

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara pada penutupan perdagangan Senin atau Selasa pagi WIB kembali melanjutkan relinya di hari ketiga.

Pada penutupan perdagangan Senin (13/4/2015), harga batu bara untuk kontrak Mei 2015 menguat 1,63% ke US$59,25/metrik ton. Pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2015) berada di 58,3 (+1,13%).

Dalam tiga hari perdagangan terakhir, tercatat harga baru bara terus menguat, dan mampu menembus level 59. Namun masih jauh dari level 70 yang mampu ditembus pada akhir 2014.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal US$/ton
13 April 59,25(+1,63%)
10 April 58,30(+1,13%)
9 April 57,65(+2,22%)

 

 

 

 

 

*Kontrak Mei 2015

Sumber: Bloomberg

 

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara rebound setelah anjlok berkelanjutan sejak 2—6 Maret 2015.

Pada penutupan perdagangan Senin (9/3/2015), harga batu bara untuk kontrak April 2015, menguat 0,33% ke US$59,95/metrik ton. Dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (6/3/2015) yang turun 1,89% ke US$59,75/metrik ton.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal US$/ton
9 Maret 59,95(+0,33%)
6 Maret 59,75(-1,89%)
5 Maret 60,90(-1,06%)

 

 

 

 

 

*Kontrak April 2015

Sumber: Bloomberg

per tgl 26 Februari 2015, tren 1 taon harga batubara thermal sbb:

tren harga batubara 1yr 260215

1 Month Coal Prices - Coal Price Chart

… mau liat TREN HARGA BATUBARA 1 bulan terakhir, sila klik di GAMBAR di atas (linked to CHART on website:atawa klik di link ini ke INFOMINE.com

JAKARTA— Kontrak batu bara di bursa Rotterdam anjlok pada penutupan Selasa (17/2/2015) setelah reli 4 hari.

Kontrak batu bara untuk pengiriman Maret 2015, future paling aktif di ICE Rotterdam, turun 2,15% ke US$63,75 per ton pada akhir perdagangan kemarin.

Batu bara anjlok usai mencatatkan penguatan selama 4 hari berturut-turun dengan total kenaikan 3,61%.

Sebanyak 431.000 ton batu bara untuk pengiriman Maret 2015 diperdagangkan dalam hari perdagangan Selasa di bursa Rotterdam.

Pergerakan Harga Kontrak Batu Bara Maret 2015

Tanggal

US$/ton

(%)
17/2/2015

63,75

-2,15%
16/2/2015

65,15

+0,23%
13/2/2015

65,00

+0,85%
12/2/2015

64,45

+1,02%
11/2/2015

63,80

+1,51%
sumber: Bloomberg

http://market.bisnis.com/read/20150218/94/404022/harga-batu-bara-anjlok-reli-4-hari-berakhir
Sumber : BISNIS.COM

JAKARTA— Harga batu bara masih melanjutkan relinya, yang telah terjadi sejak Senin (2/2/2015).

Pada penutupan perdagangan Kamis (12/2/2015), harga batu bara untuk kontrak Maret 2015, melejit 1,02% ke US$64,45/metrik ton.

Seperti diketahui dalam 9 hari perdagangan terakhir, harga batu bara bergerak reli. Dalam kurun waktu perdagangan tersebut hanya sekali melemah pada Selasa (10/2/2015) yaitu turun 0,08% ke US$62,85/metrik ton.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal

US$/ton
12 Februari

64,45

(+1,02%)
11 Februari

63,80

(+1,51%)
10 Februari

62,85

(-0,08%)

 

 

 

 

 

 

*Kontrak Maret 2015

Sumber: Bloomberg

http://market.bisnis.com/read/20150213/94/402215/harga-batu-bara-masih-lanjutkan-reli-ke-us6445mt
Sumber : BISNIS.COM

 

Goldman Sachs Cuts Thermal Coal Forecast Amid Cheap China Supply

Thermal coal prices in Asia have limited scope to rebound from current levels as China shifts its economy away from energy-intensive growth and reduces imports of the fuel, according to Goldman Sachs Group Inc. (GS)

The bank cut its forecasts for power-station coal at the Australian port of Newcastle, a benchmark in Asia, by 12 percent to $69 a metric ton in 2015, analysts including Christian Lelong wrote in an e-mailed report today. Forecasts for 2016 and 2017 were lowered by 10 percent and 9 percent respectively. The fuel cost $63.05 a ton as of Oct. 24 and has averaged $71.87 this year, according to data from IHS McCloskey.

China, which accounted for 79 percent of the growth in global consumption since 2000, is cutting coal imports amid domestic prices near the lowest in seven years and an import tariff of as much as 6 percent that resumed on Oct. 15. The government asked utilities and miners to reduce overseas purchases by 40 million tons from September to December, China Coal Transport and Distribution Association said Sept. 16.

“China remains a large, price-sensitive buyer that continues to set a price ceiling on the seaborne market even as import volumes decline,” Goldman said in the report. “As the Chinese economy rebalances, new mining capacity continues to be delivered well in excess of what the domestic market now requires, and will continue to do so until 2016.”

While the bank sees “modest price upside” next year, some marginal production may be displaced because cheap Chinese coal has pushed seaborne prices 20 percent below marginal costs, Goldman said in the report. Any reduction in seaborne supply will likely be offset by lower Chinese imports and won’t affect prices in a meaningful way, it said.

China, both the world’s largest market for coal and worst carbon-dioxide emitter, imported 21.16 million tons of the fuel last month, down about 18 percent from a year earlier, customs data showed Oct. 22. The country’s benchmark power-station coal at the port of Qinhuangdao was at 490-500 yuan/ton as of Oct. 26, according to the CCTD.

European 2015 Coal Falls a Second Month as Natural Gas Plunges

European coal for delivery in 2015 fell for a second month as natural gas tumbled after Russia agreed to terms for resuming gas exports to Ukraine.

European next-year coal declined 1.3 percent to $71.55 a metric ton as of 4:55 p.m. in London, .extending the monthly loss to 3.3 percent, according to broker data on Bloomberg. U.K. gas for delivery next summer slid as much as 1.9 percent today and declined 6.2 percent in October, the biggest monthly drop since the contract started trading.

Lower gas prices increase profits at power plants burning the fuel to generate electricity. U.K. utilities consumed the least coal in August since at least 1995, data published yesterday by the Department of Energy and Climate Change showed.

“The deal could put downward pressure on the price of European coal,” Thomas Pugh, a commodities economist at Capital Economics Ltd., said in an e-mailed note. “The price of coal in Europe has remained significantly above the price of comparable benchmark coals, such as Australian coal, since the beginning of the Ukraine crisis, as European consumers have stockpiled coal in case of a shortage of gas.”

Russia said it would resume gas shipments after it receives a first tranche of debt repayments from Ukraine as well as prepayments for November deliveries.

The loss incurred from using gas to generate electricity for delivery in Germany next year, known as the clean-spark spread, shrank 3.8 percent to 15.14 euros ($18.96) a megawatt-hour, the least since April 15, according to data compiled by Bloomberg. The corresponding margin for coal-fired power advanced 2.2 percent to 5.56 euros a megawatt-hour, data show.

Cheaper Energy Could Be a Mixed Blessing

If Prices Fall Too Far, They’d Crimp an Industry Critical to Overall Growth

Nov. 1, 2014 8:22 p.m. ET
Tumbling oil and natural-gas prices are great for the U.S. economy, consumers and global financial markets, right?Not so fast. Because the U.S. is enjoying a historic expansion in energy production and the sector is more crucial than at any time in decades to the overall economy, plunging prices represent a mixed blessing for the economy and a challenge for investors.The bottom line: If oil prices remain at current prices, about $80 a barrel, consumers and businesses will enjoy lower energy costs, while stronger energy companies will continue to profit. Investors should search for energy stocks that have been unfairly beaten down and could be bargains, analysts say, along with companies that could benefit from cheaper energy.But if oil drops to $70 or lower, oil and gas drilling likely will slow, putting a crimp on a boom that’s moved the nation toward energy independence.

Attractive Stocks

Energy prices remain “more than high enough to allow the U.S. energy revolution to remain an important growth engine in the U.S. economy,” says Daniel Arbess, who runs the Xerion hedge fund and is a partner at Perella Weinberg Partners. He argues that shares of growing American energy companies remain attractive, as are airline stocks.

“Lower oil prices are good for the U.S. economy, good for U.S. stocks,” he says.

Investors are breathing a deep sigh of relief as financial markets have rallied, after several weeks of difficulty. Falling energy prices have helped, some say.

On Friday, the Dow Jones Industrial Average closed the rocky month up 2%, the S&P 500 Index rose 2.3%, while the Nasdaq Composite Index jumped 3%. Crude oil closed on Friday at $80.54 a barrel, down 11.6% for the month.

The energy business has been among the economy’s biggest drivers. The country now produces about nine million barrels a day of crude, up from just five million barrels six or so years ago. But oil prices are down 24% from a recent high of $107 in June, and profits for energy producers likely will fall. Last week, oil giant BP was the first to report earnings that were impacted by lower oil prices.

High oil prices drove the energy expansion by making costly drilling techniques, such as hydraulic fracturing, or fracking, economically feasible. Now, oil-rich states could see slower job growth. But companies that are heavy users of oil and gas likely will benefit.

J.P. Morgan Chase argues that falling fuel prices could benefit U.S. airlines over the next few years. The bank notes the industry’s expected 11% operating margins could hit a record 14% in 2015, thanks to an estimated $4 billion fuel-bill decline. Margins could hit 15% in 2016. The bank upgraded its rating on Southwest Airlines.

Retail and restaurant shares could get a boost if energy prices remain at these levels or fall further, says Blaze Tankersley, chief market strategist at BayCrest Partners, as consumers get a break. In 2012, families with income below $50,000 spent on average 21% of their income on energy, according Bank of America Merrill Lynch.

The U.S. Energy Information Administration expects U.S. retail gasoline prices, which have declined 64 cents a gallon over the past few months, to continue falling in the weeks ahead. For the first time since December 2010, the national average pump price is below $3 a gallon. That could boost consumer spending heading into the holidays. It’s one reason U.S. consumer confidence is at levels last seen before the housing crisis.

“While domestic energy production has gotten a lot of attention lately, the fact remains that nearly 90% of the American economy are energy buyers,” says Jack Ablin, chief investment officer of BMO Private Bank.

As a result, Mr. Tankersley recommends retail shares including TJX (TJX), Ross Stores (ROST) and Target (TGT). “It’s important to realize it takes time for the effects of cheaper energy to bleed into the results, but our opinion is this trade is going to be a long one and so we accumulate these U.S.-centric consumer plays,” he says.

Growing Partnerships

Investors should focus on well-run master limited partnerships—publicly traded entities that generally own and operate oil and gas pipelines—that have been pushed down, says Ethan Bellamy of Robert W. Baird & Co. Examples include Energy Transfer Equity (ETE) and Plains GP Holdings (PAGP), which have dividend yield of nearly 3% and high growth rates.

“The downturn saw some indiscriminate selling of very high-quality, highly resilient business models,” says Mr. Bellamy.

Darren Pollock, portfolio manager of Cheviot Value Management, is a fan of Chicago Bridge & Iron (CBI), an engineering and construction company that helps build energy infrastructure but whose shares have slid 25% since May, partly due to falling oil prices. “Fluctuations in energy prices cause people to forget that energy consumption grows nicely over time,” Mr. Pollock says. “Spending on energy infrastructure build-out continues to have a long runway ahead of it.”

As the U.S. begins to ship liquefied natural gas abroad in the years ahead, Chicago Bridge will play a role building export terminals and other energy facilities, Mr. Pollock says. Chicago Bridge is growing in China, a nation expanding its energy capacity. Some of the world’s top investors are its biggest shareholders, among them Warren Buffett ’s Berkshire Hathaway, the company’s largest holder, and David Tepper ’s hedge fund Appaloosa Management.

Energy ETFs

For investors convinced that oil and gas prices won’t fall much more, attractive exchange-traded funds include SPDR S&P Oil & Gas Exploration & Production ETF (XOP) and Energy Select Sector SPDR Fund (XLE), says Steven Azarbad, chief investment officer at Maglan Capital.

But if China’s economic growth continues to slow, Saudi Arabia keeps pumping crude apace, and U.S. energy companies continue to boost oil and gas production in shale formations, energy prices could fall further, hurting small and midsize energy companies with heavy debt, says Daniel Katzenberg, a senior analyst at Baird. Many of these companies have found it easy to raise money by selling junk bonds and through other methods, but they’ll likely find it harder to raise funding unless oil prices rebound.

Among the companies to be wary of, he says: SandRidge Energy, Halcon Resources and Goodrich Petroleum.

bisnis.com, JAKARTA – Harga batubara yang terus tergelincir dan terancam berada di level US$60 membuat banyak perusahaan batubara dalam negeri semakin tertekan dan menahan produk mereka hingga kondisi menjadi lebih baik.

Ibrahim, Direktur PT Equilibrium Komoditi Berjangka, mengatakan harga batas batubara yang dapat memberikan keuntungan untuk pelaku usaha adalah US$100 dan kini harganya sudah semakin menjauh dari level itu sehingga membuat perusahaan batu bara makin tertekan.

“Perusahaan batubara yang melantai di bursa efek pun juga kondisinya banyak yang tidak bagus kan, itu yang menjadi kesulitan pasar fisik batu bara ini,” ujarnya kepada Bisnis.com pada Rabu (10/9/2014).

Para pelaku batubara saat ini lebih memilih menahan produknya dengan alasan kalau di jual tidak akan memberikan keuntungan dan menunggu harga kembali bagus.

“Harga batas batubara yang dapat memberikan keuntungan itu adalah US$100, sekarang harganya sudah jauh dari angka tersebut kan,” tuturnya.

Harga batubara pada penutupan Rabu (10/9/2014) tercatat melemah 1,12% menjadi US$65,8 dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level US$66,55.

Tren pelemahan batubara sudah dimulai sejak awal tahun, tercatat pada awal tahun komoditas emas hitam ini berada di level US$83,95 dan terus menurun hingga September ke level US$66-an.

Pelemahan harga batubara ini akibat perlambatan ekonomi di sejumlah negara terutama China dan didukung oleh penguatan dolar AS beberapa hari belakangan. Diperkirakan pergerakan batubara bisa semakin terperosok dan melemah ke level US$60 sampai US$57.

 

Editor : Fatkhul Maskur

Bisnis.com, JAKARTA— Harga batu bara melemah 0,14% pada perdagangan di bursa Rotterdam ke level US$73,5/ton.

Equity Technical Analyst AAA Securities Wijen Pontus mengatakan pelemahan harga batu bara hanya terjadi sementara sebelum akhirnya diprediksi mengalami technical rebound.

“Saat ini harga sedang membentuk bottom, tetapi bottom akan segera selesai. Pelemahan masih akan terjadi dalam satu hingga dua minggu kedepan, karena mengikuti pergerakan harga batu bara yang melemah,” ujarnya kepada Bisnis,Rabu (16/7/2014).

Secara teknikal, dalam risetnya Wijen menyebutkan indeks coal tengah membentuk wave (v) dari wave . Dia memperkirakan bottom wave (v) berada pada kisaran 37.900-38.400. Jika wave (v) selesai terbentuk, indeks coal diprediksi akan menguat kembali ke kisaran 40.000-41.000.

“Indeks tersebut merupakan indeks saham-saham perusahaan batubara. Itu berbeda dengan sektor mining. Kalau sektor mining itu kan juga mencakup saham-saham perusahaan di luar batu bara,” tambahnya.

Wijen juga memprediksi jika harga batu bara menguat, maka bisa ikut mendorong pergerakan saham-saham emiten batubara.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal US$/ton
15/7 73,50
14/7 73,60
11/7 72,95
10/6 73,00

*Kontrak Agustus 2014

 

Editor : Linda Teti Silitonga

JAKARTA— Harga batu bara menguat signifikan pada perdagangan di bursa Rotterdam ke level US$73,6/ton atau menguat 0,89% setelah melemah berkesinambungan.

“Indikator Elliott Wave Oscillator terus membuat bullish divergence,” kata Equity Technical Analyst AAA Securities Wijen Pontus dalam risetnya yang diterima hari ini, Selasa (15/7/2014).

Wijen mengemukakan harga batu bara saat ini, masih berjuang untuk mengkonfirmasi selesainya wave (v) dari wave .

“Kami meyakini bahwa bottom wave (v) sudah dekat,” kata Wijen.

Pergerakan harga batu bara di bursa Rotterdam*

Tanggal

US$/ton

14/7

73,60

11/7

72,95

10/6

73,00

*Kontrak Agustus 2014

Sumber: Bloomberg, 2014

http://market.bisnis.com/read/20140715/94/243381/harga-batu-bara-cetak-lompatan-melejit-089

Sumber : BISNIS.COM
bloomberg:
As wars go, the fight between clean and dirty energy sources is more like a centuries-old religious conflict than shock and awe.

That’s one lesson from a new study of U.S. power generation by the Oxford Institute for Energy Studies. In 2040, the electricity sector might not look radically different from the way it does today, with emissions a little higher, or lower, and power sources still clubbing each other over the head for market share. Coal isn’t surrendering so fast, renewables won’t clean up the planet by themselves and, if the U.S. can ever put a price on carbon, the most politically tolerable level (here, $10 per metric ton of carbon dioxide) won’t do the trick. That’s just enough change to keep everybody in the game and nobody happy.

Making it harder for the U.S. to cut carbon: the persistence of cheap coal, the possibility of higher natural gas prices and political unwillingness to address climate change. So U.S. carbon dioxide emissions from producing electricity may fall only modestly, with coal and natural gas still responsible for more than 60 percent of power generation a generation hence, the study found. U.S. studies “may underestimate the potential for coal-based generation,” the report states.

https://i2.wp.com/www.bloomberg.com/image/indoQhgNt2o4.jpg

This chart shows how projected U.S. emissions vary in each of five cases. The light blue squares show a business-as-usual case, which is based on the Energy Information Administration’s (EIA) most recent analysis. The study then tinkers with the EIA case to see how projections change with each of four variables — low coal prices, low renewable power prices, low electricity demand growth, and a price for emitting carbon dioxide, levied per ton. The options for playing around are always limited. Better and cheaper technology, drops in demand and policy changes are all things that models don’t capture very well.

Emissions in 2040 top today’s in the EIA and cheap coal scenarios. Even cheap renewable power wouldn’t make too much of a dent, according to the projections, which still show emissions higher than today’s, because solar, wind and other technologies would be added to a power network that is largely powered by similar amounts of coal and gas. The cost of building renewables would have to drop far lower than the EIA model proposes before clean technologies would start displacing coal and gas plants dramatically.

Only an unlikely, slower growth in electricity demand and a price on carbon pollution bring marked CO2 reductions in the sector. A tax of $10 per ton of CO2 pushes emissions down most dramatically, to about 1,446 tons in 2040, or 29 percent below 2012 levels. A $25 price per ton of emissions, not included on this chart, basically shuts down U.S. coal production, according to the study.

The Oxford report calls President Obama’s recently proposed power plant rules modest, “at least from a European perspective.” Without much threat of policy significantly altering the power picture, greens can continue to wage war on coal, coal on gas, and gas on greens, for years to come.

pemulihan ekonomi BUTUH komoditas, AMAT NYATA … 191109_041216

 

 

commodity price trend 1986_2014 AUDuse fossil v renew energy 2010_2030

ikon analisis gw

… krisis terbaru bwat negara berkembang (emerging markets) khususnya yang juga punya ketergantungan pada barang tambang (komoditas tambang, termasuk batubara / energi) yaitu tren penurunan HARGA tambang yang diekspor secara global : (grafik dari bank sentral oz / RBA soal tren harga tambang)

bird

china daily: hSHIJIAZHUANG – The coal industry of North China’s Hebei province returned to profit for the first time since 2014, provincial authorities said Friday.

From January to October, Hebei’s major coal mining and washing industry registered a profit of 140 million yuan ($20 million), reversing the 4.5 billion yuan loss over the same period in 2015, according to the Hebei Provincial Bureau of Statistics.

It is the first time that the heavy-industry province has seen profits in its coal sector since early 2014 when the whole industry plunged into loss due to declining coal prices, structural adjustment of energy supply, and pressure in cutting redundant production capacity for environmental protection.

Experts said Hebei’s coal industry has turned profitable, after ending a two-year-plus loss, responsible for a 2.7 percentage-point growth in the provincial economy in 2016.

China is the world’s largest consumer of coal. The industry has long been plagued by overcapacity and has felt the pinch over the past two years as the economy cooled and demand fell.

In the first ten months of 2016, Hebei closed a total of 54 coal mines, cutting coal production capacity by 14 million tons. As of late November, China’s coal production capacity has been reduced by about 250 million tons.

 animated-rocket-and-space-shuttle-image-0032

JAKARTA  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan penyerapan batu bara dalam negeri (domestic market obligation) meningkat 34,54% pada periode Januari-April 2016. Tercatat konsumsi batu bara empat bulan pertama tahun ini mencapai 24,54 juta ton, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sekitar 18,24 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan tingginya penyerapan batu bara di dalam negeri itu seiring terciptanya pasar di dalam negeri. Pasar yang dimaksud ialah mega proyek ketenagalistrikan nasional 35.000 megawatt (MW).

“DMO batubara tahun ini lebih baik karena proyek 35.000 MW,” kata Bambang di Jakarta, Senin (13/6).

Bambang menuturkan mega proyek 35.000 MW mayoritas menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Pasalnya dari total kapasitas 35.000 MW itu sekitar 25.000 MW diantaranya berasal dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Adapun kebutuhan batu bara tersebut mencapai 100 juta ton.

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko menambahkan penyerapan batu bara Januari hingga April 2016 itu berdasarkan data produksi pemegang Perjanjian Kar ya Pengusahaan Per tambangan Batubara (PKP2B). “Seharusnya data produksi lengkap antara PKP2B dan IUP (Izin Usaha Pertambangan). Kami masih koordinasi dengan pemda terkait data produksi IUP,” ujarnya.

Sujatmiko membeberkan produksi PKP2B Januari-April 2016 mencapai 86,63 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah dari produksi periode yang sama tahun lalu yang sebesar 96,77 juta ton. Berkurangnya produksi itu antara lain disebabkan oleh tren melemahnya harga batubara yang saat ini berada di level US$ 50 per ton.

Dikatakannya meningkatnya penyerapan DMO membuat volume ekspor batu bara menurun pada tahun ini. Tercatat ekspor periode Januari-April 2016 mencapai 68,09 juta ton. Padahal jumlah ekspor diperiode yang sama tahun lalu sebesar 79,44 juta ton. “Ekspor batu bara turun sekitar 14,29%,” jelasnya.

Meningkatnya penyerapan batu bara dalam negeri dan berkurangnya volume ekspor batu bara sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015- 2019. Dalam rencana tersebut RPJMN menargetkan produksi batubara nasional mencapai 400 juta ton pada 2019. Sebanyak 60 persen dari total produksi atau sekitar 240 juta ton dikonsumsi domestik. (rap)

http://id.beritasatu.com/home/penyerapan-batubara-meningkat-3454/145199
Sumber : INVESTOR DAILY

buttrock

JAKARTA bisnis.com — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berencana mengubah skema lelang pembangkit listrik bagi produsen listrik swasta atau independent power producer tanpa mengikut sertakan pasokan energi primer, dalam hal ini gas dan batu bara.

Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso menjelaskan harga energi primer akan lebih kompetitif dan murah jika skema lelang diubah.

Dia menjelaskan perseroan kembali ke prinsip utama independent power producer (IPP), di mana IPP hanya berinvestasi dalam pembangunan pembangkit, dan energi primer dikendalikan penuh oleh PLN.

“IPP kan konsep investasi bukan jual beli energi. Sedangkan energi primer ini komponen pass through, PLN harus kendalikan penuh karena kalau tidak, harga energi primer menjadi macam-macam. Kami tidak dapat yang lebih murah,” jelas Iwan saat ditemui Bisnis, Senin (31/5).

Khusus untuk batu bara, PLN membuka kesempatan bagi IPP untuk mencari sendiri sumber pasokan dengan syarat PLN harus mengecek kualitas, harga dan juga ongkos angkut yang akan mempengaruhi harga listrik.

“PLN harus cek betul apakah swasta membeli batu bara yang tepat dan menyebabkan listriknya murah,” tegas Iwan.

Menurutnya, sebelum ditandatanganinya kontrak IPP, produsen batu bara harus melewati pengecekan PLN. Adapun, untuk gas, PLN akan menyediakan keseluruhan pasokan. Hal ini lantaran pembangunan infrastruktur untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) relatif lebih sulit dan IPP tidak optimum dalam mencari harga gas yang murah.

Perseroan, sambungnya, dapat mencarikan gas dengan volume besar yang penggunaannya lebih fleksibel untuk di mana saja, sehingga harga yang didapat menjadi lebih murah.

Iwan menjelaskan skema lelang semacam ini justru menguntungkan bagi IPP, karena mereka tidak perlu bertanggung jawab pada penyediaan energi jika nantinya pasokan minim. PLN akan bertanggung jawab menyediakan seluruh energi primer dan tetap membayar listrik dari IPP meskipun terjadi kekurangan pasokan.

Menurutnya, skema ini dapat membantu IPP mempercepat proses penuntasan pendanaan oleh lembaga pendanaan karena komponen pasokan energi tidak lagi harus dipenuhi. Dia mengatakan skema semacam ini akan berlaku bagi pembangkit yang akan dilelang ke depannya.

Namun, dia membuka kemungkinan bagi IPP yang sudah menang tender pembangkit terdahulu untuk menyerahkan penyediaan energi primer kepada PLN.

Di sisi lain, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sujatmiko menjelaskan perubahan skema lelang semacam ini tidak masalah sepanjang proyek lelang berjalan lancar.

“Yang penting keberlanjutan dan stabilitas penyediaan listrik terjamin, tidak ada masalah,” katanya.

Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Hendra Sinadia menilai skema lelang yang baru tidak berpengaruh terhadap pelaku industri batu bara karena pembangkit batu bara yang sudah ada, pasokannya disediakan oleh PLN. “Bagi kami itu tidak berpengaruh,” katanya kepada Bisnis. Yang terpenting adalah permintaan terhadap batu bara yang tetap ada.

Direktur Utama PT Medco Power Generation Indonesia Lukman Mahfoedz tidak keberatan jika PLN akan menyiapkan pasokan energi primer sepanjang memastikan kecukupan pasokan serta dapat diterima oleh penyandang dana.

Dalam megaproyek listrik 35.000 MW, PLN mendapat jatah untuk membangun 10.000 MW dan sisanya diserahkan kepada swasta. Namun sejauh ini, megaproyek itu mendapat sorotan karena perkembangannya dianggap lambat. Akibatnya, PLN mendapat banyak ‘tekanan’ baik dari Kementerian ESDM, BPK hingga Presiden.

PEMBANGKIT BERGERAK

Sementara itu, Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, menyampaikan pembangkit listrik yang dapat dipindahkan atau mobile power plant bisa menjadi solusi alternatif untuk mempercepat pembangunan dalam megaproyek 35.000 megawatt.

Dia mengatakan mobile power plant (MPP) yang menggunakan bahan bakar gas lebih ramah lingkungan. Selain itu, lanjutnya, sesuai dengan nawacita yang dituangkan da lam program 35.000 MW, pemilihan pembangkit ini dirasa tepat untuk wilayah Sumatra.

“Pemilihan pembangkit jenis MPP untuk percepatan rasio elektrifikasi di Regional Sumatra dirasa tepat mengingat waktu pembangunan pem bangkit MPP yang relatif singkat,” ujarnya, dalam keterangan resminya, Rabu (1/6).

Sofyan menargetkan Regional Sumatra pada tahun ini akan memasok daya hingga 6.036 MW. Untuk itu, diharapkan adanya cadangan daya untuk Sumatra sebesar 1.615 MW. Jokowi sendiri sudah melakukan ground breaking enam MPP dengan total kapasitas 350 Mega Watt (MW) di Merwang, Kabupaten Bangka yang akan memperkuat sistem kelistrikan Regional Sumatra.

 ezgif.com-resize

Bisnis.com, JAKARTA–Setelah tertekan sepanjang periode 2015, emiten pertambangan batu bara tampaknya mulai bangkit dari keterpurukan pada awal tahun ini seiring mulai membaiknya harga minyak mentah dunia dan efisensi yang ketat agar margin laba terkerek.

Berdasarkan rekapitulasi yang dihimpun Bisnis.com, jumlah emiten komoditas batu bara yang mengalami kerugian pada kuartal I/2016 menyusut. Awal tahun ini, hanya empat dari periode sebelumnya lima emiten batu bara yang mendulang rugi bersih.

Total kerugian perusahaan tersebut juga rerata menyusut 76,5% dari US$35,49 juta menjadi US$8,34 juta. Sebaliknya, meski emiten peraup laba bertambah, rerata keuntungan justru menciut 10,4% menjadi US$135,87 juta dari US$151,72 juta.

Kendati demikian, pendapatan 15 dari 21 emiten batu bara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, rerata merosot 15,13% menjadi US$1,79 miliar pada kuartal I/2016. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, emiten-emiten tersebut berhasil meraup pendapatan senilai US$2,11 miliar.

Koreksi pendapatan terdalam terjadi pada PT Toba Bara Sejahtra Tbk. (TOBA) hingga 43,1% menjadi US$63,56 juta per 31 Maret 2016. Bertolak belakang, lonjakan pendapatan tertinggi diraup oleh PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT) sebesar 56,9% menjadi US$0,91 juta.

 Emoticons0051

BEIJING – China’s coal consumption will be around 4.3 billion tonnes by 2020 as the government pushes for cleaner and greener growth despite the slowing economy, the China National Coal Association (CNCA) said on Monday.

The annual growth of coal consumption during 2016-2020 will remain at 2 percent, said CNCA president Wang Xianzheng during an industry conference.

For the next five years, the coal industry will prioritize restructuring and upgrades, which means cutting capacity and more mergers, Wang said.

China’s coal consumption decreased in the first quarter of this year, reaching 910 million tonnes, down 3.7 percent year on year, CNCA data showed.

Coal accounted for 64 percent of the primary energy last year, down 4.5 percentage points from 2012.

China has specified that it aims to bring the share of non-fossil energy to 15 percent by 2020 and 20 percent by 2030. In addition, coal consumption will be limited to 62 percent of energy use by 2020.

The State Council announced earlier this year plans to slash capacity in the coal industry and stop approving any new coal mines before the end of 2019.

The country will shut down 500 million tonnes of capacity and consolidate another 500 million tonnes into the hands of the most efficient mine operators in the next three to five years, according to a guideline issued by the State Council.

Emoticons0051

JAKARTA. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mencatat, penggunaan batubara masih dibutuhkan untuk megaproyek ketenagalistrikan 35.000 Megawatt (MW). Pasalnya, 60% proyek listrik masih menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas sekitar 20.000 MW.

Dari hasil kajian APBI dan PricewaterhouseCoopers (PWC) sebagai konsultan mengindikasikan, untuk bahan bakar PLTU 20.000 MW akan sulit mendapatkan pasokan batubara. Hal itu seiring dengan harga komoditas batubara yang masih terus ambrol.

Ketua Umum APBI, Pandu Sjahrir mengatakan, data yang dirilis oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki cadangan terbukti (proven) 32,2 miliar ton pada tahun 2014. Dari hasil survey APBI mengindikasikan ada penurunan cadangan perusahaan batubara sekitar 29% – 40% lantaran harga penurunan harga batubara yang signifikan.

Dengan demikian, Pandu bilang, bahwa jumlah cadangan yang ada pada tahun ini hanya 7,3 miliar ton–8,3 miliar ton

“Hasil survey mengindikasikan kemungkinan cadangan batubara nasional dengan mengacu pada harga komoditas saat ini tidak cukup untuk memasok 20.000 MW untuk PLTU dalam program 35.000 MW,” terang dia di Kantor APBI, Menara Kuningan, Jakarta, Senin (7/3).

Menurut Pandu, bahwa cadangan batubara akan habis di tahun 2033 – 2036, hal itu kurang dari 20 tahun umur manfaat PLTU yang termasuk dalam megaproyek 35.000 MW yang pada umumnya 25 – 30 tahun sejak beroperasi komersial.

Sementara dilokasi yang sama, Presiden Dirketur Advisor PWC, Mirza Diran mengatakan, bahwa survey yang dilakukan untuk 25 tahun kedepan terlihat bahwa pemakaian batubara untuk PLTU tidak ekonomis.

“Bukan untuk saat ini, tapi lebih ke 25 tahun ke depan, itu karena harga tidak bagus. Kalau harga lagi bagus, lapisan satu, dua, tiga, bisa ditambang. Tapi, kalau harga lagi turun, hanya lapisan satu doang yang ditambang. Akibatnya, stripping rasio akan menjadi besar, karena lapisan pertsama setelah ditambang ditutup lagi,” ungkapnya.

Reporter Pratama Guitarra
Editor Dikky Setiawan
long jump icon

JAKARTA kontan. Ekspor batubara dari Indonesia sepanjang Januari-November 2015 tercatat sebanyak 253 juta ton atau anjlok 27,71% dibandingkan dengan ekspor pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 350 juta ton.

Hasil sebaliknya terjadi dalam penyerapan batubara untuk kepentingan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO). DMO per 30 November tahun ini justru naik 5,71% dari 70 juta ton pada periode yang sama tahun lalu menjadi 74 juta ton.

Untuk total produksi batubara pada periode Januari-November 2015, jumlahnya baru mencapai 335 juta ton, termasuk sisa stok yang belum terjual sebanyak 8 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah 20,05% dibandingkan dengan total produksi pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 419 juta ton.

Adapun produksi tersebut masih sebesar 78,82% dari target produksi yang ditetapkan pemerintah tahun ini sebanyak 425 juta ton. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun sudah menyatakan bahwa target tersebut tidak akan tercapai. Bahkan, total produksi tahun ini akan berada di bawah 400 juta ton.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Adhi Wibowo mengatakan rendahnya ekspor tersebut disebabkan berkurangnya permintaan dari beberapa negara konsumen, terutama China.

“Demand memang belum membaik. Salah satunya karena perekonomian global yang masih lesu,” katanya di Kantor Dirjen Minerba, Senin (28/12).

Dia juga menyatakan sebagian besar perusahaan memang sudah mengajukan pengurangan produksinya sejak pertengahan tahun ini. Pasalnya, harga batubara pun terus anjlok dan sudah tidak rasional lagi bagi produsen.

Seperti diketahui, harga batubara acuan (HBA) rata-rata tahun ini tercatat senilai US$ 60,13 per ton atau anjlok 17,2% dibandingkan dengan HBA rata-rata pada 2014 yang senilai US$ 72,62 per ton.

Jika dibandingkan dengan HBA tahunan rata-rata tertinggi yang pernah dicapai, yakni pada 2011 senilai US$118,4 per ton, maka nilainya sudah tergerus hingga 49,21%.

“Harga memang masih belum membaik juga, jadinya banyak produsen sengaja tahan produksi mereka,” tuturnya.

Sementara itu, terkait kenaikan DMO, Adhi mengungkapkan hal tersebut disebabkan terus menggeliatnya industri dalam negeri, termasuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). “Kalau banyak pembangkit listrik yang COD, DMO pasti naik terus,” ujarnya.

Reporter Pratama Guitarra
Editor Hendra Gunawan

reaction_1

JAKARTA kontan. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia menilai pemakaian batubara dalam negeri atau Domestic Market Obligaton (DMO) bakal meningkat pada tahun depan.

Peningkatan tersebut lantaran pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih menjadi dominasi.

Khususnya dalam mega proyek 35.000 Megawatt (MW)

Deputy Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, berdasar data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk kebutuhan PLTU, maka kebutuhan batubara tahun depan mencapai 150 juta ton per tahun.

“Untuk proyek yang dimulai pembangunannya pada tahun depan, kebutuhan batubara mencapai 150 juta ton. Seharusnya pemerintah mengecek kembali berapa cadangan kita untuk kebutuhan itu, karena akan terus meningkat,” terangnya di Kantor Dewan Pers, Selasa (22/12).

Dia meminta kepada pemerintah untuk segera mengupdate data cadangan batubara sesuai dengan produksi sampai tahun 2025.

Sehingga, jangan sampai proyek 35.000 MW menjadi molor lantaran kebutuhan batubara dalam negeri tidak mencukupi.

“Terus ekspornya kalau dilihat dari Kebijakan Energi Nasional (KEN) itu memang berkurang terus. Jangan sampai cadangan kita tidak cukup buat itu (proyek 35.000 MW),” tandasnya.

Sementara Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Adhi Wibowo menyatakan penyerapan alokasi batubara dalam negeri DMO untuk pembangkit listrik sekitar 74 juta ton pada tahun 2015.

Alokasi DMO diatur dalam Keputusan Menteri ESDM No. 2805 K/30/MEM/2015 tentang Penetapan Kebutuhan dan Presentase Minimal Penjualan Batubara untuk Kepentingan Dalam Negeri.

“Dalam Kepmen itu menyebutkan alokasi batubara untuk pembangkit listrik 74 juta ton. PLN kemarin menyampaikan penyerapan batubara hanya 61 juta ton. Jadi ada penurunan,” katanya kepada KONTAN.

Namun pasokan untuk pembangkit listrik menurun 17%.

Hal ini seiring dengan laporan PT PLN (persero) terkait DMO batubara tahun ini yang diperkirakan hanya sebesar 61 juta ton.

Sayangnya Adhi belum bisa menjabarkan, berapa produksi batubara untuk pembangkit pada akhir tahun ini.

Adhi hanya bilang penurunan serapan batubara itu lantaran rendahnya pertumbuhan konsumsi listrik seiring dengan perlambatan ekonomi.

Dia menuturkan sektor industri seperti semen, pupuk serta tekstil pun mengalami hal serupa.

Hanya saja Adhi tidak ingat secara rinci penurunan kebutuhan batubara.

rose KECIL

August 19, 2015 — 11:58 AM WIB

PT Cikarang Listrindo, an Indonesian power producer, is planning an initial public offering next year, people with knowledge of the matter said.

The share sale may seek $300 million to $500 million, according to the people. The company is working with UBS Group AG and Citigroup Inc. on the offering, the people said, asking not to be identified as the information is private.

Indonesia plans to build more power plants and lift spending on infrastructure next year to revitalize an economy growing at the slowest pace since 2009. A share sale from Cikarang Listrindo would be the nation’s first IPO by a power producer, data compiled by Bloomberg show.

Cikarang Listrindo is part-owned by Brasali Group, the property developer run by brothers Iwan and Aldo Brasali that controls listed companies including the $1.2 billion mall operator PT Metropolitan Kentjana. Its other shareholders are businessman Ismail Sofyan’s holding company and an investment vehicle of Indonesia’s Joso family, according to the prospectus for its 2012 bond sale.

Representatives for Cikarang Listrindo didn’t respond to e-mails seeking comment.

Rising Consumption

Cikarang Listrindo generates electricity for more than 1,650 industrial customers in Indonesia’s Bekasi area, located east of the capital, according to Brasali Group’s website. It operates a natural gas-fired power plant with an installed generation capacity of 1,000 megawatts and is constructing a coal-fired power plant that will have about 420 megawatts capacity.

The Indonesian government has said it expects electricity consumption to grow 8.7 percent annually through 2024. It aims to add 42,900 megawatts of generating capacity by 2019, largely coal-fired, with about a third built by state utility PT Perusahaan Listrik Negara and the rest by private ventures.

 

Indonesia is the world’s largest exporter of power-station coal, yet has a lower electricity consumption per capita than North Korea, according to the U.S. Central Intelligence Agency’s World Factbook. The Southeast Asian nation can generate about 53 gigawatts, less than Australia, which has about 1/10 of the population.

London – Periode panjang harga minyak lebih rendah akan memicu kekhawatiran keamanan energi dengan semakin tingginya ketergantungan pada sejumlah kecil produsen berbiaya rendah atau berisiko harga berbalik naik tajam jika investasi jatuh. Demikian Badan Energi International (IEA).

Dalam laporan prospek energi dunia terbaru pada Selasa, IEA mengatakan, jika harga minyak pada tingkat saat ini tinggal selama beberapa dekade, ketergantungan pada minyak Timur Tengah akan kembali ke tingkat 1970-an, karena harga akan mendorong sumber-sumber pasokan berbiaya lebih tinggi. Harga yang lebih rendah bisa melemahkan dukungan kebijakan penting untuk transisi energi, yang berarti 15 persen dari efisiensi penghematan hilang, tambahnya.

“Ini akan menjadi kesalahan besar untuk indeks perhatian kita terhadap keamanan energi untuk perubahan harga minyak,” tegas Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.

“Sekarang bukan waktunya untuk bersantai. Justru sebaliknya: sebuah periode harga minyak yang rendah adalah saat untuk memperkuat kapasitas kita menghadapi ancaman keamanan energi masa depan,” jelas Fatih.

Laporan menemukan keseimbangan pengetatan minyak akan menyebabkan harga sekitar 80 dolar AS per barel pada 2020, karena kejatuhan harga minyak telah menggerakkan kekuatan yang mengakibatkan pasar untuk menyeimbangkan kembali melalui permintaan yang lebih tinggi dan pertumbuhan pasokan yang lebih rendah.

Asia merupakan pusat permintaan terkemuka untuk setiap elemen utama dari bauran energi dunia pada 2040. Pada 2040, impor minyak bersih Tiongkok akan hampir lima kali Amerika Serikat, sementara India akan dengan mudah melebihi Uni Eropa, kata laporan.

Laporan ini menemukan bahwa hubungan antara pertumbuhan ekonomi global, permintaan energi dan emisi yang terkait dengan energi melemah. Dikatakan transisi Tiongkok untuk lebih terdiversifikasi dan apalagi model energi-intensif untuk pertumbuhan membentuk kembali pasar energi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2251622/iea-harga-minyak-rendah-bahayakan-keamanan-energi
Sumber : INILAH.COM

double arrow picSMALL

Malaysia, Indonesia and Australia hit badly; investors flee to safe-haven currencies, gold

The share prices of commodity firms across Asia slumped yesterday, sparking a major sell-off in regional markets for a second day.

Rising worries over China’s slowing economy and the ability of big commodity firms to pay debt sent investors fleeing from risky assets to safe-haven currencies and gold.

One key catalyst was commodity giant Glencore’s share price crashing by as much as a third in London ahead of Asian trading.

The biggest casualties of the rout were resource-producing economies, including Malaysia, Indonesia and Australia.

The ringgit fell to as low as RM3.12 to the Singdollar and as low as RM4.485 to the US dollar, its weakest since January 1998. The Indonesian rupiah also fell sharply in trading yesterday, slipping to 14,730 against the US dollar at one point, its lowest since mid-July 1998. The Singdollar dropped to a six-year low against the greenback. It went as low as $1.4335 a US dollar.

Investors worried over where China’s economy is headed got more bad news as a report showed profits of its industrial firms fell 8.8 per cent last month. It set off a wave of selling: Tokyo tumbled 4.05 per cent, Hong Kong lost nearly 3 per cent and Sydney sank 3.8 per cent. Singapore’s Straits Times Index shed just 3.98 points to 2,787.94.

Glencore’s rising debt worries have now sent its share price diving almost 76 per cent this year. Yesterday, its shares rose 7 per cent when London opened, but analysts say the rout is far from over. Mr Mark Tinker, head of fund management firm AXA Framlington Asia, blamed traders for the sharp sell-off. “For foreign exchange and commodities traders right now, the profitable noise is still the ‘sell the China trade’, commodities, foreign exchange, emerging markets.”

But while commodity firms’ share prices may keep falling, Phillip Futures investment analyst Daniel Ang believes commodity prices themselves are nearing bottom. He said crude oil – about US$47 a barrel yesterday – is likely to hold steady till the year end, if supply does not continue to rise. “If… Iranian oil comes onstream, and US does not cut its supply, we could see crude oil drop to as low as US$30 a barrel. But that’s on the low side.”

But there is a real worry that if China suffers a “hard landing” – where growth rates fall more than expected – then Asia could suffer a longer-term impact, including a regional recession, said economists.

Bank of America Merrill Lynch economist Chua Hak Bin said the pace and steepness of US interest rate hikes are key questions. “As it is, Taiwan and Singapore are likely to have a technical recession this year, while Malaysia and Indonesia are facing troubles of their own.”

But Mr Anthony Raza, head of multi-asset strategy at UOB Asset Management, said a repeat of the Asian financial crisis in 1997 “is unlikely because foreign reserves, external debt and banking-sector health are all stronger now”.

Rabu, 18/11/2009 20:02 WIB

bird

Komoditas gerakkan pasar finansial dunia

oleh : M. Yunan Hilmi

LONDON (Bloomberg): Komoditas naik seiring dengan pemulihan ekonomi dunia yang memicu permintaan bahan baku dan mendorong rekor harga emas serta peningkatan pada kelompok saham pertambangan. Minyak juga melanjutkan kenaikan untuk hari ketiga seiring dengan merosotnya nilai dolar AS.

Minyak mentah naik menjadi US$79,92 per barel pada pukul 10:07 a.m. di London seiring dengan rekor emas untuk pengiriman segera untuk hari kedua selama pekan ini menyentuh US$1.147,72 per ounce. Tembaga melonjak 2,3% ke posisi tertinggi dalam 14 bulan seiring dengan penurunan Dollar Index.

Dow Jones Stoxx 600 Basic Resource Index naik 1,3% dipimpin oleh saham BHP Billiton Ltd, perusahaan pertambangan terbesar dunia, dan Rio Tinto Group.

“Secara keseluruhan di komoditas ini tidak ada kekhawatiran perekonomian bakal mereda. Sentimen investor masih sangat tinggi, dan bisa berlanjut sampai kuartal IV,” kata Amrita Sen, analis komoditas Barclays Capital di London.

Sinyal pemulihan ekonomi global dari resesi terburuk sejak Perang Dunia II menggenjot permintaan bahan bakar di tengah pengurangan produksi Organization of Petroleum Exporting Countries. Sementara, impor China atas tembaga, aluminium dan bijih besi juga melonjak. MSCI Emerging Markets Index naik dua kali lipat dari posisi terendah pada 2 Maret.

Platina untuk pengiriman segera naik sampai 0,4% menjadi US$1.463,10 per ounce, level tertinggi sejak 29 Agustus 2008.

Presiden Barack Obama dijadwalkan bertemu dengan PM Wen Jiabao pada akhir perjalanannya ke China. Pada pembicaraan dengan Presiden Hu Jintao, Obama mengatakan China memainkan peranan penting untuk membantu mengakhiri resesi global. Obama juga mendesak Hu untuk memberikan peluang bagi apresiasi yuan.

Oil bergerak naik setelah American Petroleum Institute melaporkan persediaan minyak mentah turun sebesar 4,37 juta barel pekan lalu menjadi 333,1 juta.

UBS AG menaikkan perkiraan harga minyak menyusul melemahnya dolar AS dan meningkatnya permintaan dari negara maju, terutama China yang merupakan pengonsumsi minyak terbesar.(yn)

bisnis.com

Rugi US$ 16,31 Jt @1ndy … 250714_021116

Bisnis.com, JAKARTA–Emiten investasi pertambangan PT Indika Energy Tbk. (INDY) mencatatkan penyusutan kerugian bersih 35,8% menjadi US$16,31 juta pada kuartal III/2016 dari US$25,44 juta.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dirilis Selasa (1/11/2016), disebutkan pendapatan yang diraup emiten bersandi saham INDY itu merosot 32,8% menjadi US$567,7 juta dari US$845,28 juta.


Ilustrasi – Bisnis

Akan tetapi, beban pokok kontrak dan penjualan berhasil ditekan 33,23% menjadi US$511,13 juta dari US$765,61 juta. Namun, laba kotor tak mampu tertolong dengan penurunan 29,53% menjadi US$56,57 juta dari US$79,67 juta.

Meski demikian, rugi sebelum pajak berhasil menyusut 14,4% menjadi US$30,92 juta dari US$34,55 juta. Komponen lain-lain bersih menjadi penolong, yang sebelumnya rugi hingga US$15,23 juta, kini laba US$5,06 juta.

Hingga 30 September 2016, jumlah aset Indika Energy mencapai US$1,97 miliar dari akhir tahun lalu US$2,15 miliar. Liabilitas US$1,17 miliar dari US$1,31 miliar dan ekuitas US$803,9 juta dari US$831,54 juta.

lol

Jakarta – Produsen batubara, PT Indika Energy Tbk (INDY) hingga semester I-2014 berhasil membukukan laba bersih US$ 8,49 juta. Perolehan ini menunjukkan membaiknya kinerja perseroan dibandingkan dengan rugi bersih pada semester I-2013 yang sebesar US$ 7,93 juta.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, Kamis (24/7), kenaikan laba bersih diikuti meningkatnya pendapatan sebesar 26,57 persen menjadi US$ 523,0 juta, dari pendapatan semester I-2013 sebesar US$ 413,2 juta.

Dari total pendapatan tersebut, kontribusi pendapatan kontrak dan jasa sebesar US$ 468,2 juta, naik dari periode sama tahun lalu US$ 411,4 juta. Sementara penjualan batubara melonjak signifikan dari US$ 1,76 juta, menjadi US$ 54,84 juta.

Selama Januari-Juni 2014, beban pokok perseroan juga mengalami kenaikan dari US$ 323,9 juta menjadi US$ 425,2 juta. Sementara total lialibilitas tercatat sebesar US$ 1,36 miliar, tidak berbeda jauh dari periode tahun lalu.

Hingga Juni 2014, total aset perusahaan jasa pertambangan ini mencapai US$ 2,31 miliar, sedangkan kas dan setara kas perseroan sebesar US$ 319,1 juta.

Adapun tahun ini, Indika Energy terus menggenjot produksi batubara lewat dua anak usaha, yaitu PT Kideco Jaya Agung (Kideco) dan PT Santan Batubara (Santan). Perseroan menargetkan produksi sebesar 41 juta ton, naik dari produksi batubara pada tahun lalu yang sebesar 39,1 juta ton.

http://www.beritasatu.com/pasar-modal/199063-semester-i-laba-indika-menguat-menjadi-us-849-juta.html

Sumber : BERITASATU.COM

ets-small

$93/TON batubara … 180314_300414_191016

buttrock

JAKARTA kontan. Isu geopolitik di Timur Tengah menyulut kenaikan harga batubara. Apalagi, dari sisi fundamental, ada pengurangan produksi di China.

Mengutip Bloomberg, Senin (17/10), harga batubara kontrak pengiriman November 2016 di ICE Futures Exchange ditutup naik 3,66% dari pekan sebelumnya ke level US$ 93,50 per metrik ton. Ini harga tertinggi batubara sepanjang tahun ini.

Ibrahim, Direktur Garuda Berjangka menilai, kenaikan harga batubara pada pekan ini salah satunya disebabkan gejolak di Timur Tengah. “Situasi geopolitik yang membara setelah AS, Irak, dan sekutunya berusaha untuk merebut kembali Kota Mosul dari tangan ISIS, membantu mendongkrak harga minyak. Dengan demikian, harga komoditas lain seperti batubara juga ikut terkerek,” paparnya, Selasa (18/10).

Selain itu, lanjut Ibrahim, harga batubara juga tersulut akibat strategi China yang memotong lebih dari setengah produksinya. Sehingga, saat harga terangkat cukup baik, negeri Tiongkok dapat mengembalikan jumlah produksinya dan mendulang keuntungan lebih.

Menurutnya, pergerakan batubara sepanjang pekan ini akan disetir sejumlah data ekonomi. Antara lain, China akan merilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal III. Para analis memprediksi, pertumbuhannya akan sebesar 6,7%, sama seperti PDB kuartal II. Selain itu, pada hari yang sama juga akan dikeluarkan data dari Biro Statistik Nasional soal produksi industri di China. Diperkirakan,output industri di China bulan September tumbuh 6,4%, naik dari Agustus yang hanya 6,3%.

Lalu, di Amerika Serikat, akan dirilis data izin pendirian bangunan. Para analis memperkirakan sebanyak 1,17 juta izin dikeluarkan pemerintah AS untuk bangunan baru di negara Paman Sam itu pada bulan September. Meningkat dari bulan Agustus lalu yang tercatat 1,14 juta izin. Seperti kita tahu, batubara adalah sumber energi utama yang digunakan untuk pemanas ruangan, utamanya pada musim dingin.

“Kalau memang data dari AS dan China yang keluarbagus dan sesuai prediksi,harga batubara bisa terus menguat. Apalagi, pertumbuhan ekonomi China juga terlihat baik,” tutur Ibrahim.

Ibrahim semakin optimistis terhadap kenaikan harga batubara sampai akhir tahun ini. Pasalnya, pada 30 November mendatang, negara-negara anggota OPEC akan mengadakan pertemuan resmi di Wina, Austria untuk membicarakan soal pemangkasan produksi minyak. “Kalau pertemuan ini sukses, pada akhir November nanti mungkin harga batubara bisa berada di level US$ 100 per metrik ton,” proyeksinya.

buttrock

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, salah satu komoditas global yang cenderung meningkat pada tahun ini adalah batubara karena penurunan produksi batubara global, antara lain produksi dari Tiongkok, Australia, dan Indonesia yang merupakan produsen terbesar untuk komoditas batubara.

 

Secara khusus, harga batubara di pasar Indonesia yakni Harga Batubara Acuan (HBA) cenderung meningkat dari US$ 50,92 per metric ton pada Februari 2016 menjadi US$ 63,93 per ton pada September,” kata Josua kepada Investor Daily, Senin (10/10) malam.

 

Kenaikan harga batubara acuan Indonesia tersebut, lanjut dia, juga didorong oleh peningkatan konsumsi batubara sejalan dengan program pemerintah, yakni pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW.

 

Selain peningkatan konsumsi batubara di Indonesia, juga terjadi peningkatan permintaan batubara di Tiongkok karena pemerintah Negeri Tirai Bambu itu membatasi produksi domestik sehingga mendongkrak harga batubara di pasar internasional.

 

Menurut dia, ke depan, harga batubara cenderung akan bertahan di level sekarang atau justru berpotensi meningkat kembali. Sebab, pada umumnya permintaan global pada batubara cenderung meningkat lagi memasuki musim dingin. (bersambung)

http://id.beritasatu.com/energy/batubara-salah-satu-komoditas-global-yang-cenderung-meningkat/151042
Sumber : INVESTOR DAILY

JAKARTA. Harga batu bara ditutup menguat tajam pada perdagangan Senin (3/10/2016).

 

Harga batu bara untuk kontrak Januari 2017, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup melonjak 4,26% atau 2,66 poin ke US$65,15/metrik ton.

Sementara pada perdagangan Jumat pekan lalu (30/9/2016), harga batu bara kontrak Januari ditutup melemah 2,78% atau 1,79 poin ke US$62.49/metrik ton.

Penguatan batu hitam pada penutupan perdagangan kemarin sejalan dengan penguatan harga minyak mentah.Â

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman November menguat 1,2% atau 57 sen ke posisi US$48,81 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini adalah penutupan tertinggi sejak 1 Juli.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Desember menguat 70 sen atau 1,4% ke US$50,89 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Pergerakan harga batu bara kontrak Desember 2016 di bursa Rotterdam

Tanggal

US$/MT
3 Oktober

65,15

(+4,26%)
30 September

62,49

(-2,78%)
29September

64,28

(+1,21%)
28 September

63,51

(+5,24%)
27 September

60,35

(-1,15%)

 

Sumber: Bloomberg

http://market.bisnis.com/read/20161004/94/589199/harga-batu-bara-ikuti-minyak-mentah-batu-hitam-kembali-reli

Sumber : BISNIS.COM

buttrock

Bisnis.com, JAKARTA– Harga batu bara kontrak September 2016 anjlok pada penutupan perdagangan Kamis (18/8/2016).

Pada perdagangan kemarin, harga batu bara untuk kontrak September 2016, kontrak teraktif di bursa Rotterdam, ditutup anjlok 2% atau 1,25 poin di posisi US$61,35/metrik ton.

Sementara itu pada perdagangan sebelumnya (Rabu, 17/8/2016), harga batu baru ditutup menguat 0,64% atau 0,40 poin ke level 62,60.

Seperti dikutip Reuters (18/8/2016), kantor berita Mozambique melaporkan hampir 4.000 penambang batu bara kehilangan pekerjaannya di provinsi Tete, Mozambique selama setahun terakhir akibat efisiensi oleh perusahaan pertambangan seperti Vale, yang disebabkan oleh rendahnya harga.

Rendahnya harga batu bara telah memaksa perusahaan pertambangan memangkas biaya. Provinsi Tete disebut telah mengurangi 3.937 pekerjaan dalam setahun terakhir, menurut Kepala Departement Sumber Daya Mineral Provinsi Tete Portasio Aurelio.

 

Pergerakan harga batu bara kontrak Agustus 2016 di bursa Rotterdam

Tanggal US$/MT
18 Agustus 61,35

(-2,00%)

17 Agustus 62,60

(+0,64%)

16 Agustus 62,20

(-0,80%)

15 Agustus 62,70

(-0,87%)

12 Agustus 63,25

(+2,51%)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg 

 

 ezgif.com-resize

 

 

INILAHCOM, Jakarta – Saat pasar terkoreksi dinilai bisa dijadikan bargaining pada saham-saham batu bara. Sektor ini diprediksi mampu memberikan keuntungan 15-20% dalam enam bulan. Benarkah?

Pada perdagangan Selasa (29/4/2014) saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) ditutup melemah Rp375 (3,7%) ke Rp9.800; PT Harum Energy (HRUM) menguat Rp5 (0,2%) ke Rp2.360; dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) melemah Rp850 (3,3%) ke Rp24.875.

NS Aji Martono, Direktur PT Capital Bridge Indonesia mengatakan, kalau melihat fundamentalnya, saham-saham batu bara masih rata-rata. Sebab, sektor ini terkendala oleh harga komoditas aslinya (batu bara).

Saat harga batu bara turun, lanjut dia, laba emiten juga sangat terasa turun. “Apalagi, saat penurunan tersebut dikonversi pada rupiah yang melemah atas dolar AS. Sangat terasa,” katanya kepada INILAHCOM.

Dia menjelaskan, jika ongkos produksi US$1 butuh Rp5.000, dengan dolar 12.000 per dolar AS, masih ada margin keuntungan Rp7.000. Itu jika harga batu bara naik secara riil. “Tapi, saat harga batu bara turun, Rp5.000 untuk US$1, otomatis biaya produksi juga menjadi lebih mahal, karena harga produknya lebih rendah,” ujarnya.

Padahal, dia menegaskan, jika harga batu bara menguat dan dolar AS menguat, menjadi dua kali untung. “Saat dolar AS menguat dan harga batu bara turun, cost menjadi tidak cukup atau margin yang didapat mengecil. Sebab, beban modal menjadi lebih tinggi,” tuturnya.

Hampir semua saham sektor batu bara, menurut Aji, sudah terpuruk dalam beberapa bulan terakhir. Karena itu, mulai awal April mulai agak bergairah. “Ini menjadi saat tepat untuk mengakumulasi saham-saham sektor ini,” ucapnya.

Masih ada ruang yang cukup untuk akumulasi terutama yang punya sisi fundamental cukup kuat seperti saham PTBA, HRUM, dan ITMG. “Kalau yang rumornya kencang tanpa ada aksi korporasi, naiknya kencang, turunnya pun kencang. Seperti saham PT Bumi Resources (BUMI) yang sempat di atas Rp350, turun terus ke bawah Rp200-an sekarang,” papar dia.

Di atas semua itu, dia menegaskan, saham PTBA, HRUM dan ITMG cukup layak dikoleksi untuk jangka menengah, enam bulanan. Risiko penurunan IHSG justru jadi bargaining position bagi investor yang belum memiliki saham-saham batu bara. “Potential gain bisa diraih 15-20% dari posisi harga saham-saham batu bara saat ini,” imbuhnya. [jin]

buttrock

Batubara Bakal Terpuruk ke Level US$70
Ardhanareswari AHP – Senin, 21 April 2014, 06:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Batubara tampaknya belum bisa bangkit dari keterpurukannya. Isu lingkungan dan berlimpahnya pasokan terus menggerus harga komoditas yang dulu dijuluki emas hitam ini.

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, Kamis (17/4) ICE Global Coal Newcastle Index merosot ke level US$73,45 per ton. Sejak Senin harga batubara terus turun. Jika dihitung sejak awal tahun ini, indeks harga batubara turun sekitar 14,22% dari US$85,63 per ton.

Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) juga menetapkan harga batubara acuan (HBA) sebesar US$74,81 per ton atau lebih rendah dibandingkan HBA bulan sebelumnya, yaitu US$77,01 per ton.

Ibrahim, pengamat komoditas tambang sekaligus mantan peneliti di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) bahkan memproyeksikan batubara bakal tergusur ke level US$70-an dalam waktu dekat ini.

“Kemungkinan besar ke level US$70-an. Prospek komoditas ini paling jelek dibandingkan dengan komoditas lain. “Outlook batubara masih akan stabil di level rendah” katanya.

Menurutnya, saat ini penggunaan batubara banyak memicu pro-kontra terkait dengan dampak yang ditinggalkannya terhadap kualitas udara dan kelestarian lingkungan. Sejumlah negara pengguna batubara terbesar di dunia pun mengurangi pembeliannya.

Ibrahim mengungkapkan, saat harga batubara sedang rendah-rendahnya seperti saat ini India, China, dan Jepang justru mengerem pembelian mereka.

Data dari Biro Statistik Nasional China membuktikan Negeri Tirai Bambu itu perlahan beralih ke gas alam. Volume produksi gas alam China selama Maret 2014 menanjak ke level tertinggi dalam 2 tahun terakhir.

Analis dari ICIS-C1 Energy Wang Ruiqi mengatakan pada Bloomberg produksi gas dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan. “Pengguna sedang berpindah dari energi berbasis batubara ke gas alam yang lebih sesuai dengan kelestarian lingkungan,” katanya.

Meski begitu, berbagai lembaga riset menyatakan pada tataran global batubara masih menjadi sumber energi utama di dunia, paling tidak hingga 2035. Data dari Energy Information Administration (EIA) AS menyebutkan konsumsi batubara global diperkirakan menanjak sekitar 4,6% tahun ini.

Namun, tren ini akan melambat dan diperkirakan melemah 3,1% setiap tahunnya mulai 2015. Di masa yang akan datang batubara perlahan akan digeser oleh gas alam.

Sementara itu volume produksi batubara Indonesia hingga 10 April 2014 mencapai 110 juta ton. Adapun selama kuartal I/2014 produksi mencapai 105 juta ton. Dari jumlah tersebut sekitar 81 juta ton diekspor, termasuk ke China dan India. Sepanjang tahun ini pemerintah menargetkan produksi tahun ini turun menjadi sekitar 397 juta ton.

Editor : Linda Teti Silitonga

lol

Harga Batu Bara Terus Turun ke US$77,01/Ton

Oleh: Ranto Rajagukguk
pasarmodal – Jumat, 11 April 2014 | 00:03 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Harga Batubara Acuan (HBA) pada periode April 2014 sebesar US$74,81 per ton. HBA ini lebih rendah dibandingkan periode Maret sebesar US$ 77,01 per ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Sahala menuturkan, tren penurunan itu disebabkan oleh berlimpahnya pasokan komoditas tersebut di pasar global. Ia juga memrediksi turunnya harga batubara masih terus berlanjut ke depannya.

“Penyebabnya over suplai yang membuat harga turun terus. Artinya harga saat ini belum menyentuh dasar, masih terus turun,” kata Supriatna di Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Supriatna menambahkan, penyebab over suplai batubara disebabkan oleh tambahan ekspor sebesar 100 juta ton per tahun yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Negeri Paman Sam tengah mengoptimalkan pengembangan shale gas.

Dampaknya, jumlah ekspor batubara negara itu ke pasar global mencapai 200 juta ton per tahun. “Selain itu, Tiongkok mengurangi impor batubara mencapai 200 juta ton setahun lantaran produksi dalam negeri digunakan untuk memperbaiki infrastruktur,” katanya.

Menurut dia, kenaikan harga batubara ini juga disebabkan oleh meningkatnya produksi batubara nasional. Dia memperkirakan produksi batubara hingga kuartal pertama tahun ini lebih dari 100 juta ton.

“Kami belum punya data yang konkret. Tapi diperkirakan angka produksi hingga kuartal pertama ini di atas 100 juta ton,” ujarnya. [hid]
Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batubara acuan (HBA) periode Maret 2014 sebesar US$ 77,01 per ton. HBA ini lebih rendah dibandingkan dengan harga yang ditetapkan pada periode Februari kemarin sebesar US$ 80,44 per ton.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM, Edi Prasodjo, mengatakan rendahnya harga acuan pada Maret ini akibat tingginya volume produksi batubara nasional.

“Harga spot pada Maret US$ 77,01 per ton. Turun sekitar US$ 3 per ton dibanding HBA Februari sebesar US$ 80,44 per ton,” kata Edi di Jakarta, Selasa (18/03).

Edi menuturkan total produksi batubara dari perusahaan pertambangan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) hingga Februari kemarin mencapai 73 juta ton atau naik sekitar 10,6 % dari periode yang sama tahun lalu.

Adapun rinciannya besaran produksi batubara periode Februari sebesar 35,5 juta ton dan produksi pada Januari lalu sebesar 37,5 juta ton. Edi menjelaskan rendahnya produksi di Februari lantaran masa operasionalnya lebih pendek ketimbang produksi di Januari. Sedangkan ekspor batubara hingga Februari totalnya mencapai 54 juta ton. “Untuk DMO (domestic market obligation/penjualan dalam negeri) plus sebesar 19 juta ton dan volume penjualan ekspor 54 juta ton,” ujarnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, R. Sukhyar, sebelumnya memperkirakan harga komoditas batubara akan terus mengalami penurunan hingga enam bulan kedepan yang diakibatkan melimpahnya komoditas batubara di pasar internasional.

“Amerika Serikat melepas batubaranya karena akan menggunakan shale gas. Begitu juga dengan Afrika yang akan melepasnya,” ujarnya.

Sukhyar menuturkan langkah yang dapat dilakukan dalam menyikapi penurunan harga itu yakni melalui peningkatan nilai tambah batubara seperti mengkonversi batubara menjadi cair maupun gas. Selain itu bisa juga dengan meningkatkan (upgrading) kalori batubara.

Dikatakannya, pemerintah telah memiliki kebijakan pembangkit listrik di mulut tambang. Kebijakan ini akan menyerap produksi batubara sebagai bahan baku pembangkit listrik. “Pembangkit batubara paling tidak 1000 megawatt per tahun,” ujarnya.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/172212-harga-batu-bara-acuan-esdm-maret-ditetapkan-di-us7701.html

Sumber : BERITASATU.COM

Emoticons0051

indy BERAKSI@utank … 120411_150916

long jump icon

Bisnis.com, JAKARTA–Emiten milik keluarga Sudwikatmono PT Indika Energy Tbk. memiliki sisa obligasi yang akan jatuh tempo pada 2018 senilai US$171,4 juta, dan perseroan membuka kemungkinan untuk melakukan refinancing.

Direktur Keuangan Indika Energy Azis Armand mengatakan total sisa obligasi perseroan yang jatuh tempo pada 2018 mencapai US$171,4 juta. Perseroan telah melunasi lebih awal utang obligasi senilai US$128,5 juta pada akhir tahun lalu.

“Manajemen terus mengkaji dan membuka kemungkinan-kemungkinan terkait refinancingobligasi tersebut,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (13/9/2016).

Dalam laporan keuangan emiten bersandi saham INDY, disebutkan total utang jatuh tempo dari pinjaman bank dan obligasi tahun ini mencapai US$198,54 juta atau lebih rendah 16,95% dari akhir tahun lalu US$239,07 juta.

Pinjaman bank jangka pendek yang jatuh tempo tahun ini berkurang 20,31% menjadi US$163,35 juta dari US$205,01 juta. Utang obligasi tercatat stagnan senilai US$15,76 juta.

Sementara utang bank jangka panjang yang dikurangi bagian jatuh tempo setahun mencapai US$30,47 juta dari US$52,38 juta. Utang obligasi jangka panjang bersih mencapai US$652,22 juta, naik tipis 0,4% dari akhir tahun lalu US$649,11 juta.

Bila dirinci, obligasi senior notes III tahun 2011 memiliki nilai US$171,42 juta dan senior notes IV tahun 2013 sebesar US$500 juta. Seluruh nilai obligasi dan bunga mencapai US$667,98 juta.

Senior notes III tahun 2011 diterbitkan pada 5 Mei 2011 oleh Indo Energy Finance B.V. (IEF BV) senilai US$115 juta. Obligasi tersebut akan jatuh tempo pada Mei 2018.

Obligasi III diterbitkan bersamaan dengan penukaran obligasi I tahun 2007 senilai US$185 juta. Obligasi III tersebut dikenakan bunga 7% per tahun yang tercatat di bursa efek Singapura.

Kemudian, pada 24 Januari 2013, IEF II BV menerbitkan senior notes IV senilai US$500 juta yang akan jatuh tempo pada 2023. Obligasi ini memiliki tingkat bunga 6,375% per tahun dan tercatat di bursa efek Singapura.

Sementara itu, PT Petrosea Tbk. (PTRO) sebagai anak usaha perseroan, memiliki utang jatuh tempo termasuk leasing senilai US$40,94 juta per 30 Juni 2016. Pinjaman tersebut lebih rendah dari akhir tahun lalu US$51,18 juta.

PTRO memiliki pinjaman kepada PT Bank ANZ Indonesia senilai US$6,25 juta dari maksimum plafon US$22,5 juta. Sedangkan, pinjaman kepada Citibank N.A. Indonesia hingga akhir Juni 2016 mencapai US$19,82 juta dari total plafon US$20 juta.

Manajemen INDY mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/Capex) tahun ini senilai US$40,7 juta, lebih rendah 30,6% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu US$58,7 juta. Target produksi juga dipangkas 20% menjadi 32 juta ton hingga 33 juta ton batu bara dari realisasi tahun lalu 40 juta ton.

buttrock

Indo Integrated energy BV, a wholly owned subsidiary of Indika Energy (INDY), has launched an offer to exchange up to US$165 million of its outstanding 8.5% Senior Notes due 2012 for new securities.

The company also seeks a consent solicitation relating to all outstanding 212 Notes and a consent solicitation relating to all outstanding US$230 million 9.75% Senior Notes due 2016.

The primary purpose of the consent solicitation is to make the proposed amendments to the terms of the indenture dated as of May 8, 2007 among Indo Integrated Energy, Indika Energy, and PT Indika Inti Corpindo, and together with Indika, the guarantors, and HSBC Institutional Trust Services.

Indika Energy, co-owner of Kideco Jaya Agung—third largest thermal coal producer in Indonesia, has just completed the acquisition of majority shares of shipping and marine services firm PT Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) Tbk

http://www.theindonesiatoday.com/stocks/9210-indika-launches-exchange-offer-on-us165-million-notes.html

Sumber : Indonesia Today

Gambar

gw GAIN k0k @ harga saham INDy : 050913_250816

long jump icon

 

per tgl 25 Agustus 2016, tren 1-2 taon HARGA SAHAM INDY makin menjanjikan:

+43% sejak 2015, +550% sejak 2016 @ tren harga saham INDY

Bisnis.com, JAKARTA—Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih ambrol 1,05% selama sepekan ini. Tetapi, jajaran 10 saham berikut justru meroket menjadi top gainers termasuk PT Indika Energy Tbk. (INDY).

Dari data Bloomberg, Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir pekan ditutup berbalik menguat 0,16% sebesar 7,66 poin ke level 4.711,87. Meski sempat melemah di awal perdagangan, IHSG mulai berbalik menguat pada sesi I transaksi Jumat (20/5/2016).

Sektor consumer goods mencoba melawan pelemahan dengan kenaikkan 0,61%, terutama disokong oleh HMSP dan GGRM. Kedua saham emiten rokok itu bahkan menjadi top leaderskemarin.

Investor asing akhirnya memborong saham dengan mencatatkan net buy Rp114,89 miliar setelah terus melego saham dalam beberapa hari terakhir. Namun, pekan ini investor asing membukukan net sell Rp402,86 miliar dengan pembelian Rp15,28 triliun.

Dalam sepekan, IHSG harus menyerah 1,05% sebesar 49,84 poin dalam sepekan dari 4.761,71. Aksi net buy akhir pekan membuat catatan aksi beli bersih investor asing sepanjang tahun berjalan kian menebal menjadi Rp2,05 triliun.

Mayoritas lantai bursa saham di kawasan regional Asia Pasifik berakhir di zona hijau. Sepanjang tahun berjalan, hanya tiga bursa Asia Pasifik yang menghijau, di antaranya Thailand (7,60%), Indonesia (2,59%), dan Australia (1,05%).

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan investor asing di lantai bursa masih kebingungan untuk melego atau memborong saham. Tekanan aksi jual oleh investor asing menjelang bulan puasa dinilai telah rampung.

Perdagangan Jumat (20/5/2016), saham BBRI dan ASII juga turut naik. Tetapi, saham BMRI dan UNTR terjatuh menjadi pemberat IHSG akhir pekan. Pelaku pasar dinilai tengah mengakumulasi posisi di lantai bursa.

“Pelaku pasar sedang menunggu tenaga yang baru, pasar modal biasanya sebulan sebelum puasa itu terjadi pelepasan portofolio oleh investor asing,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Jumat (20/5/2016).

Dia menegaskan, pelemahan IHSG selama sepekan tidak dipengaruhi oleh data-data ekonomi domestik. Pelaku pasar hanya menghawatirkan efektivitas paket-paket kebijakan ekonomi yang dirilis pemerintah, terutama pada sisi implementasi.

Akhir pekan, volume rerata harian mencapai 5,07 miliar lembar dengan nilai Rp5,72 triliun. Kapitalisasi pasar saham Bursa Efek Indonesia mencapai Rp5.002 triliun dengan rerata frekuensi harian mencapai 242.362 kali.

Berikut 10 saham top gainers sepekan 16-20 Mei 2016:

Ticker Emiten Harga (Rp) Perubahan (%)
CNKO PT Eksploitasi Energi Indonesia Tbk. 92 +48.39
CEKA PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. 1.215 +44,64
SMRU PT SMR Utama Tbk. 218 +28,24
INDY PT Indika Energy Tbk. 650 +23,81
AKKU PT Alam Karya Unggul Tbk. 178 +22,76
DAJK PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk. 95 +20,25
SSTM PT Sunson Textile Manufacturer Tbk. 135 +19,47
ASRM PT Asuransi Ramayana Tbk. 3.600 +17,65
AMAG PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk. 410 +16,48
PLIN PT Plaza Indonesia Realty Tbk. 3.880 +16,17

Sumber: PT Bursa Efek Indonesia, diolah.

Emoticons0051

marketwatch:

Mining and resource plays are among those that did well in the first quarter, but had a rocky 2015. MarketWatch’s Carla Mozee covered the dramatic improvement of U.K.-listed mining stocks during February, as iron prices rose and China’s National Development and Reform Commission planned to spend 400 million yuan on infrastructure projects.

“Chinese demand for metals has been better than expected this year, and recent supply constraints in mining have helped as well,” Jefferies analyst Christopher LaFemina said in a note to clients on Wednesday. He also said most stocks in the metals and mining space were “fully valued.”

bird

Jakarta —  Otoritas Bursa Efek Indonesia melakukan pencabutan penghentian sementara perdagangan (unsuspend) saham PT Indika Energy Tbk (INDY).

tren harga indy 2016 post susp @311

Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Irvan Susandy, dalam keterbukaan informasi di Jakarta, Jumat (1/4), mengatakan bursa memutuskan untuk melakukan pencabutan penghentian sementara perdagangan efek INDY di seluruh pasar baik reguler maupun tunai.

“Pembukaan mulai sesi I perdagangan hari ini, dengan demikian sejak sesi tersebut efek perseroan dapat dilakukan di seluruh pasar,” katanya.

http://www.imq21.com/news/read/356043/20160401/090002/Saham-INDY-Kembali-Diperdagangkan.html
Sumber : IMQ21.COM

doraemon

JAKARTA. PT Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham PT Indika Energy Tbk (INDY) pada Rabu (23/3/2016).

Kepala Divisi Operasional Perdagangan BEI, Eko Siswanto menyampaikan hal tersebut dilakukan karena terkadi peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada sebesar Rp223 atau 182,79%, dari harga penutupan 25 Februari 2016 di level Rp122 menjadi Rp345 pada penutupan 22 Maret 2016.

“Bursa perlu melakukan suspensi saham INDY di pasar reguler dan pasar tunai mulai 23 Maret 2016 sampai dengan pengumuman Bursa lebih lanjut,” katanya, seperti dikutip dari Antara.

DIa mengharapkan agar para pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan.

Sebelumnya, saham INDY masuk dalam pencermatan Bursa akibat pola transaksinya yang di luar kebiasaan atau unusual market activity (UMA).

Sekretaris perusahaan PT Indika Energy Dian Paramita menyampaikan bahwa pihaknya tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal sebagaimana diatur dalam peraturan Bursa.

Ia mengemukakan bahwa seperti yang telah dilaporkan melalui “e-reporting IDX” sebelumnya, perseroan melakukan tender offer pembelian kembali secara tunai atas Notes 2018, sejak 23 November sampai dengan 21 Desember 2015.

“Perseroan tidak melihat tindakan itu berakibat terhadap pencatatan saham perseroan di BEI dalam beberapa hari ini. Perseroan juga belum memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi lain dalam waktu dekat yang dapat berakibat terhadap pencatatan saham perseroan, di BEI,” paparnya.
http://market.bisnis.com/read/20160323/190/530845/melonjak-182-bei-suspensi-saham-indy
Sumber : BISNIS.COM

rose KECIL

Jakarta —  PT Bursa Efek Indonesia telah melakukan penghentian sementara perdagangan (suspensi) saham delapan emiten mulai perdagangan sesi I, Rabu (23/3).

Dari delapan perusahaan, satu perusahaan, yakni PT Indika Energy Tbk (INDY), tercatat harga sahamnya meningkat sekitar Rp233 atau Rp182,79%, dari harga penutupan Rp122 per saham pada 25 Februari 2016 menjadi Rp345 pada 22 Maret 2016.

“Kami mengimbau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan,” tutur P.H Kadiv Pengawasan Transaksi Zakky Ghufron dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (23/3).

Sementara itu, tujuh perusahaan lainnya adalah PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN), PT Inovisi Infracom Tbk (INVS), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA), PT Grahamas Citrawisata Tbk (GMCW), PT Garda Tujuh Buana Tbk (GBTO), PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP), dan PT Siwani Makmur Tbk (SIMA).

“Adapun status perdagangan hingga 18 Maret 2016 adalah suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya saham INVS yang disuspensi di seluruh pasar,” kata Kepala Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna.

Ia beralasan, suspensi atas tujuh perusahaan karena belum melakukan pembayaran angsuran pertama atau full payment biaya pencatatan tahunan pada 2016 dan denda atas keterlambatan pembayaran biaya pencatatan tahunan 2016.

Bursa melalui surat No. S-00580/BEI.PPU/01-2016 tanggal 29 Januari 2016 perihal Kebijakan Bursa terkait Pembayaran Annual Listing Fee (ALF) Tahun 2016, menetapkan bahwa pembayaran ALF tahun 2016 dapat dilakukan melalui angsuran dengan pembayaran angsuran pertama paling lambat dilakukan 15 Februari 2016.

Mengacu pada butir II.3 Peraturan Nomor I-H tentang Sanksi, dalam hal perusahaan tercatat dikenakan sanksi denda oleh Bursa, maka denda tersebut wajib disetor ke rekening bursa selamat-lambatnya 15 hari kalender terhitung sejak sanksi tersebut dijatuhkan oleh Bursa.

Apabila perusahaan tercatat yang bersangkutan tidak membayar denda dalam jangka waktu tersebut, maka Bursa dapat melakukan penghentian sementara perdagangan saham perusahaan tercatat di pasar reguler sampai dengan terpenuhinya kewajiban pembayaran biaya pencatatan tahunan dan denda.

“Atas dasar penyebab suspensi tersebut dan mengacu pada peraturan, maka sejak sesi I perdagangan efek pada 23 Maret 2016, Bursa memutuskan untuk melanjutkan penghentian sementaara perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai untuk tujuh perusahaan,” tegasnya.

http://www.imq21.com/news/read/354435/20160323/100507/Perdagangan-Delapan-Saham-Disuspensi.html
Sumber : IMQ21.COM

big-dancing-banana-smiley-emoticon

JAKARTA. Bursa Efek Indonesia tbk (BEI) mencabut penghentian sementara perdagangan (suspensi) saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

Irvan Susandy, Kadiv Pengawasan Transaksi BEI mengatakan, suspensi saham DKFT dan INDY di pasar reguler dan pasar tunai akan dibuka kembali mulai perdagangan sesi I pada, Senin, 21 Maret 2016.

“Suspensi atas perdagangan saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) di seluruh pasar terhitung sejak sesi I perdagangan efek pada hari Senin, 21 Maret 2016,” tulisnya dalam keterbukaan, Jumat (18/3)

Sebelumnya, otoritas bursa menghentikan sementara perdagangan saham DKFT di pasar reguler dan pasar tunai pada sesi pertama perdagangan 19 Februari 2016, lantaran mempertimbangkan kelangsungan usaha perseroan atau going concern.

Sementara, saham INDY mulai disuspensi sejak 17 Maret 2016, karena kenaikan harga yang signifikan hingga 123,77% dari harga penutupan Rp 122 pada 25 Februari 2016 menjadi Rp 273 per saham pada tanggal 17 Maret 2016.

harga INDY 080316 202 uma

animated-rocket-and-space-shuttle-image-0026

IMQ, Jakarta —  Otoritas Bursa Efek Indonesia saat ini sedang mengawasi perkembangan harga dan aktivitas transaksi saham PT Indika Energy Tbk (INDY).

“Telah terjadi penurunan harga saham ARTI yang di luar kebiasaan dibanding periode sebelumnya (Unusual Market Activity/UMA),” ungkap Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Irvan Susandy di Jakarta, Selasa (8/3).

Sehubungan dengan terjadinya UMA ini, BEI mengharapkan para investor untuk memperhatikan jawaban perseroan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa, mencermati kinerja dan keterbukaan informasinya.

Di samping itu, investor sebaiknya mengkaji kembali rencana aksi korporasi perseroan apabila rencana itu belum mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

“Pertimbangkan juga berbagai kemungkinan yang dapat timbul dikemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi,” terangnya.

Menurut Irvan, pengumunan UMA ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

Author: Irwen Azhari

reaction_1

britama rumour 04/03/2016: 4 MARET 2016 ➝ BERITA
Britama.com – Fund Managers dikabarkan tertarik untuk mengakumulasi saham PT Indika Energy Tbk (INDY).

Hal ini berpeluang mengerek saham produsen batubara ini menuju level Rp350 dalam waktu dekat. Sedangkan ketertarikan pemodal asing terhadap saham INDY dipicu sentimen positif terkait rencana perseroan untuk membeli kembali senior notes senilai Rp600 miliar dan pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 2×1.000 MW.

Pada perdagangan saham di Bursa efek Indonesia (BEI) kemarin, saham INDY ditutup menguat menjadi Rp138

portofolio KBSU @ krisis 2013 050913blog

ptro, anak usaha indy… 250511_270716

big-dancing-banana-smiley-emoticon

Jakarta berita1- PT Petrosea Tbk melalui Petrosea Offshore Supply Base (POSB) yang berlokasi di Tanjung Batu, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Maret 2016 secara resmi telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah satu pusat logistik berikat (PLB) di Indonesia. Saat ini area PLB yang tersedia di POSB Tanjung Batu, Balikpapan, mencapai 62.100 meter persegi (m2), terdiri dari 40.000 m2 area daratan dan 22.100 m2 area lepas pantai.

Sejak Rabu 13 Juli 2016 lalu, salah satu jackup rig Hakuryu 10  milik Japan Drilling Indonesia memasuki wilayah pusat logistik berikat milik Petrosea di Tanjung Batu, Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebelumnya, Hakuryu 10 beroperasi di blok Mahakam untuk Total EP Indonesie. Setelah menyelesaikan kontrak pada pertengahan Juli, sesuai dengan peraturan yang berlaku, Hakuryu 10 berencana untuk keluar dari wilayah perairan Indonesia.

“Ini merupakan wujud nyata proyek perdana PLB Petrosea. Sejak 2005, POSB telah memberikan pelayanan bagi kegiatan sektor migas untuk wilayah sekitar dan diharapkan dapat menjadi hub logistik bagi kawasan Asia Pasifik,” demikiam keterangan tertulis Petrosea yang diterima redaksi, Jumat (15/7).

PLB merupakan salah satu implementasi paket kebijakan ekonomi jilid II yang memungkinkan Indonesia menjadi hub logistik internasional. Dengan menggunakan fasilitas PLB, pengguna fasilitas ini memperoleh manfaat biaya logistik yang lebih murah karena tidak perlu melakukan re-ekspor dan juga membantu menyediakan layanan re-impor ketika rig akan kembali bekerja di wilayah Indonesia. Biaya mobilisasi akan berkurang secara signifikan, sehingga memberikan pengaruh langsung terhadap efisiensi biaya dan menurunkan cost recovery secara langsung.

Pemanfaatan PLB Petrosea tidak terlepas dari kerja sama dan dukungan terus-menerus dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, kantor wilayah dan kantor pelayanan Balikpapan. Pencapaian kinerja ini akan terus diikuti pencapaian kinerja lainnya sesuai dengan misi pemerintah dan diharapkan mampu memperlancar arus logistik dan menekan biaya logistik agar lebih murah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat meningkat dan diharapkan mampu menjadi hub logistik di Asia-Pasifik.

“Petrosea berkomitmen untuk terus mengembangkan PLB dan berencana untuk membangun beberapa area PLB lainnya di wilayah timur Indonesia,” demikian Petrosea.

Jenis layanan lainnya yang dapat diberikan Petrosea, di antaranya layanan komprehensif logistik bongkar muat dan jasa penyimpanan dalam di hub logistik POSB berikat, berthing & quayside, warehouse, marine scheduling, OCTG storage & inspection, rigging, cargo carrying units, waste consolidation services, dan layanan lainnya, seperti oil spill response, on-site medical support,dan jasa transportasi.

Keunggulan Petrosea lainnya ada pada kemampuan untuk menyediakan jasa pertambangan terpadu yang didukung oleh kemampuan rekayasa, konstruksi, dan jasa logistik yang terintegrasi, serta berkomitmen penuh terhadap penerapan keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L), manajemen mutu, integritas bisnis, serta corporate social responsibility (CSR) di area pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan lingkungan.

Petrosea telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (IDX: PTRO) sejak 1990, dan merupakan perusahaan terbuka pertama di bidang rekayasa dan konstruksi di Indonesia. Petrosea didukung penuh oleh pemegang saham utamanya, PT Indika Energy Tbk yang merupakan perusahaan energi di Indonesia yang menyediakan solusi energi terpadu melalui investasi di bidang sumber daya energi, jasa, dan infrastruktur.

Anselmus Bata/AB

BeritaSatu.com

buttrock

Jakarta berita1– Emiten jasa pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO) meraih kontrak baru jasa pertambangan dan sewa peralatan senilai Rp 2,4 triliun. Perseroan menandatangani kontrak tersebut pada 13 Mei 2016.

Presiden Direktur Petrosea Hanifa Indradjaya mengungkapkan, perseroan mendapatkan kontrak tersebut dari PT Binuang Mitra Bersama Blok Dua. Petrosea tidak memiliki hubungan afiliasi dengan Binuang Bersama. “Jangka waktu kontrak selama empat tahun,” jelas Hanifa dalam keterangan resminya, Senin (16/5).

Dia melanjutkan, perolehan kontrak tersebut menambah pendapatan keuangan dan ruang lingkup pekerjaan.

Sementara itu, perseroan berencana meningkatkan kontribusi pendapatan dari sektor non-batu bara hingga sebesar 40 persen dari total pendapatan dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Tahun lalu pendapatan perseroan dari sektor batu bara sebesar 70 persen dari total pendapatan.

Direktur Petrosea Kurnia Ariawan mengatakan, perseroan akan meningkatkan diversifikasi bisnisnya melalui sektor jasa rekayasa dan manajemen proyek. Sebelum fokus di bisnis kontraktor batu bara, perseroan lebih dikenal sebagai perusahaan jasa dan rekayasa proyek. “Jadi bisnis itu sebelumnya tetap ada,” jelas Kurnia.

Pada 2015, sektor bisnis tersebut berkontribusi sebesar 12,9 persen dari total pendapatan. Pendapatan perseroan dari sektor itu pada 2015 adalah US$ 26,7 juta. Tahun lalu kontrak perseroan dari jasa rekayasa dan manajemen proyek di antaranya berasal dari pembangunan tanggul PT Freeport Indonesia, pekerjaan perbaikan konstruksi konveyor bongkar muat PT Indonesia Bulk Terminal dan konstruksi akses jalan ke proyk batubara PT Maruwai Coal.

Kurnia mengungkapkan, pekerjaan yang dilakukan sebagian besar merupakan pembangunan jalan. “Banyak proyek sipil yang kita kerjakan, tetapi kita tidak menutup proyek-proyek lain dari jasa rekayasa proyek,” katanya.

Dia melanjutkan, secara organisasi perseroan mulai mengembangkan organisasi sektor bisnis itu dan sudah mulai ikut tender-tender besar. Dia berharap bisnis tersebut dapat berkembang menjadi bisnis yang bagus bagi perseroan di masa akan datang.

 

Muhammad Rausyan Fikry/WBP

Investor Daily

 

TEMPO.CO, Jakarta

ezgif.com-resize

Emiten pertambangan PT Petrosea Tbk. (PTRO) membagikan dividen final tahun buku 2014 sebesar US$1,68 juta setara dengan Rp21,9 miliar.

 

Mochamad Kurnia Ariawan, Direktur Keuangan Petrosea, mengatakan pembagian dividen final diputuskan dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 20 April 2015. Dividen dibagikan bagi 1,008 miliar saham yang ditempatkan dan disetor penuh.

 

“Dividen sebesar US$0,00168 per lembar saham berdasarkan kurs tengah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada 30 April 2015 saat recording date,” ungkapnya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (22/4/2015).

 

Dividen final tahun buku 2014 tersebut dibayarkan secara tunai kepada seluruh pemegang saham. Akhir periode perdagangan saham dengan hak dividen (cum dividen) di pasar reguler dan negosiasi pada 27 April 2015 dan di pasar tunai pada 30 April 2015.

 

Awal periode perdagangan saham tanpa hak dividen (ex dividen) di pasar reguler dan negosiasi pada 28 April 2015 dan di pasar tunai pada 4 Mei 2015. Tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen (recording date) pada 30 April 2015 dan pembayaran dividen pada 22 Mei 2015.

 

BISNIS

Emoticons0051

Rabu, 25/05/2011 18:12 WIB
Petrosea Bagi Dividen Rp 1.195 per Saham
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Petrosea Tbk (PTRO) membagikan dividen Rp 1.195,5 per lembar saham, atau setara dengan Rp 120,578 miliar.

Menurut hasil RUPS Tahunan Petrosea, pemegang saham menyepakati pembagian dividen Rp 120,57 miliar atau setara dengan 33,33% dari laba bersih di tahun buku 2010, US$ 42,2 juta.

“Hasil RUPST pembagian dividen sebesar Rp 1.195,5 per lembar saham. Maka total nilai dividen yang dibagikan perusahaan adalah sebesar Rp 120,578 miliar,” kata Presiden Direktur PTRO, Wadyono Suliantoro, di Jakarta, Rabu (25/5/2011).

Pembagian dividen akan dilakukan pada bulan Juli 2011. Sepanjang tahun lalu, PTRO membukukan pendapatan US$ 186,9 juta dengan laba bersih US$ 42,2 juta.

Wadyono menambahkan, kinerja laba bersih akibat strategi perusahaan yang fokus pada sektor usaha inti.

“Strategi kami untuk fokus pada sektor usaha inti berjalan cukup baik. Berbakal peremajaan armada dan peralatan, strategi ‘pit to port’ untuk pertambangan batubara, kapasitas keuangan yang memadai,” tambah Wadyono.

(wep/ang)

indy @PLTU Cireb0n … 191012_170716

reaction_1

JAKARTA okezone– Anak usaha P T Indika Energy Tbk (INDY), PT Indika Multi Energi Internasional (IMEI) dan PT Indika Energy Infrastructure (IEI) menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat (PJBB) dengan PT Imeco Multi Prasarana (IMP) guna melepas saham pada PT Prasarana Energi Indonesia (PEI).

”Penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat itu dilakukan pada 30 Juni 2016,”kata Sekteraris Perusahaan INDY, Dian Paramita dalam siaran persnya di Jakarta.

Adapun IMEI dan IEI melepas 2.100 saham dalam PEI atau mewakili 75 persen dari jumlah modal yang ditempatkan pada PEI. PEI adalah pemilik 25 persen participating interest melalui anak usahanya PT Prasarana Energi Cirebon pada proyek pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 1000 MW di Cirebon, Jawa Barat yang dikembangkan PT Cirebon Energi Prasarana.

Tahun ini, PT Indika Energy Tbk menyiapkan belanja modal sebesar USD 40,7 juta. Nilai belanja modal itu lebih kecil dari realisasi belanja modal pada tahun lalu yang sebesar USD 58,7 juta. Penurunan harga batubara memaksa INDY sedikit menahan ekspansi sejak tahun lalu.

Hal ini terlihat dari serapan anggaran belanja modal tahun lalu yang sebesar 85,9 persen dari alokasi anggaran awal yang senilai USD 68,6 juta. Porsi belanja modal paling besar tetap akan disalurkan untuk anak usaha yang menggarap bisnis kontraktor batubara dan konstruksi pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO). Belanja modal khusus PTRO mencapai USD 27,4 juta.

Sementara Petrosea tahun ini banyak berharap bisa memperoleh tambahan pendapatan dari bisnis di luar penambangan batubara, seperti jasa minyak dan gas, rekayasa, dan konstruksi. Lalu, perusahaan transportasi dan logistik batubara terintegrasi, PT Mitrabahtera Sagara Sejati (MBSS) mendapat alokasi USD 6,1 juta. Sementara produsen batu bara Kideco Jaya Agung mendapat alokasi belanja USD 2,7 juta, dan untuk INDY sendiri sebesar USD 4,7 juta.

Perseroan berharap volume batubara Kideco bisa mencapai 32 juta ton. Jumlah ini turun dibandingkan realisasi tahun 2015 lalu yang sebesar 39,8 juta ton. Per akhir tahun lalu, perseroan masih memiliki utang obligasi senilai USD 671,4 juta yang terdiri atas senior notes sebesar USD 171,4 juta, dan jatuh tempo pada 2018 mendatang, dan senior notes USD 500 juta yang jatuh tempo tahun 2023.

Tercatat pada Desember 2015, perseroan berhasil menyelesaikan pembelian kembali sebagian obligasi tahun 2018 bernilai pokok USD 126,6 juta dengan harga beli sekitar USD 77,1 juta. Sementara saldo kas perseroan saat ini sebesar USD 339,4 juta. Sepanjang tahun lalu, perseroan mencetak pendapatan sebesar USD 1 miliar atau turun 1,1 persen dibandingkan tahun 2014. Pada periode itu, INDY masih membukukan kerugian sebesar USD 44,5 juta.

Belum lama ini, Moody’s menurunkan peringkat INDY menjadi Caa1 dari B3. Moody’s juga menurunkan peringkat dua obligasi INDY menjadi Caa1. Outlook rating tersebut negatif. Penurunan peringkat ini mencerminkan utang perseroan yang besar, dan industri pertambangan global diperkirakan belum pulih. Sehingga, akan mempengaruhi arus kas perseroan.

(mrt)

buttrock

JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui konsorsium independent power producer (IPP) PT Cirebon Energi Prasarana, bersiap menggarap proyek listrik berkapasitas 1 x 1.000 megawatt (MW) dengan nilai investasi US$ 2 miliar. Financial closing proyek itu akan diteken akhir semester I-2016.

Direktur Utama INDY Arsjad Rasjid mengatakan, porsi saham INDY di proyek PLTU ini sebanyak 25%. Sisanya milik Marubeni Corporation sebesar 35%, Samtan Co. Ltd. sebesar 20%, Korea Midland Power Co. Ltd. sebesar 10%, dan Chubu Electric Power Co. Ltd, sebesar 10%.

Rencananya, 80% dari investasi proyek atau sekitar US$ 1,6 miliar didanai project financing, salah satunya adalah Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Produksi listrik yang dihasilkan pada periode operasi komersial, -menurut rencana mulai tahun 2020- akan dibeli Perusahaan Listrik Negara (PLN). Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) dengan PLN sudah dilakukan akhir tahun 2015 dengan lama penjualan 25 tahun sejak tanggal operasi komersial.

“Proses Amdal dalam tahap akhir,” ujar Arsjad, Kamis (28/4).

Sebelumnya, INDY juga sudah mengoperasikan PLTU Cirebon 1 dengan kapasitas 660 MW selama tiga tahun. “Kinerja operasionalnya juga terbilang baik,” ujarnya.

Walaupun sudah masuk ke sektor pembangkit listrik, kinerja INDY pada kuartal I 2016 malah turun 37,9% menjadi US$ 195,1 juta. Hampir seluruh lini bisnis INDY melorot, baik itu bisnis batubara, minyak dan gas, rekayasa dan konstruksi atau logistik.

Perseroan juga masih mencetak rugi bersih sebesar US$ 4,9 juta. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, INDY masih memperoleh laba bersih US$ 11,29 juta. Guna menghadapi tantangan industri, INDY melakukan efisiensi, seperti pengurangan 157 orang karyawan dari total 511 orang di perusahaan induk.

“Prospek industri batubara, masih stagnan jadi kami harus melakukan efisiensi bisnis,” ujar Arsjad.

http://investasi.kontan.co.id/news/konsorsium-indy-finalisasi-pendanaan-pltu-us-2-m
Sumber : KONTAN.CO.ID

gifi

JAKARTA. Emiten tambang batu bara PT Indika Energy Tbk. (INDY)  menuntaskan proses keuangan pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Cirebon Unit II berkapasitas 1.000 Megawatt dengan investasi Rp27,3 triliun.

Presiden Direktur PT Indika Energy Tbk. Wishnu Wardhana mengatakan perseroan bakal berpartisipasi untuk membangun megaproyek 35.000 MW dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Cirebon Unit II berkapasitas 1.000 MW.

“Ekspansi PLTU Cirebon Unit II menggunakan teknologi ulta super critical. Investasi sebesar US$2,1 miliar,” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (10/3/2016).

Investasi senilai US$2,1 miliar setara dengan Rp27,3  triliun (kurs Rp13.000 per dolar AS), tersebut akan didanai oleh konsorsium investor Jepang, Korea Selatan, dan bank multinasional. Mereka adalah Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Export-Import Bank of Korea, dan NEXI Investment Insurance and Comercial Bank.

Emiten berkode saham INDY tersebut tergabung dalam konsorsium PT Cirebon Energi Prasarana yang bakal menggarap pembangkit listrik mandiri (independent power producer/IPP). Indika membentuk usaha patungan bersama Marubeni Corporation (35%), Samtan Co. Ltd. (20%), Korea Midland Power Co. Ltd. (10%), dan Chubu Electric Power Co. Inc. (10%).

Konsorsium itu memang telah menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik (power purchase agreement/PPA) dengan PLN. IPP tersebut diklaim menjadi proyek skala besar pertama sebagai bagian dari megaproyek 35.000 MW.

Perusahaan milik keluarga Sudwikatmono itu telah memiliki PLTU Cirebon Unit I dengan kapasitas 660 MW. Pembangunan proyek PLTU Cirebon Unit II tersebut sebagai ekspansi yang akan berlokasi di Desa Kanci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dengan target beroperasi pada 2020.

“Sekarang sudah sampai tahap financial closing dan 2020 beroperasi,” tuturnya.

Sejumlah emiten tambang merangsek masuk ke bisnis kelistrikan dengan membidik megaproyek 35.000 Megawatt yang dicanangkan pemerintah dengan nilai investasi triliunan rupiah.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, tidak kurang dari sepuluh emiten tambang merangsek proyek power plant. Masing-masing emiten bahkan ada yang telah meyiapkan dana hingga miliaran dolar Amerika Serikat untuk pembangunan proyek selama lima tahun itu.

Pemerintah Indonesia pada 4 Mei 2015 lalu berambisi untuk membangun pengadaan listrik sebesar 35.000 MW demi kebutuhan dalam 5 tahun mendatang. Dari program tersebut, sebesar 10.000 MW atau 35 proyek bakal dikerjakan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dan 25.000 MW atau 74 proyek digarap oleh perusahaan swasta.

http://industri.bisnis.com/read/20160311/44/527122/indika-energy-indy-tuntaskan-proyek-pltu-senilai-rp273-triliun
Sumber : BISNIS.COM

rose KECIL

PLTU Cirebon Unit II Beroperasi 2018
Inda Marlina – Kamis, 05 Desember 2013, 19:45 WIB

Bisnis.com, CIREBON–PT Cirebon Electric Power menargetkan ekspansi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) unit 2 berdaya 1×1.000 Mega Watt (MW) dengan nilai investasi US$2 miliar akan commercial on date (COD) pada 2018.

Vice President Director PT CEP Eddy Junaedy Danu mengatakan saat ini pihaknya dalam proses negosiasi teknis dan harga listrik. Dia juga memastikan bahwa perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement) selesai pada awal tahun depan.

“Tahun depan semua negosiasi dan kontrak selesai, sehingga Juni atau Agustus mulai konstruksi,” katanya, Kamis (5/12/2013).

Ekspansi unit 2 ini akan menggunakan teknologi super ultra critical untuk pembakaran batu bara. Teknologi ini juga direncanakan digunakan PLTU Batang.

Eddy mengharapkan harga listrik unit kedua sama dengan harga listrik PLTU Batang karena kesamaan teknologi. Hal ini berarti harga listrik akan lebih tinggi dari unit 1 yang senilai US$0,43 per kilo Watt hour (kWh).

Pendanaan ekspansi unit 2 berasal dari Japan Bank for International Cooperation (JIBIC) dan dari Korea Selatan. Kedua pihak pendanaan tersebut meminta jaminan dari pemerintah.

“Tetapi itu terserah pemerintah karena memberikan jaminan adalah hak mereka,” imbuh Eddy.

Selain membangun unit kedua, CEP juga berencana akan ekspansi pembangkit unit ke 3 dan 4. Masing-masing memproduksi listrik berdaya 660 MW dan 1.000 MW.

Unit 3 direncanakan dibangun di lahan milik perusahaan konsorsium antara PT Indika Energi Tbk, Komipo, dan Marubeni ini. Untuk unit yang keempat akan dibangun sekitar 5 km dari ketiga unit tersebut.

Saat ini untuk membangkitkan unit 1 berdaya 660 MW, PLTU membutuhkan 2,6 juta ton batu bara per tahun dari PT Adaro Tbk dan PT Kideco yang dibeli oleh PLN.

Batu bara yang digunakan untuk PLTU tersebut berjenis low rank coal dengan kadar 4.500 kkal.

Sebelumnya, Direktur Konstruksi dan Energi Terbarukan PLN Nasri Sebayang mengatakan negosiasi harga untuk unit ke dua masih menunggu harga keekonomian dunia.

“Kami sudah mendapat persetujuan dari pemerintah untuk ekspansi ini,” katanya.

Pembangunan unit 2 diperkirakan akan selesai dalam waktu 46 bulan atau kurang lebih 3-4 tahun. Pembangunan tersebut sudah termasuk penyelesaian pendanaan selama 6 bulan. (ra)
Indika Rintis PLTU Baru di Cirebon
Maftuh Ihsan – Minggu, 06 Oktober 2013, 19:05 WIB
Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan energi terintegrasi PT Indika Energy Tbk. (INDY) menjajaki pembangunan pembangkit listrik tenaga uap baru di Cirebon, Jawa Barat, dengan kapasitas yang diperkirakan di atas 1.600 megawatt.

M. Arsjad Rasjid, Vice President Director Indika Energy, mengungkapkan pembangunan PLTU tahap kedua masih dalam proses perizinan dan masih dibicarakan berapa besar kapasitasnya.

“[proyek] sebelumnya 1.600 megawatt, yang kedua akan lebih besar,” ungkapnya belum lama ini.

Dia menjelaskan pembangunan PLTU baru tersebut akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan lain dengan pembiayaan proyek akan berasal dari pinjaman.

Sebelumnya, perseroan mengalokasikan dana US$2 miliar untuk membangun pembangkit tenaga listrik berkapasitas 1.000 megawatt di Cirebon yang merupakan penambahan dari pembangkit sebelumnya dengan kapasitas 660 megawatt. (ra)

Editor : Rustam Agus
PLTU BARU: Cirebon Electrik akan investasi US$1,2 miliar

long jump icon

Vega Aulia Pradipta

Kamis, 18 Oktober 2012 | 21:25 WIB

bisnis indonesia

CIREBON–PT Cirebon Electric Power siap menambah satu unit PLTU baru berkapasitas 1.000 MW senilai US$1,2 miliar di area PLTU Cirebon, Jawa Barat.

Wishnu Wardhana, Wakil Direktur Utama PT Indika Energy Tbk mengatakan pihaknya bersama anggota konsorsium PT Cirebon Electric Power lainnya, sedang membahas rencana itu dengan pemerintah dan PLN.

“Extension tambahan 1.000 MW nilainya US$1,2 miliar. Itu nanti jadi satu unit sendiri, di luar unit 1 yang sudah ada sebesar 660 MW,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara peresmian PLTU Cirebon unit 1 berkapasitas 660 MW oleh Menteri ESDM Jero Wacik hari ini, Kamis (18/10).

Wishnu berharap pembangkit baru berbahan bakar batu bara itu bisa direalisasikan secepatnya, yakni pada 2016 dan bisa semakin menambah keandalan sistem Jawa-Bali.

Meski nantinya akan berada di area PLTU Cirebon yang sudah eksisting, Wishnu mengatakan konsorsium selaku pengembang listrik swasta (IPP) tetap perlu membuat kajian AMDAL dan persyaratan lainnya.

“Memang biasanya kalau unit kedua, risiko sudah lebih kecil. Mudah-mudahan hal-hal seperti akuisisi lahan dan yang lainnya itu ngga terjadi lagi. Tapi regulasi compliance tetap harus kita jalankan walaupun tempatnya sama,”

tambahnya.

PLTU Cirebon berlokasi di Desa Kanci, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Cirebon. PLTU tersebut dibangun dengan skema Independent Power Producer (IPP), yakni dikelola oleh PT Cirebon Electric Power.

PT Cirebon Electric Power merupakan konsorsium dari PT Indika Energy Tbk 20%, Marubeni Corporation 32,5%, Korea Midland Power Co 27,5%, dan Samtan Co Ltd 20%.

Sebelumnya saat meresmikan PLTU Cirebon unit 1, Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan direksi dari PT Cirebon Electric Power sudah bicara dengan dirinya terkait rencana ekspansi PLTU Cirebon.

“Minggu lalu direksinya bicara kepada saya, lokasi sudah ada. Secara logika, silakan. Tapi tetap harus mengajukan proposalnya dulu sampai itu ditandatangan. Tapi kelihatannya prosesnya kan tinggal mengulang,” ujar Wacik.

Dengan ekspansi ini, total kapasitas PLTU Cirebon akan bertambah menjadi 1.660 MW. Wacik mengatakan pemerintah mendukung sepenuhnya jika investor ingin terus membangun pembangkit listrik baru mengingat kebutuhan listrik ke depannya akan terus meningkat.

Di sisi lain Wishnu menambahkan kehadiran PLTU Cirebon bisa mengisi kekosongan pembangkit listrik dengan kapasitas besar yang berada di tengah Pulau Jawa.

“Kenapa di Cirebon? Jadi kan PLN punya kekuatan di Jatim dan Jakarta. Tapi di tengah Jawa terjadi kekosongan. Jadi kehadiran PLTU Cirebon ini juga untuk menyeimbangkan seluruh jaringan Jawa-Bali,” jelasnya.

bird

PEMBANGKIT LISTRIK: Indika Energy Operasikan PLTU Senilai US$850 Juta Di Cirebon

 

Maman Abdurahman & Hedi Ardia

Kamis, 18 Oktober 2012 | 16:15 WIB

bisnis indonesia

CIREBON–PT Indika Energy Tbk meresmikan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Cirebon senilai US$850 juta yang digarap melalui konsorsium bersama Marubeni Corporation, Korea Midland Power Company dan Samtan Co. Ltd.

Pembangkit listrik ini akan menghasilkan listrik berkapasitas 5.500 GWh per tahun. Proyek ini dibangun di atas lahan seluas 87 hektare di Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon dengan skema Independent Power Producer (IPP) yang melibatkan pengelola PT Cirebon Elektric Power.

Wakil Presiden Direktur PT Cirebon Elektric Power Eddy Danu mengatakan keberadaan PLTU Cirebon secara nyata akan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan khususnya untuk daerah Jawa-Bali.

“Kalau pasokan listrik terjamin, pastinya akan meningkatkan keyakinan investor untuk menanamkan modal di daerah [Jawa-Bali],” katanya usai peresmian PLTU Cirebon, Kamis (18/10). (ilustrasi: antara foto)

PLTU Cirebon secara teknologi menjadi pioner dalam penggunaan super critical boiler technology yang mampu mengolah kalori rendah yang melimpah di Tanah Air.

Limbah dari PLTU Cirebon sirkulasinya sudah dijamin ramah lingkungan karena telah menggunakan sistem pendingin dengan cooling tower sehingga sisa air pendingin yang dibuang ke laut tidak berbeda temperaturnya dengan temperatur laut.

“Setelah beroperasi, PLTU Cirebon akan membutuhkan bahan baku [batu bara] sebanyak 2,8 juta ton per tahun atau dapat mengurangi potensi penggunaan BBM sebesar 950 juta liter per tahun,” tuturnya. (k3/k6/yus)

double arrow picSMALL

PLTU CIREBON UNIT I: Batu bara dipasok Kideco & Adaro

Vega Aulia Pradipta

Kamis, 18 Oktober 2012 | 12:22 WIB

bisnis indonesia

CIREBON: Kideco dan PT Adaro Indonesia memasok kebutuhan batu bara PLTU Cirebon unit 1 berkapasitas 660 MW sebanyak 2,85 juta ton per tahun.

Amin Subekti, Komisaris PT Cirebon Electric Power selaku pengembang PLTU Cirebon mengatakan kebutuhan batu bara per tahun itu sekitar 10%.

“Kebutuhan batu baranya 2,85 juta ton per tahun disuplai oleh Kideco dan Adaro,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara peresmian PLTU Cirebon unit 1 berkapasitas 660 MW di Cirebon hari ini, Kamis (18/10).

Amin mengatakan nilai proyek PLTU Cirebon adalah sebesar US$850 juta. Biaya tersebut dibagi antara pemegang saham dan dukungan dana dari JBIC, K-EXIM, serta didukung oleh bank komersial lainnya.

Pemegang saham PT Cirebon Electric Power terdiri dari PT Indika Energy Tbk 20%, Marubeni Corporation 32,5%, Korea Midland Power Co 27,5%, dan Samtan Co Ltd 20%.

Osamu Shimbara, Direktur Keuangan PT Cirebon Electric Power mengatakan IPP ini dibentuk pada April 2007.

Selanjutnya pada Agustus 2007, mereka menandatangani perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan PLN selama 30 tahun.

“Selanjutnya pada April 2008 dimulai pekerjaan konstruksi pembangkit dan mulai beroperasi pada 27 Juli 2012,” ujarnya.

Amin menambahkan memang seharusnya PLTU Cirebon mulai beroperasi pada Oktober tahun lalu sesuai target yang diberikan ke EPC kontraktor.

Namun dalam perjanjian PPA, PLN mengharuskan PLTU Cirebon beroperasi mulai Maret 2013.

“Jadi sebenarnya kami masih on schedule, tidak bisa dikatakan terlambat juga,” ujar Amin.

Ada pun harga listrik yang dijual ke PLN sebesar US$4,43 sen per kWh. Amin mengatakan kehadiran PLTU ini akan memperkuat keandalan sistem Jawa-Bali. (ra)

Emoticons0051

cadangan batubara … 260413_180616

buttrock

reuters: Indonesia could exhaust its economically retrievable coal reserves by 2033, a study by PriceWaterhouseCoopers released on Monday showed.

Indonesia is among the world’s top exporters of thermal coal, but its output has slipped in recent years as plummeting prices of the power station fuel have forced miners to cut costs.

The PwC study is based on information from 25 coal mining companies representing around 80 percent of Indonesia’s output, and looked into the availability of domestic coal for the 35 gigawatts of power stations Indonesia hopes to build by 2019.

Cost cuts by miners have included reducing exploration and stripping ratios – the amount of dirt removed to expose mineable coal, PwC Indonesian advisory chief Mirza Diran told reporters.

Exploration to find new coal reserves has pretty well stopped,” Diran said, adding that these two factors had reduced the lifespan of the country’s coal mines.

Based on government data, Indonesia had around 32.3 billion tonnes of coal reserves in 2014. However, declining stripping ratios and profitability have led to a drop in coal reserves of 30 to 40 percent, Diran said, noting that the survey found coal reserves of between 7.3 billion and 8.3 billion tonnes.

In these circumstances, Indonesia’s coal reserves could be depleted between 2033 and 2036, he said.

“There is a possibility that national coal reserves … will not be enough to supply 20 gigawatts of power stations for 25-35 years,” Diran said, referring to the portion of the 35-gigawatt programme that is expected to be coal-fueled.

Coal miners’ profitability – as reflected in earnings before interest, taxes, depreciation and amortisation (EBITDA) – declined by 60 percent to $2.5 billion in 2014 from $6.5 billion 2011 among the group of miners studied, Diran said.

As a result, in 2015 the companies’ spending had fallen by around 80 percent to $400 million from the $1.9 billion spent in 2012.

“Our survey indicates this decline will continue with a (further) 10 to 20 percent decline in 2016.”

Responding to the findings, the Indonesian Coal Mining Association urged the government to lock in measures to set coal prices based on miners’ costs.

Association chairman Pandu Sjahrir said he hoped such a pricing policy would help stimulate investment in exploration and stabilise the economy, as well as secure coal reserves for the country’s power stations. (Reporting by Agustinus Beo Da Costa; Writing by Fergus Jensen; Editing by Dale Hudson)

lol

TEMPO.CO, Jakarta – Pakar LNG Yoga Soeprapto mengatakan cadangan sumber energi Indonesia tidak sebanding dengan jumlah penduduknya. “Indonesia bukan negara yang kaya sumber daya energi,” kata Yoga saat memberi keterangan pers di kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman di Jakarta, Selasa, 22 Desember 2015.

Berdasarkan asumsi datanya, ia mengatakan cadangan minyak Indonesia hanya 0,36 persen dari 99,64 persen cadangan dunia, sementara batu bara 0,55 persen dari 99,45 persen cadangan dunia. Sedangkan gas alam hanya 1,53% dari 98,47 persen cadangan dunia. “Cadangan tersebut kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk, we are nothing,” katanya.

Ia mengatakan kebijakan energi di Cina dan Indonesia berbeda 180 derajat. “Di sana, mereka tidak pernah mengajari anak-anaknya bahwa Cina kaya sumber energi. Makanya, mereka mau membayar energi dengan sistem mereka, tapi mereka lebih maju,” kata Yoga.

Ia menganggap, dengan cadangan gas alam yang makin sedikit, Indonesia malah merencanakan ekspor. “Kita ini agak lucu, ada bahan baku dan energi dalam negeri, tapi diekspor, lalu impor lagi. Makanya PDB kita rendah. Ekspor gas alam, tapi lalu impor amonia, etanol, petrokimia,” ucap Yoga.

Terkait dengan pengelolaan Lapangan Gas Masela-Abadi, Yoga menyarankan strategi di sana harus ditempatkan dalam konteks yang komprehensif dan terintegrasi. “Harus dilihat lebih luas, tidak hanya persoalan di laut atau di darat, apalagi diambil kebijakannya oleh negara,” tuturnya.

“Ini kesempatan emas untuk mempertahankan energi nasional dan mengembangkannya. Ini harus diletakkan dalam bingkai SDA sebagai pendorong perekonomian nasional dan wilayah,” katanya.
ARKHELAUS W

Emoticons0051

COLUMN-Asia’s coal appetite still defying forecasts for drop: Clyde Russell
Tue, Apr 23 2013

–Clyde Russell is a Reuters market analyst. The views expressed are his own.–

By Clyde Russell

LAUNCESTON, Australia, April 23 (Reuters) – Asia’s coal markets are starting to resemble Waiting for Godot, Samuel Beckett’s absurdist play where the main characters wait in vain for something that doesn’t happen.

In coal’s case, the market is expecting demand, and by extension, prices, to drop amid anticipated slower economic growth in the region and rising electricity generation from alternative sources.

The problem is that so far coal imports by the big three Asian consumers, China, Japan and South Korea, are increasing, defying forecasts for the past several months of an imminent slowdown.

It’s not only that overall coal imports are gaining, it’s also that some suppliers are gaining market share, most oddly Australia, which is one of the highest-cost producers in the region.

China’s coal imports jumped 20.2 percent in March from a year earlier to 20.52 million tonnes, and at 63.796 million tonnes are up 27.3 percent in the first quarter from the same period in 2012.

Japan’s imports were 15.821 million tonnes in March, an annual gain of 5.8 percent and the fiscal year that ended in March saw imports total 106.29 million tonnes, a record high and up 4.5 percent on the prior fiscal year.

South Korea’s imports in March were 9.7 million tonnes, up 1.6 percent from the same month a year earlier, although year-to-date imports were down 3.1 percent, at 28.779 million tonnes.

The overall picture that emerges is that China and Japan, Asia’s top coal importers, are increasing purchases and South Korea, the third-ranked, is holding up well.

The obvious answer to why this is the case is that prices are low, with the regional benchmark Newcastle spot price dropping 2.7 percent to $86.64 a tonne in the seven days to April 19 from a week earlier.

While this up from the three-year low of $80.82 a tonne reached in October last year, it’s also down from the 2013 peak of $96.09 from Feb. 8, and 38 percent below the post-2008 recession high of $136.30 from January 2011.

Lower prices have encouraged buying by China, where imported coal has been cheaper on a delivered basis than much of the domestic supply.

However, this situation may be about to turn, with coal stockpiles at utilities said to be ample and declining domestic prices reducing the competitiveness of cargoes from overseas.

In Japan, utilities boosted coal-fired power use by 3.1 percent in March from a year earlier, while the use of all other fuels declined.

But cheaper crude oil and liquefied natural gas prices may tempt some switching, thereby lowering coal demand.

Nonetheless, the key for coal remains price, and for as long as it remains cheaper than the alternatives, imports may well hold up.

But if price is the key, that doesn’t explain Australia’s ability to increase market share this year in some key markets.

China imported 27.737 million tonnes of coal from the world’s largest exporter in the first quarter, a surge of 74 percent over the same period in 2012.

In contrast,

imports from Indonesia, the biggest shipper of thermal coal used in power plants, gained 18.5 percent in the first quarter.

Part of the Australia gains can be put down to Mongolia’s woes, with imports by China from its landlocked northern neighbour slumping 20.3 percent in the first quarter.

This showed up in the coking coal data, where imports of the fuel used in steel-making from Australia jumped 107 percent in the first quarter and those from Mongolia plunged 35 percent.

This boon for Australian producers may also be coming to an end, with Mongolia’s Tavan Tolgoi mine resuming shipments after suspending deliveries in January, when the state-owned firm said the cost of production was below the price being paid by China.

Another major Mongolian producer, Rio Tinto’s SouthGobi Resources, has also resumed operations after being forced by the government to suspend mining in the face of a takeover bid from China’s state-owned Chalco, which was abandoned last September in the face of political opposition.

The resumption of Mongolian supplies is almost certain to displace Australian coking coal, which was more than double the price in March, according to Chinese customs data.

But Australia also boosted its share of non-coking, bituminous coal to China, which gained 77.8 percent in the March quarter, while imports from Indonesia rose 48.3 percent.

This happened even though China customs data showed that Australian bituminous supplies cost $102.9 a tonne and Indonesian only $78.47 a tonne.

While the Australian coal most likely is of a higher calorific value, it would be logical for Chinese buyers to gravitate toward the cheaper supplies, especially as coal-fired generation comes under pressure from rising hydro output.

This means that Australia, the relative winner in the first quarter in supplying China, may struggle to repeat that performance, even if coal imports do continue to defy expectations and hold up.

But the chances are that if economic momentum, particularly in China, continues to fade, coal imports will ease, with lower prices the only remedy to keeping volumes healthy. (Editing by Clarence Fernandez)

gifi

CMS’ coal stockpiles back to 40 days of supply, plant utilization rising

Louisville, Kentucky (Platts)–25Apr2013/423 pm EDT/2023 GMT

CMS Energy’s coal inventories have returned to target levels and its coal-fired power plants are being dispatched more often because rising natural gas prices have made them more competitive, officials said Thursday.

“A year ago, inventory and coal piles were double of what we expected them to be, and obviously that was because of a mild winter [of 2011-12] and a lot of switching from coal to gas going on,” Tom Webb, chief financial officer of Jackson, Michigan-based CMS, the parent company of Consumers Energy, told a first-quarter analysts earnings conference call.

“We’re down from over 60 days of stockpiles a year ago to the 40-day zone, which is where we’d like to be,” he added.

Neither Webb nor CMS president and CEO John Russell indicated if CMS intends to buy more coal anytime soon.

Webb said the company’s coal procurement team “did an outstanding job of working with our suppliers on the rail side and other suppliers to figure out ways to optimize [2012’s bulging inventories] and get better economics for our customers and not take as much coal as we were scheduled to take.”

2012’s scorching Midwest summer also helped “to get us closer to target inventory levels,” he said. “We’re closer to normal and it’s not a worry for us right now.”

CMS owns an about 6,200-MW generation fleet, most of which is coal-fired. In recent years, the company has switched to low-sulfur Western coal at all of its baseload plants.

According to Russell, CMS’ coal plants “begin to be in the money” and are “dispatched ahead of gas” when gas prices range between $2.50/MMBtu and $3/MMBtu. Gas prices are currently “well above that,” he said. The NYMEX May gas futures contract settled Thursday at $4.167/MMBtu.

Russell said the capacity factor for the company’s coal plants has increased to 64% in 2013 from 56% in 2012.

–Bob Matyi, newsdesk@platts.com
–Edited by Keiron Greenhalgh, keiron_greenhalgh@platts.com

doraemon

Miners lead European shares higher on stimulus expectations
12:29pm EDT

By David Brett

LONDON, April 25 (Reuters) – Demand for equities remained robust as Europe’s top shares rose for the fifth straight session on Thursday, supported by central bank stimulus and boosted by results and M&A speculation.

The FTSEurofirst 300 climbed 8.82 points, or 0.7 percent, to 1,200.64, heading back towards five-year highs of 1,207 seen in late March.

Recent weak global economic data including record-high jobless figures from Spain on Thursday has sparked expectations of more stimulus from central banks.

“Overall investors see the potential for new measures and the distortion of global valuations as a reason to hold dogmatically onto their equities,” said Guy Foster, head of portfolio strategy at Brewin Dolphin.

“Shares are seen as a yield asset class with risks skewed to the upside. Bonds have lost their appeal for the opposite reason.”

Low returns on top-rated government bonds are leading central banks to take on more risk in their reserve portfolios, with almost two-thirds more inclined to invest in equities compared with a year ago, a survey showed.

The prospect of more efforts to stimulate the economy helped lift heavily shorted miners, which climbed 2.4 percent, tracking higher commodity prices.

“Commodities are up, shorts had been accumulated in resources, energy and cyclicals and this is reversing, plus one or two companies are beating numbers,” OliveTree Financial Group strategist Simon Maughan said.

Kazakh-focused miner Kazkhmys rallied 4.3 percent after first-quarter copper output rose almost 12 percent year-on-year.

Kazakhmys’ update helped boost troubled part-owner ENRC , which is being formally investigated by Britain’s Serious Fraud Office on allegations of fraud, bribery and corruption.

ENRC, which is the second most-shorted stock on the FTSE 100 according to data from Markit and the subject of a potential bid from a group of key shareholders, rose 3 percent.

The mining sector remains down about 15 percent so far this year as broader concerns over profits, costs and demand from China weigh on the sector.

RANDSTAD RALLY

Dutch staffing firm Randstad rallied 7.8 percent on signs of recovery in Spain and Portugal in recent weeks, and an improvement in other European markets.

Meanwhile persistent bid speculation helped heavyweight British mobile telecoms firm Vodafone add 1.7 percent.

Reports said Verizon Communications has hired advisers to prepare a possible $100 billion bid to take full control of Verizon Wireless from its UK partner.

Fiat climbed 3.8 percent after reports the Italian car maker is getting closer to tightening its grip on Chrysler and listing a merged group in New York.

With equities in demand, financial services firms, which include asset managers such as Aberdeen and Provident Financial, rose 1.7 percent.

aksi korporasi indy … 040912_030516

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan tambang batu bara berkapitalisasi pasar Rp2,56 triliun, PT Indika Energy Tbk., mengantongi kontrak jasa pertambangan dan jasa sewa perlengkapan dari PT Mitra Abdi Mahakam senilai US$108 juta setara dengan Rp1,4 triliun.

Sekretaris Perusahaan Indika Energy Dian Paramita mengatakan kontrak tersebut diperoleh melalui anak usaha perseroan, PT Multi Tambangjaya Utama. Penandatanganan kontrak dilakukan pada Jumat (29/4/2016) di kantor Multi Tambangjaya Utama (MUTU).

“Lingkup pekerjaan yag disepakati a.l. pengelolaan pertambangan batu bara di wilayah konsesi MUTU,” katanya dalam keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia, Selasa (3/5/2016).

Wilayah konsesi MUTU, sambungnya, terletak di Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Selatan. Jangka waktu pekerjaan disepakati selama enam tahun sejak 2016 hingga 2021.

Manajemen emiten bersandi INDY itu mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/Capex) tahun ini senilai US$40,7 juta, lebih rendah 30,6% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu US$58,7 juta.

Target produksi juga dipangkas 20% menjadi 32 juta ton hingga 33 juta ton batu bara dari realisasi tahun lalu 40 juta ton. Kuartal I/2016, perseroan mendulang rugi bersih US$4,85 juta dibandingkan dengan laba pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$11,62 juta.

 

JAKARTA. PT Petrosea Tbk (PTRO) mendapatkan kontrak baru dalam pengerjaan proyek tambang batubara. PTRO baru saja menandatangani perjanjian pemindahan lapisan tanah penutup dan pengangkutan batubara dengan PT Anzawara Satria.

Direktur PTRO Johanes Ispurnawan mengemukakan, penandatanganan perjanjian itu dilakukan pada 11 Januari lalu. Masa kontrak berlaku selama 36 bulan dengan nilai kontrak mencapai Rp 622,09 miliar. “Pekerjaan tersebut akan dimulai pada awal 2016,” ujar Johanes, Rabu (13/1).

Anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) ini memang bergerak di bisnis tambang, rekayasa dan konstruksi, serta jasa lepas pantai. Sementara Anzawara Satria merupakan perusahaan pertambangan batubara yang berlokasi di Kalimantan Selatan.

Pada Oktober 2015, PTRO juga mendapatkan kontrak pemindahan lapisan tanah penutup dengan PT Indoasia Cemerlang yang berlaku selama 11 bulan. Nilai proyek tersebut mencapai Rp 313,14 miliar dan sudah mulai digarap sejak kuartal IV-2015.

Pada tahun lalu, INDY menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk PTRO mencapai US$ 60 juta hingga US$ 70 juta. PTRO mendapatkan alokasi terbesar karena tengah membangun pelabuhan di kawasan Kariangau, Tanjung Batu, Kalimantan Timur.

Kinerja PTRO masih terkena dampak dari lesunya bisnis pertambangan akibat penurunan harga komoditas. Sepanjang kuartal ketiga tahun lalu, pendapatan PTRO menurun 37,8% year on year (yoy) dari US$ 264,6 juta menjadi US$ 164,5 juta.

Pendapatan terbesar emiten ini berasal dari bisnis penambangan, yakni sebesar US$ 118,16 juta. Kemudian bisnis jasa menyumbang US$ 25,1 juta, rekayasa dan konstruksi sebesar US$ 20,9 juta, dan sektor lain-lain sebesar US$ 337.000.

PTRO membukukan beban bunga dan keuangan sebesar US$ 6,5 juta. Pendapatan yang menurun dan masih tingginya beban menyebabkan PTRO menderita kerugian US$ 1,38 juta hingga September 2015. Padahal di periode yang sama tahun sebelumnya, PTRO masih membukukan laba bersih sebesar US$ 3,1 juta.

http://investasi.kontan.co.id/news/ptro-meraih-kontrak-rp-622-miliar
Sumber : KONTAN.CO.ID

 

Topsaham- PT Indika Energy Tbk (INDY) menyatakan, anak usahanya yaitu PT Prasarana Energi Cirebon (PEC) akan membeli 1.050 saham (42%) kepemilikan  PT Bayu Inti Permata (BIP) yang terdapat di PT Cirebon Energi Prasarana (CEPR).

CEPR adalah perusahaan yang didirikan untuk rencana pengembangan proyek PLTU Cirebon berkapasitas 1X1000 MW, yang merupakan ekspansi dari proyek PLTU Cirebon berkapasitas 1X660 MW (Cirebon-1) yang sudah ada dan berlokasi di Cirebon, Jawa Barat.

Sebagai rencana proyek ekspansi, maka para pemegang saham di CERP merupakan perusahaan yang ditunjuk oleh para sponsor yang hampir saham dengan para spondor di proyek Cirebon-1.

“Sesuai dengan rencana masuknya para pemegang saham lainnya ke CEPR, maka kepemilikan saham PEC di CEPR dari semula 42% akan terdilusi menjadi 25%,” ujar Sekretaris Perusahaan Dian Paramita dalam suratnya yang disampaikan ke BEI, Kamis (8/10).

PEC merupakan anak usaha Indika di mana 100% saham di dalam PEC dimiliki perseroan melalui PT Prasarana Energi Indonesia.

PEI adalah anak usaha Indika di mana 100% saham di dalam PEI dimiliki Indika melalui PT Intika Multi Energi International dan PT Indika Energy Infrastructure.

BIP merupakan anak usaha PT Indika Mitra Energi di mana 100% saham di dalam BIP dimiliki oleh PT Indika Mitra Energi, yang merupakan pemegang saham utama Indika.
http://www.topsaham.com/new1/index.php?option=com_content&view=article&id=13558:indika-energy-beli-42-saham-bayu-inti&catid=34:sektorriil&Itemid=56
Sumber : TOPSAHAM.COM

JAKARTA – PT Indika Energy Tbk (INDY) menggandeng konsorsium Marubeni Corporation, Korea Midland Power, dan Samtan Corporation untuk membangun pembangkit listrik (power plant) di Cirebon, Jawa Barat. Total nilai investasi ditaksir mencapai US$ 1,2 – 1,4 miliar.

 

Direktur Utama Indika Energy Wishnu Wardhana mengatakan, pembangkit listrik tersebut merupakan extension atau tambahan dari pembangkit yang sudah ada di lokasi yang sama. Adapun kapasitas ditargetkan sebesar 1.000 megawatt (MW).

 

“Kesepakatan finansial diharapkan rampung pada akhir tahun ini. Indika berharap memperoleh sekitar 25 – 30% kepemilikan dalam proyek ini,” kata Wishnu di sela acara World Economic Forum (WEF) on East Asia 2015 di Jakarta, Selasa (21/4).

 

Saat ini, Indika sudah mengoperasikan satu pembangkit listrik di Cirebon dengan kapasitas sebesar 660 MW. Pembangkit listrik ini juga dibangun oleh konsorsium yang sama. Indika menguasai sekitar 20%, Marubeni Corporation sebesar 32,5%, dan Korea Midland Power Co sebesar 27,5%.

 

Wishnu mengatakan, proyek ini menunjukkan komitmen perseroan mendukung pemerintah dalam percepatan pembangunan infrastruktur. Dalam lima tahun mendatang, pemerintahan baru Jokowi berharap dapat menambah kapasitas terpasang listrik nasional sebesar 35 ribu MW. “Sebanyak 10 ribu MW akan dibangun pemerintah, sementara sisanya 25 ribu oleh swasta. Indika berharap dapat mengambil bagian dari program ini,” ucap dia.

 

Sepanjang 2014, Indika Energy membukukan pendapatan sebesar US$ 1,11 miliar atau naik 28,5% dari posisi tahun sebelumnya sebesar US$ 863,39 juta. Meski naik, perseroan masih mengalami rugi bersih sebesar US$ 27,5 juta.

 

Rugi bersih yang dialami perseroan disebabkan kenaikan beban pajak menjadi US$ 28,19 juta pada 2014, dari posisi US$ 11,25 juta pada 2013. Sementara itu, rugi sebelum pajak perseroan turun tajam menjadi US$ 2,3 juta, dari rugi sebesar US$ 42,54 juta di 2013.

 

Adapun total aset perseroan per Desember 2014 menjadi US$ 2,29 miliar, atau turun tipis dari posisi aset sebesar US$ 2,31 miliar pada akhir 2013.

 

Baru-baru ini, Indika memberikan tambahan pinjaman sebesar US$ 65 juta kepada anak usahanya di sektor perdagangan batubara, Indika Capital Investments Pte. Ltd yang berkedudukan di Singapura.

 

Sekretaris Perusahaan Indika Energy Dian Paramita pernah mengatakan, dana tersebut akan digunakan ICI untuk menunjang kegiatan usahanya di bidang perdagangan batubara. Pinjaman akan ditarik dalam beberapa tahapan. Sumber dananya berasal dari penarikan fasilitas perbankan Indika Energy.

 

Menurut Dian, pinjaman tambahan dilakukan dengan pertimbangan bahwa ICI mempunyai kemampuan dalam hal aktivitas pemasaran hasil tambang batubara dan kekuatan jaringan antara perusahaan tambang dengan konsumen. ICI berdomisili di Singapura dan 100% sahamnya dikuasai Indika Energy melalui anak usahanya yang lain, yaitu PT Indika Indonesia Resources. (*)

 

http://id.beritasatu.com/energy/konsorsium-indika-bangun-pembangkit-us14-m/114135
Sumber : INVESTOR DAILY

 

JAKARTA kontan. PT Indika Energy Tbk (INDY) memberi tambahan pinjaman untuk anak usahanya, Indika Capital Investments Pte. Ltd (ICI). Pinjaman tambahan itu senilai US$ 65 juta yang akan dilakukan dengan beberapa tahap.

“Ini untuk menunjang kebutuhan ICI dalam menjalankan kegiatan usahanya di bidang perdagangan batubara,” ujar Dian Paramita, Sekretaris Perusahaan INDY dalam keterangan resmi, Selasa (3/3).

Dana untuk penambahan pinjaman itu berasal dari penarikan fasilitas perbankan INDY yang sudah ada sebelumnya. Sebenarnya, INDY tidak memiliki banyak ekspansi di bisnis batubara karena perseroan memprediksi pasar batubara masih belum akan pulih.

Namun, INDY berharap produksi batubara tahun ini bisa stabil. Paling tidak produksi batubara tahun ini bisa sama dengan produksi tahun 2014 lalu sebesar 40 juta ton. Lantaran itu, INDY akan banyak melakukan efisiensi.

Wishnu Wardhana, Direktur Utama INDY, pernah mengatakan,  harga batubara tahun ini masih akan berada di kisaran US$ 63 per ton. Karena itulah, ia juga meramal, pendapatan dan bottom line INDY belum akan berubah banyak dari tahun lalu.

Efisiensi yang dilakukan INDY ini terlihat dari belanja modal perseroan yang akan dipangkas. Belanja modal INDY hanya dipatok di bawah US$ 100 juta, lebih rendah dari target tahun lalu sebesar US$ 113,5 juta. Hal ini karena INDY lebih memilih menyimpan dana kas yang besar di tengah pelemahan harga batubara.

INDY berharap bisa menurunkan cost margin dengan berhemat. Selain menahan ekspansi, INDY juga akan mengurangi stripping dan melakukan renegosiasi dengan kontraktor. INDY juga terus memantapkan diversifikasi bisnis selain batubara.

Tahun ini, INDY membidik untuk membangun Independen Power Producer (IPP) sebesar 1.000 megawatt (MW). Mega proyek ini merupakan salah satu upaya INDY untuk memanfaatkan peluang dari ekspansi pemerintah memenuhi kebutuhan listrik 35.000 MW. Dengan kapasitas tersebut nilai investasi proyek IPP itu berkisar US$ 1,2 miliar.

Proyek dengan nilai investasi jumbo itu tidak akan dikerjakan oleh INDY sendirian. Perseroan kemungkinan akan melakukan penjajakan dengan beberapa partner strategis. Di situ, INDY hanya akan mengambil porsi sekitar 20%-30% dari proyek tersebut.

Editor: Yudho Winarto

 

PT Petrosea Tbk (PTRS) menyewa ruang kantor milik PT Tripatra (TRIS) di Singapura sebesar
Rp8,928 miliar selama tiga tahun.

Seperti dikutip dari prospektus yang diterbitkan, Selasa (4/9/2012), ruangan yang disewa PTS
seluas 2.936 feet yang terletak di Suntec Tower 2, Singapura.

PTRS dan TRIS adalah perusahaan terkendali dari PT Indika Energy Tbk (Indika) sehingga
merupakan transaksi afiliasi
,” ujar perseroan.(okezone/hla)